Umar Ibnu Khattab, Pribadi Hasil Tempaan Rasulullah SAW
Ibnu Mufti
Penulis
Hakim
Editor
Jakarta, MUI Digital — Suatu ketika Umar Ibnu Khattab memasuki ruangan nabi, dia melihat punggung nabi berbekas tikar yang dipakainya untuk tidur.
Dia mulai
menangis, dan bertanya, “Mengapa kaisar-kaisar Bizantium dan Persia hidup mewah
dan megah, sementara engkau ya Rasulullah tidur di atas tikar yang buruk?”
Nabi menjawab,
“Tidakkah engkau setuju bahwa dunia ini adalah untuk mereka dan akhirat adalah
untuk kita?”
Bertahun-tahun kemudian, saat dia menjadi khalifah, ketika harta pusaka kedua kekaisaran itu mengalir ke perbendaharaan muslim, Umar tetap memilih hidup sederhana.
Baca juga: Kisah Islamnya Umar Bin Khattab, Pelukan Indah Ayat-Ayat Alquran
Apa yang
dicontohkan Nabi kepada Umar ini melekat kuat dalam pribadi Umar ini. Hafsah,
putrinya, pernah berkata kepadanya, “Ayah, dari waktu ke waktu utusan asing
datang dan engkau menerima duta-duta. Engkau seharusnya mengganti baju lama
dengan yang baru.”
Umar terkejut
dengan saran ini dan menjawab, “Bagaimana kau bisa tahan berpisah dengan dua
sahabatku, Nabi dan Abu Bakar? Aku harus mengikuti contoh mereka seketat
mungkin agar aku dapat bersama mereka di akhirat.”
Hasil didikan Nabi sungguh luar biasa. Dari sosok pribadi agung sahabat Rasulullah, Umar ini mampu menaklukkan hati orang-orang nonmuslim bahkan mampu menggerakkan hati mereka untuk menerima Islam.
Baca juga: Proses Pembangunan Masjid Nabawi dan Fungsinya yang Vital Awal Islam
Ketika umat Islam
menguasai Syria dan Palestina, panglimanya meminta kunci Masjid al-Aqsha.
Patriarch mengatakan kepada mereka bahwa dia akan memberikannya hanya kepada
orang yang digambarkan dalam kitab sucinya.
Saat mereka
bersitegang, Khalifah Umar dan seorang pelayannya sudah berangkat dari Madinah.
Tak ada yang tahu bagaimana dia pergi. Tetapi Patriarch dan pendeta-pendeta
tahu bahwa pemegang yang sah dari kunci itu akan datang.
Umar meminjam
seekor unta dari harta negara, dan dia bersama pelayannya bergantian
mengendarainya. Ketika panglima muslim mendengar hal ini, mereka berdoa agar
Umarlah yang mendapat giliran naik unta saat mereka menyeberang Sungai Jordan.
Mereka berpikir bahwa karena orang Bizantium biasanya membesar-besarkan pemimpinnya, Umar mungkin akan mempermalukan dirinya jika dia menuntun unta sementara pelayannya yang naik dan menyeberang sungai dengan jubah digulung ke atas.
Sesungguhnya, sebagian
besar kemegahan politik adalah tidak adil dan Umar berusaha untuk menghindarinya.
Apa yang dikhawatirkan si panglima ini terjadi. Baju Umar, yang lusuh karena perjalanan,
juga ada tambalannya.
Ketika sang
Patriarch melihat Umar dia berseru, “Inilah orang yang telah dideskripsikan
dalam kitab kami! Sekarang aku akan memberikan kunci kepadanya.”
Karena pengetahuan khusus dari kitab mereka, pendeta-pendeta itu tahu bagaimana rupa Umar dan bagaimana dia akan menyeberangi sungai. Setelah menyerahkan kunci dan Masjid al-Aqsha kepada seorang muslim ini, ternyata hal ini menyebabkan banyak orang memeluk Islam.
Baca juga: Israel Tutup Masjid Al-Aqsha, MUI: Tindakan Tersebut Bisa Picu Perang Semesta
Hidup dan
kehidupan mereka, para sahabat Nabi, tidak lepas dari hasil didikan Nabi dan
memang diperuntukkan untuk kemuliaan dan keagungan Islam. Mereka meneladani Nabi
sampai hal sekecil-kecilnya. Sampai sepeninggal Nabi, mereka mampu menyebarkan Islam
ke seluruh penjuru dunia dengan sangat cepat.
Hati dan jiwa mereka
telah menyatu dengan ajaran yang diberikan oleh Nabi. Hingga akal dan pikiran
mereka mantap menyerukan kebenaran Islam.
Tujuan hidup
mereka jelas tanpa ada keraguan sedikit pun. Mereka hidup untuk melayani agama
Allah dan mengajak manusia kepada cahaya kebenaran. Mereka pun menjadi
mutiara-mutiara teladan sepanjang masa seperti Nabi, sang teladan utama.
Teladan Nabi
tak lekang oleh waktu dan teladan itu tak pernah kering digali dan terus
memancar seperti mata air yang terus mengalir dengan jernihnya.
Teladan nabi tersebar
dan dijaga dalam ribuan hadis yang termuat dalam kitab-kitab hadis. Para
sahabat, ulama, ilmuwan muslim, para kekasih Allah tak pernah keluar dari
teladan yang dicontohkan oleh Nabi.
Mereka mampu menggemakan kemuliaan dan keagungan Islam di seluruh penjuru bumi. Lalu bagaimana dengan kita? Sudahkah mencontoh Nabi dalam setiap aspek kehidupan kita? Wallahua’lam.