Lewati ke konten utama
Selasa, 21 Juli 2026 / 6 Shafar 1448 H
Jadwal memuat...
Opini

Renungan Muslim Fans Bola Pasca Perhelatan Piala Dunia

6 menit baca 144 dibaca
Ahmad Yani, M.A

Oleh: Ahmad Yani, M.A

Anggota Komisi Fatwa MUI Pusat/Dosen Fakultas Syariah dan Hukum UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Diunggah: Admin Admin Editor: Admin
Renungan Muslim Fans Bola Pasca Perhelatan Piala Dunia
Foto: AI Modified/ChatGPT
Bagikan:

Jakarta, MUI Digital — Perhelatan akbar sepak bola dunia 2026 usai sudah. Dukung-mendukung pun perlahan mulai reda. Tentu saja, dalam setiap kompetisi hanya akan melahirkan dua kemungkinan, menang atau kalah, juara atau tersisih.

Sebagaimana kita saksikan, Pildun 2026 memberikan angin segar buat tim Spanyol. Lewat perjuangan, kegigihan dan soliditas tim, Spanyol tampil ke atas mimbar dan menggondol tropi kebanggaan yang menjadi obsesi setiap tim sepak bola. Spanyol mampu menggulingkan langganan juara dunia, Argentina, dengan skor akhir 1-0.

Euforia Piala Dunia FIFA selalu menyisakan lebih dari sekadar skor dan trofi. Ia melahirkan kisah, emosi, dan yang paling mencolok, lahirnya idola baru. Dari lapangan hijau, nama-nama seperti Lionel Messi, Cristiano Ronaldo, Kylian Mbappé, Erling Haaland, bahkan bintang muda Spanyol Lamine Yamal menjelma menjadi simbol kekaguman lintas batas.

Lalu, di balik kekaguman itu, muncul pertanyaan penting, sebagai seorang muslim yang juga merupakan fans sepak bola, bagaimanakah Islam memandang cinta terhadap idola, dan apa implikasi psikologisnya?

Baca juga: Intimidasi dan Kekerasan Verbal: Antara Lisan dan Kezaliman

Antara Cinta dan Idola

Alquran tidak menafikan adanya rasa cinta dalam diri manusia. Bahkan, cinta adalah fitrah. Allah berfirman, yang artinya: “Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini…” (QS. Ali ‘Imran: 14)

Ayat tersebut menunjukkan bahwa ketertarikan, termasuk pada figur publik, adalah bagian dari naluri manusia. Namun, Islam memberi batas tegas agar cinta tidak melampaui proporsinya. Dalam ayat lain Allah berfirman, yang artinya: “Dan di antara manusia ada orang yang menjadikan tandingan-tandingan selain Allah; mereka mencintainya sebagaimana mencintai Allah…” (QS. Al-Baqarah: 165)

Sementara itu, Rasulullah SAW juga bersabda, yang artinya: “Tidak sempurna iman seseorang hingga Allah dan Rasul-Nya lebih ia cintai daripada selain keduanya.” (HR Bukhari dan Muslim)

Bagi seorang muslim, harusnya hadis ini menjadi parameter, cinta kepada idola boleh saja, selama tidak menggeser posisi cinta utama kepada Allah dan Rasul-Nya.

Ulama klasik seperti Imam al-Ghazali memandang cinta sebagai kekuatan jiwa yang bisa mengangkat atau menjatuhkan manusia. Dalam Ihya’ Ulumuddin, beliau menjelaskan bahwa cinta yang benar adalah yang mendekatkan kepada kebaikan dan kebenaran.

Lebih lanjut, al-Ghazali menegaskan  bahwa hati manusia itu seperti cermin, ia akan memantulkan apa yang paling sering dihadapkannya. Jika yang dihadapkan adalah tokoh-tokoh duniawi tanpa filter nilai, maka hati perlahan akan menjadikan mereka sebagai pusat orientasi hidup.

Sementara, Ibnu Qayyim al-Jauziyyah menegaskan bahwa tidak ada cinta yang berlebihan terhadap makhluk, sebab lambat laun dapat menjerumuskan pada “penghambaan hati” yang keliru.

Lebih tajam lagi, Ibnu Qayyim mengingatkan, cinta berlebihan kepada makhluk sebagai “‘ubudiyyah al-qalb, penghambaan hati yang tidak disadari. Seseorang mungkin tidak bersujud kepada idolanya, tetapi ia mengikuti, membela, dan bahkan mengorbankan nilai demi idolanya.

Di era kontemporer, ulama seperti Syekh Yusuf al-Qaradawi mengingatkan bahwa mengagumi prestasi seseorang adalah hal yang wajar, bahkan bisa menjadi motivasi, selama tidak menimbulkan fanatisme buta (ta’asshub) atau melanggar nilai syariat.

Lebih lanjut, Syekh Yusuf al-Qaradawi memberi jalan tengah bahwa mengagumi prestasi adalah bagian dari apresiasi terhadap keunggulan manusia, tetapi fanatisme yang menutup akal adalah bentuk penyimpangan.

Baca juga: Ketika Debat Kehilangan Adab

Fenomena Idola Pasca Piala Dunia

Setiap Piala Dunia menciptakan narasi heroik. Seorang pemain bisa berubah dari atlet biasa menjadi ikon global dalam semalam. Media sosial mempercepat proses ini, klip gol, selebrasi, hingga kehidupan pribadi pemain tersebar luas dan membangun kedekatan semu dengan penggemar.

Fenomena ini melahirkan apa yang disebut “kultus selebritas”, di mana penggemar tidak hanya mengagumi kemampuan, tetapi juga meniru gaya hidup, cara berpikir, bahkan nilai-nilai sang idola.

Dalam psikologi, kecenderungan mengidolakan figur publik dapat dijelaskan melalui beberapa konsep. Pertama, identifikasi diri (self-identification), pada konsep ini, seseorang melihat idola sebagai representasi dari diri ideal yang ingin dicapai. Kedua, hubungan parasosial (parasocial relationship), yaitu hubungan satu arah di mana penggemar merasa dekat secara emosional dengan figur publik yang tidak mengenalnya. Dan ketiga, kebutuhan akan makna dan inspirasi, di mana kisah perjuangan atlet memberi harapan dan motivasi

Di sisi lain, psikologi juga memperingatkan beberapa risiko, antara lain, kehilangan identitas diri karena terlalu meniru, kekecewaan ekstrem ketika idola gagal atau terlibat skandal, dan fanatisme yang bisa memicu konflik sosial. Ini semua perlu diantisipasi dengan pemahaman yang baik, bahwa berlebihan dalam hal mencintai maupun membenci akan berdampak buruk pada diri seseorang.

Baca juga: Cinta dan Kekerasan: Kelembutan Hati yang Berubah Arah

Menjaga Keseimbangan

Piala Dunia bukan sekadar turnamen, ia adalah “pabrik emosi” global. Dalam waktu singkat, ia mampu mengangkat seorang pemain menjadi legenda, mengubah narasi hidup seseorang menjadi mitos inspiratif, dan membentuk loyalitas jutaan manusia

Di era digital, proses ini semakin cepat dan dalam. Media sosial menciptakan ilusi kedekatan. Seorang penggemar merasa “mengenal” idolanya, padahal hubungan itu sepenuhnya satu arah. Akibatnya, lahirlah generasi yang lebih hafal statistik pemain daripada ayat-ayat kehidupan, lebih emosional saat tim kalah daripada saat kehilangan arah hidup, dan lebih cepat membela idola daripada membela kebenaran.

Tentu ini bukan sekadar fenomena olahraga, tetapi fenomena pergeseran orientasi jiwa. Pada dasarnya, mengidolakan pemain bola bukanlah sesuatu yang harus dihindari sepenuhnya. Tidak menutup kemungkinan, ia bisa menjadi pintu inspirasi.

Disiplin latihan, kerja keras, dan ketangguhan mental para atlet adalah nilai positif yang layak diteladani. Lalu di sini, Islam dan akal sehat mengajarkan keseimbangan. Artinya, boleh kita mengagumi prestasinya, tapi bukan mengultuskan pribadinya. Boleh kita ambil nilai baiknya, tapi bukan menelan semuanya tanpa kritik yang selektif. Begitu juga, boleh kita menjadikan idola sebagai motivasi, tapi bukan tujuan hidup.

Sepak bola tidak salah. Idola pun tidak salah. Yang menjadi persoalan adalah ketika kita berhenti pada kekaguman, bukan melanjutkannya menjadi kesadaran.

Baca juga: Membaca Akar Masalah dan Meminimalisir Konflik Sosial

Seharusnya, kita belajar dari Messi, ketekunan tanpa putus asa. Dari Ronaldo, Mbappé, Haaland, keberanian dan kepercayaan diri. Lalu, belajar dari Lamine Yamal, kegigihan berjuang meraih cita-cita berbasis spiritualitas yang kokoh sejak usia dini. Begitu juga dari setiap pertandingan sepak bola, bahwa kemenangan butuh proses perjuangan dan pengalaman jatuh bangun yang panjang, yang tentunya tidak mudah.

Namun lebih dari itu, sebagai seorang muslim, kita harus ingat, mereka para atlet sepak bola hebat juga  manusia yang bisa salah, jatuh, dan fana. Sedangkan hati kita terlalu berharga untuk ditambatkan pada sesuatu yang tidak abadi.

Pasca perhelatan Piala Dunia berakhir, dunia mungkin kembali tenang, tetapi jejak idola tetap hidup di hati para penggemar. Lalu di sinilah ujian mungkin dimulai kembali, apakah kekaguman itu menjadi energi untuk bertumbuh, atau justru menjauhkan dari jati diri dan nilai-nilai spiritual?

Sepak bola boleh melahirkan idola, tetapi hati tetap harus tahu kepada siapa cinta tertinggi bermuara: Allah SWT.

Isi artikel tidak merepresentasikan suara redaksi serta merupakan opini sekaligus tanggungjawab penulis sepenuhnya.