Lewati ke konten utama
Selasa, 30 Juni 2026 / 14 Muharam 1448 H
Jadwal memuat...
Opini

Syekh Nawawi Al-Bantani Sejajarkan Sains dan Teknologi dengan Ilmu Agama

8 menit baca 374 dibaca
Fathurrochman Karyadi, M.A

Oleh: Fathurrochman Karyadi, M.A

Filolog, Penulis Novel “Ziarah” (2025), dan Pengurus Masyarakat Pernaskahan Nusantara (Manassa)

Diunggah: Admin Admin Editor: Admin
Manuskrip Risalah Mabadi al-Ulum karya Syekh Nawawi al-Bantani
Manuskrip Risalah Mabadi al-Ulum karya Syekh Nawawi al-Bantani al-Jawi. Foto: Istimewa
Bagikan:

Jakarta, MUI Digital — Sesama pencinta situs-situs repository manuskrip dan arsip klasik, saya dan beberapa teman amat sedih melihat beberapa situs sudah kedaluwarsa dan tak bisa diakses.

Ketika kesedihan kami ini belum menghasilkan solusi sepenuhnya, beruntung ada beberapa teman yang kreatif melakukan tangkapan layar, mengunduh, membuat kompilasi individu, atau aktivitas lainnya sehingga arsip digital itu selamat. Termasuk dengan cara memuatnya di media sosial yang ternyata bisa bertahan cukup lama.

Di antara file yang terselematkan itu berjudul Risalah Mabadi’ al-‘Ulum  karya Syekh Muhammad Nawawi al-Bantani, seorang ulama Makkah asal Tanara, Banten (1813-1897).

Dalam manuskrip yang diduga belum selesai itu, tersimpan kejutan besar yang jarang dibicarakan. Syekh Nawawi menuliskan delapan belas cabang ilmu yang seharusnya dikuasai oleh umat Islam. Jumlah ini melampaui apa yang biasa disebut oleh para ulama lain di zamannya maupun sebelumnya, yang umumnya hanya menyebut sepuluh atau empat belas cabang.

Tidak banyak orang yang menyadari bahwa seorang kiai kampung dari Nusantara telah memiliki visi keilmuan yang begitu luas dan terbuka di saat arus pemikiran Islam yang cenderung memilah antara ilmu agama dan ilmu umum.

Baca juga: Islam tak Berhenti pada Simbol

Syekh Nawawi mencantumkan daftar tafsir dan hadis sebagai yang pertama, dua ilmu yang menjadi fondasi pemahaman keagamaan. Lalu ia melanjutkan ke ushul fiqh dan faraidh, yang mengatur hukum dan pembagian warisan. Yang menarik, setelah ilmu-ilmu keagamaan itu, ia langsung melompat ke nahwu dan sharaf, dua cabang linguistik Arab yang menjadi alat untuk memahami teks suci.

Tidak berhenti di situ, Syekh Nawawi memasukkan khat atau seni tulis, lalu trilogi retorika yakni ma'ani, bayan, dan badi'. Lalu mantiq atau logika. Kemudian ia menyebut tasyrih atau anatomi, thibb atau kedokteran, dan nujum atau ilmu perbintangan.

Di bagian akhir, ia mencantumkan bahasa, arudh dan qawafi sebagai ilmu persajakan, serta ditutup dengan siyasah wa akhlak, yakni politik dan etika.

Menurut saya, yang membuat daftar ini luar biasa adalah posisi sejajar yang diberikan Syekh Nawawi kepada ilmu-ilmu yang hari ini kita sebut sebagai sains dan teknologi, dengan ilmu-ilmu agama yang dianggap sakral.

Dalam kerangka berpikir Syekh Nawawi, seorang muslim yang ideal tidak cukup hanya menguasai tafsir dan hadis. Seorang muslim perlu mengenal cara kerja tubuh manusia, langit yang berputar di atasnya, dan cara menyusun kebijakan publik yang bermoral. Ini bukan sekadar daftar mata pelajaran atau kurikulum. Ini adalah pernyataan epistemologis yang melampaui zamannya.

Bagi Syekh Nawawi al-Bantani, segala ilmu berasal dari Tuhan yang sama, dan memilah-milahnya ke dalam kategori sakral dan profan adalah sebuah kekeliruan.

Jika kita menyelami lebih dalam, kita akan menemukan bahwa Syekh Nawawi ternyata tidak perlu menyebut ilmu matematika secara gamblang. Ia sudah memasukkannya melalui pintu belakang.

Dalam ilmu faraidh, misalnya, terdapat perhitungan aljabar yang rumit untuk membagi harta warisan secara proporsional. Dalam ilmu perbintangan atau astronomi, ada geometri bola dan trigonometri yang digunakan untuk menentukan arah kiblat dan waktu shalat dengan presisi. Bahkan dalam anatomi, terdapat pengukuran proporsi tubuh yang menunjukkan keteraturan ciptaan.

Ilmu hitung tidak diajarkan sebagai sesuatu yang berdiri sendiri, melainkan sebagai alat yang meresap ke dalam setiap disiplin yang membutuhkannya. Ini bukan kekurangan, melainkan justru kecerdasan sistematis yang jarang dimiliki oleh para penyusun kurikulum di zamannya.

Baca juga: Ketika Sayyid Utsman Bin Yahya Menyalakan Sebuah “Lampu”

Daya Saing Bangsa

Salah satu cabang yang paling menarik untuk direnungkan adalah ilmu khat atau kaligrafi. Banyak orang menganggapnya hanyalah seni tulisan indah, aktivitas estetis yang elok untuk dipandang mata. Terlepas dari itu, Syekh Nawawi melalui rujukan kepada para ulama sebelumnya, memahami khat sebagai sesuatu yang lain.

Ada ungkapan klasik yang sangat terkenal dalam kalangan ahli kaligrafi, “al-khattu handasah ruhaniyyah dhaharat bi alah jismaniyyah,” yang berarti kaligrafi adalah geometri spiritual yang muncul melalui alat jasmani. Dalam kalimat pendek ini terkandung kesatuan yang utuh antara sains, teknologi, seni, dan matematika. Ada geometri yang mengatur proporsi setiap huruf, ada teknik dalam penggunaan pena dan tinta, ada keindahan yang menyentuh jiwa, dan ada ukuran-ukuran presisi yang membuat tulisan menjadi padu.

Syekh Nawawi sudah mengenalkan apa yang kini kita sebut STEAM (science, technology, engineering, art, and math), jauh sebelum istilah itu populer di dunia pendidikan Barat. Ia melihat bahwa seni dan teknik tidak pernah terpisahkan dalam peradaban Islam yang agung.

Demikian pula dengan ortografi, atau sistem ejaan yang benar. Syekh Nawawi tidak menyebutnya sebagai cabang tersendiri, bukan karena ia melupakannya, tetapi karena ia telah menyebarkannya ke dalam beberapa ilmu lain.

Cara menulis huruf dengan benar masuk ke dalam khat. Kapan sebuah alif ditulis atau dihilangkan masuk ke dalam nahwu. Perbedaan ejaan antardialek masuk ke dalam lughah atau bahasa. Dengan cara ini, Syekh Nawawi menunjukkan bahwa klasifikasi ilmu tidak harus selalu dibuat secara terpisah-pisah seperti yang kita lihat di universitas modern. Ia lebih memilih pendekatan tematik dan fungsional, di mana setiap ilmu memiliki tugasnya masing-masing dan saling melengkapi.

Semua ini mengarah pada satu pemahaman, Syekh Nawawi al-Bantani adalah seorang intelektual yang sangat terbuka dan berwawasan maju. Ia tidak terjebak dalam dikotomi yang sering menghantui pemikiran Islam modern, yaitu pemisahan antara ilmu agama dan ilmu dunia.

Baginya, anatomi dan kedokteran sama pentingnya dengan tafsir dan hadis, karena semuanya pada akhirnya bertujuan untuk memahami ciptaan Tuhan dan menjalani kehidupan yang bermakna.

Baca juga: Buya Hamka dan Kisah Pulau Serendib

Tidak heran jika di antara delapan belas cabangnya, Syekh Nawawi menempatkan siyasah wa akhlaq di posisi paling akhir, seolah ingin mengatakan bahwa segala ilmu yang dipelajari pada akhirnya harus bermuara pada bagaimana manusia mengelola kekuasaan dengan adil dan membersihkan jiwanya dengan etika.

Tentu sangat menarik seandainya kerangka berpikir ini diadopsi oleh sistem pendidikan kita hari ini. Di Indonesia, kita masih sering melihat jurang yang dalam antara pesantren dan sekolah umum, antara fakultas agama dan fakultas sains, antara hafalan Alquran dan laboratorium riset.

Kementerian Agama cenderung berkonsentrasi pada ilmu-ilmu keislaman klasik, sementara Kementerian Pendidikan baik Dasar dan Menengah maupun Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, lebih fokus pada kompetensi teknis dan vokasi. Keduanya jarang bertemu dalam ruang dialog yang produktif.

Para intelektual muslim di kampus-kampus Islam pun sering terbelah, ada yang merasa cukup dengan penguasaan kitab kuning, ada pula yang terjun habis-habisan ke sains modern tanpa pernah menghubungkannya dengan tradisi keilmuan Islam.

Syekh Nawawi menunjukkan bahwa jalan tengah itu ada dan pernah dijalankan. Ia tidak memilih lebih utama mana antara menjadi ulama atau ilmuwan, keduanya sama-sama memiliki objek yang satu. Ia menafsirkan 30 juz Alquran dan mengupas hadis, tetapi ia juga mendorong umat Islam untuk menelaah langit dan tubuh manusia.

Syekh Nawawi menguasai retorika dan logika, tetapi tidak lupa bahwa semua itu harus dilandasi oleh akhlak yang mulia. Inilah yang membuat gagasannya begitu relevan untuk dibaca ulang untuk menyiapkan generasi emas 2045 dan daya saing bangsa ke depan.

Baca juga: Surat Cinta Spiritual dari Syekh Yusuf Al-Makassari untuk Karaeng Karunrung

Melanjutkan Upaya Syekh Nawawi  

Tantangan bagi kita, generasi muda muslim Indonesia, adalah menyusun kembali langkah-langkah peradaban ini dengan bahasa dan kebutuhan zaman kita sendiri.

Kita tidak bisa lagi membiarkan anak-anak kita tumbuh dengan pemahaman yang picik, mahir menghitung tetapi buta etika, atau sebaliknya, alim dalam agama tetapi gagap menghadapi teknologi.

Kita perlu merancang ulang kurikulum pesantren agar di dalamnya diajarkan anatomi dan astronomi. Kita perlu mendorong sekolah umum agar logika dan politik etis menjadi bagian dari pelajaran sehari-hari.

Kita perlu mengakhiri perdebatan usang tentang mana yang lebih penting, ilmu agama atau ilmu umum, karena Syekh Nawawi telah menyelesaikannya hampir dua ratus tahun yang lalu dengan caranya yang elegan dan tegas.

Yang lebih penting lagi, kita perlu mengembalikan semangat bahwa ilmu itu satu. Ketika seorang mahasiswa kedokteran mempelajari jantung manusia, ia sedang membaca ayat-ayat Tuhan yang terhampar di dalam tubuh.

Ketika seorang astronom mengamati pergerakan bulan, ia sedang menyaksikan tanda-tanda kekuasaan yang sama yang juga tertulis dalam ayat-ayat suci.

Ketika seorang politisi merumuskan kebijakan publik, ia sedang menjalankan bagian dari misi kenabian untuk menegakkan keadilan.

Tidak ada satu pun dari aktivitas ini yang terlepas dari nilai-nilai spiritual, selama kita menjalaninya dengan kesadaran dan akhlak yang benar.

Baca juga: Menggagas Repositori Intelektualisme Muslim Nusantara

Manuskrip Syekh Nawawi yang tidak selesai itu mungkin tidak pernah ditamatkan oleh tangannya sendiri, tetapi kita bisa melanjutkannya dengan cara kita sendiri.

Kita bisa menambahkan cabang-cabang ilmu baru yang lahir di zaman ini, seperti data science, kecerdasan buatan, dan bioteknologi, ke dalam kerangka yang sudah ia bangun. Kita bisa menunjukkan bahwa semangat itu hidup dan berkembang, tidak pernah ketinggalan zaman. Adapun yang diperlukan hanyalah keberanian untuk melihat warisannya dengan mata segar, dan kemauan untuk mengkaji ulang apa yang selama ini kita anggap sudah final.

Alhasil, Syekh Nawawi al-Bantani mengajarkan kepada kita bahwa menjadi muslim yang cerdas adalah sebuah keniscayaan, bukan pilihan.

Kita tidak bisa mengaku beriman kepada Tuhan yang menciptakan alam semesta yang rumit ini, tetapi malas untuk mempelajari ciptaan-Nya.

Kita tidak bisa mengaku mencintai Rasulullah SAW yang diutus sebagai rahmat bagi seluruh alam, tetapi tidak peduli dengan kesejahteraan alam dan cara mengatur dunia.

Delapan belas cabang ilmu yang ditulis Syekh Nawawi al-Bantani adalah sebuah ajakan untuk berjalan keluar dari keterbatasan dan memasuki keluasan pengetahuan yang Tuhan sediakan untuk kita. Sekarang terserah kepada kita, apakah akan mengambil ajakan itu atau membiarkannya berdebu dan lapuk dimakan waktu?!

Mungkin inilah pelajaran berharga dari upaya penyelamatan file-file lama itu, sebuah manuskrip yang nyaris hilang, yang hanya terselamatkan oleh tangkapan layar dan unggahan media sosial, ternyata mampu mengingatkan kita pada sebuah visi keilmuan yang selama ini terabaikan. 

Isi artikel tidak merepresentasikan suara redaksi serta merupakan opini sekaligus tanggungjawab penulis sepenuhnya.