Khutbah Jumat: Apa yang Harus Dilakukan Setelah Ramadhan?
Oleh: Admin
Editor: Admin
Oleh: KH Ahmad Mulki Sobri, Sekretaris Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Tangerang
Khutbah I
اَلْحَمْدُ
لِلّٰهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوْذُ بِاللّٰهِ مِنْ
شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللّٰهُ
فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ،
وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ.
اَللّٰهُمَّ
صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلٰى آلِهِ وَصَحْبِهِ
أَجْمَعِيْنَ.
أَمَّا بَعْدُ،
فَيَا عِبَادَ اللّٰهِ أُوْصِيْكُمْ وَاِيَّايَ بِتَقْوَى اللّٰهِ تَعَالٰى
وَطَاعَتِهِ بِاِمْتِثَالِ أَوَامِرِهِ وَاجْتِنَابِ نَوَاهِيْهِ. قَالَ اللّٰهُ
تَعَالٰى فِيْ كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ : قال الله تعالى:
(فَاسْتَقِمْ
كَمَآ اُمِرْتَ وَمَنْ تَابَ مَعَكَ وَلَا تَطْغَوْاۗ اِنَّهٗ بِمَا تَعْمَلُوْنَ
بَصِيْرٌ)
Ma’asyiral Muslimin
Rahimakumullah,
Marilah kita
senantiasa meningkatkan ketakwaan kita kepada Allah SWT dengan menjalankan
seluruh perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya. Ketakwaan inilah
sebaik-baik bekal hidup di dunia dan keselamatan di akhirat.
Allah SWT berfirman dalam
surat Al-Baqarah ayat 197:
...وَتَزَوَّدُوْا
فَاِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوٰىۖ وَاتَّقُوْنِ يٰٓاُولِى الْاَلْبَابِ
“… Bawalah bekal,
karena sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa. Dan bertakwalah kepada-Ku
wahai orang-orang yang mempunyai akal sehat!”
Ma’asyiral Muslimin
Rahimakumullah,
Kita sekarang
berada di akhir bulan Ramadhan. Hari-hari Ramadhan yang penuh berkah akan
berlalu. Malam-malam yang dihiasi dengan qiyam, tilawah, doa dan
tangisan di hadapan Allah akan meninggalkan kita.
Menjelang
perpisahan itu, ada sebuah pertanyaan penting untuk kita renungkan: Apa yang
harus kita lakukan setelah Ramadhan? Apakah ibadah kita akan ikut pergi bersama
Ramadhan? Dan apakah ketaatan kita hanya menjadi ibadah musiman?
Jamaah
Jumat yang Dimuliakan Allah,
Ketahuilah bahwa
Allah yang kita sembah di bulan Ramadhan adalah Allah yang sama di bulan-bulan
lainnya.
Ramadhan memang
akan berlalu, tetapi kewajiban untuk taat kepada Allah tidak pernah berlalu.
Allah SWT
berfirman:
وَاعْبُدْ
رَبَّكَ حَتّٰى يَأْتِيَكَ الْيَقِيْنُ
“Dan sembahlah
Tuhanmu sampai yakin (ajal) datang kepadamu.” (QS.
Al-Hijr: 99)
Ketahuilah, bahwa ibadah
dalam Islam bukanlah amalan yang dibatasi oleh musim tertentu atau momentum
sesaat. Ia bukan hanya milik bulan Ramadhan, bukan pula hanya milik hari-hari
tertentu ketika semangat sedang tinggi.
Pada hakikatnya,
ibadah adalah perjalanan seumur hidup seorang hamba kepada Allah. Selama napas
masih berhembus dan jantung masih berdetak, selama itu pula kewajiban seorang
mukmin adalah beribadah dan mendekatkan diri kepada Allah SWT.
Penggalan ayat di atas
memberikan pesan yang sangat tegas bahwa ibadah tidak memiliki garis akhir
dalam kehidupan manusia kecuali ketika kematian datang menjemput.
Artinya, seorang
mukmin tidak boleh merasa cukup dalam beribadah. Tidak ada istilah pensiun dari
ketaatan, dan tidak ada masa berhenti dari kebaikan.
Oleh karena itu,
seorang muslim tidak boleh hanya rajin beribadah ketika Ramadhan tiba, lalu
kembali lalai setelah Ramadhan berlalu.
Jika seseorang hanya
mengenal Allah pada waktu-waktu tertentu, maka sesungguhnya ia belum memahami
hakikat penghambaan yang sebenarnya.
Ma’asyiral Muslimin
Rahimakumullah,
Para ulama sholeh
terdahulu bahkan memberikan nasihat yang mendalam, bahwa barang siapa menyembah
Ramadhan, maka Ramadhan telah berlalu. Namun barang siapa menyembah Allah, maka
Allah Maha Hidup dan tidak akan pernah mati.
Oleh karena itu,
setelah Ramadhan berlalu, semangat ibadah tidak boleh ikut berlalu. Justru
Ramadhan seharusnya menjadi madrasah yang melatih kita untuk terus menjaga
shalat, memperbanyak sedekah, membaca Alquran, memperbaiki akhlak, serta
memperkuat hubungan dengan Allah dan sesama manusia.
Sungguh merugi jika
seseorang hanya menjadi hamba yang rajin beribadah pada musim tertentu. Sebab
kehidupan ini adalah ladang amal yang waktunya sangat terbatas. Setiap detik
yang berlalu adalah kesempatan untuk menambah bekal menuju akhirat.
Maka selama hayat
masih dikandung badan, selama pintu taubat masih terbuka, selama kesempatan
masih Allah berikan, jangan pernah berhenti untuk beribadah. Teruslah mendekat
kepada Allah, hingga tiba saat ajal datang dan perjalanan ibadah kita di dunia
benar-benar berakhir.
Jamaah
Jumat Rahimakumullah,
Ramadhan bukan
sekadar bulan ibadah, tetapi madrasah yang mendidik jiwa kita. Di bulan
Ramadhan kita belajar menahan lapar dan dahaga, menahan amarah, menahan lisan
dari perkataan buruk, memperbanyak sedekah, serta mendekatkan diri kepada Alquran.
Rasulullah SAW
bersabda:
إِذَا
جَاءَ رَمَضَانُ فُتِحَتْ أَبْوَابُ الْجَنَّةِ وَغُلِّقَتْ أَبْوَابُ النَّارِ
وَصُفِدَتِ الشَّيَاطِينُ
“Apabila
datang bulan Ramadhan, pintu-pintu surga dibuka, pintu-pintu neraka ditutup,
dan setan-setan dibelenggu.” (HR Bukhari dan Muslim)
Ramadhan adalah
bulan penuh rahmat dan kesempatan emas untuk memperbanyak amal saleh. Ramadhan
juga memberikan kesempatan besar untuk memperbaiki diri. Oleh karena itu, seorang mukmin seharusnya memanfaatkan bulan ini sebaik-baiknya untuk
mendekatkan diri kepada Allah, memperbanyak ibadah, serta memperbaiki diri
sebelum kesempatan itu berlalu.
Lalu selama ini apakah
Ramadhan telah benar-benar mengubah kita?
Apakah setelah
Ramadhan kita menjadi lebih rajin shalat, lebih lembut hati, lebih peduli kepada
sesama, lebih dekat kepada Alquran ?
Jika jawabannya
iya, maka itulah tanda keberhasilan Ramadhan kita. Para ulama mengatakan:
مِنْ عَلَامَةِ
قَبُوْلِ الْحَسَنَةِ الْحَسَنَةُ بَعْدَهَا
“Di antara
tanda diterimanya sebuah kebaikan adalah adanya kebaikan setelahnya.”
Sekali lagi, jika
setelah Ramadhan kita masih rajin shalat berjamaah, masih membaca Alquran,
masih gemar bersedekah, maka itu adalah tanda bahwa Ramadhan kita diterima oleh
Allah.
Sebaliknya, jika
setelah Ramadhan kita kembali kepada kemaksiatan, kembali meninggalkan shalat,
kembali jauh dari Alquran, maka di sini kita perlu khawatir terhadap diri kita
sendiri yang mungkin menjalani Ramadhan tanpa makna sama sekali.
Jamaah
Jumat yang Dimuliakan Allah,
Adapun hal
terpenting setelah Ramadhan adalah istiqamah. Hal ini sebagaimana disebutkan
dalam firman Allah SWT yang berbunyi:
فَاسْتَقِمْ
كَمَآ اُمِرْتَ وَمَنْ تَابَ مَعَكَ وَلَا تَطْغَوْاۗ اِنَّهٗ بِمَا تَعْمَلُوْنَ
بَصِيْرٌ
“Maka tetaplah
engkau (Muhammad) (di jalan yang benar), sebagaimana telah diperintahkan
kepadamu dan (juga) orang yang bertaubat bersamamu, dan janganlah kamu
melampaui batas. Sungguh, Dia Maha Melihat apa yang kamu kerjakan.” (QS. Hud: 112)
Makna istiqamah
tidak berarti harus melakukan amalan besar setiap hari. Tetapi bisa juga melakukan amal kebaikan, meskipun kecil, tetapi dilakukan secara terus-menerus.
Rasulullah SAW
sendiri telah memberikan teladan bahwa ibadah adalah konsistensi sepanjang
hayat. Dalam sebuah hadis disebutkan bahwa amalan yang paling dicintai oleh
Allah adalah amalan yang dilakukan secara terus-menerus walaupun sedikit.
Rasulullah SAW
bersabda:
أَحَبُّ
الْأَعْمَالِ إِلَى اللّٰهِ أَدْوَمُهَا وَإِنْ قَلَّ
“Amalan yang
paling dicintai Allah adalah amalan yang terus menerus meskipun sedikit.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Jadi nilai-nilai ibadah
hakikatnya bukanlah terletak hanya pada banyaknya, tetapi pada
kesinambungannya.
Seorang mukmin yang
sejati adalah mereka yang menjaga ketaatan dalam setiap fase kehidupan. Ketika
muda maupun tua, ketika lapang maupun sempit, ketika sehat maupun sakit.
Maka setelah
Ramadhan, jangan tinggalkan shalat berjamaah, jangan tinggalkan Alquran, jangan
berhenti bersedekah, jangan putus silaturahmi. Karena orang yang benar-benar
beribadah itu tidak tergantung hanya di bulan Ramadhan, tetapi sepanjang
hidupnya.
Ma’asyiral Muslimin
Rahimakumullah,
Setelah Ramadhan,
jangan biarkan hati kita kembali keras. Jangan biarkan masjid kembali sepi.
Jangan biarkan Alquran kembali berdebu di rak rumah kita.
Perhatikanlah,
bahwa sungguh Allah telah memberikan peringatan kepada kita:
وَلَا
تَكُونُوا كَالَّتِي نَقَضَتْ غَزْلَهَا مِنْ بَعْدِ قُوَّةٍ أَنكَاثًا
“Janganlah
kamu seperti perempuan yang menguraikan kembali benang yang telah dipintalnya
dengan kuat.” (QS.
An-Nahl: 92)
Ini maknanya,
secara tersirat, adalah jangan sampai kita membangun kebaikan selama Ramadhan,
tetapi kemudian merusaknya kembali setelah Ramadhan.
Ma’asyiral
Muslimin Rahimakumullah,
Setelah Ramadhan,
marilah kita tetap menjaga semangat Ramadhan dengan menjaga shalat tepat waktu,
memperbanyak membaca Alquran, memperbanyak sedekah, menjaga ukhuwah dan
silaturahmi, serta selalu berusaha agar ibadah kita menjadi lebih baik dari
hari-hari sebelumnya.
Semoga Allah SWT
membimbing kita semua agar mampu menjalani hidup sesuai tuntunan Alquran dan
sunnah Rasulullah SAW.
بَارَكَ اللّٰهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْأَنِ الْكَرِيْمِ
وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْم،
وَتَقَبَّلَ اللّٰهُ مِنِّي وَمِنْكُمْ تِلَاوَتَهُ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ
الْعَلِيْمُ
أَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللّٰهَ الْعَظِيْمَ
لِي وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ
وَالْمُؤْمِنَاتِ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ
Khutbah II
اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ وَكَفَى، وَأُصَلِّيْ وَأُسَلِّمُ عَلَى
سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ الْمُصْطَفَى، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَهْلِ الْوَفَا.
وَأَشْهَدُ أَنْ لَّا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ
أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ.
أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ،
أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيْمِ وَاعْلَمُوْا
أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ عَظِيْمٍ، أَمَرَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَالسَّلَامِ
عَلَى نَبِيِّهِ الْكَرِيْمِ فَقَالَ: إِنَّ ٱللَّهَ وَمَلَٰٓئِكَتَهُ يُصَلُّونَ
عَلَى ٱلنَّبِيِّۚ يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ صَلُّواْ عَلَيۡهِ
وَسَلِّمُواْ تَسۡلِيمًا.
اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ
سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ
سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ
سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ
سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ، فِيْ الْعَالَمِيْنَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.
اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ
والْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، اللهم
ادْفَعْ عَنَّا الْبَلَاءَ وَالْغَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالْفَحْشَاءَ
وَالْمُنْكَرَ وَالْبَغْيَ وَالسُّيُوْفَ الْمُخْتَلِفَةَ وَالشَّدَائِدَ
وَالْمِحَنَ، مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، مِنْ بَلَدِنَا هٰذَا خَاصَّةً
وَمِنْ بُلْدَانِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً، إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ.
عِبَادَ اللهِ، إِنَّ ٱللَّهَ يَأۡمُرُ بِٱلۡعَدۡلِ وَٱلۡإِحۡسَٰنِ وَإِيتَآيِٕ ذِي ٱلۡقُرۡبَىٰ وَيَنۡهَىٰ عَنِ ٱلۡفَحۡشَآءِ وَٱلۡمُنكَرِ وَٱلۡبَغۡيِۚ يَعِظُكُمۡ لَعَلَّكُمۡ تَذَكَّرُونَ، فَاذكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ.