Salman Al-Farisi, Bangsa Persia, dan Karakter Keteguhan Imannya
Abd. Hakim Abidin
Penulis
Admin
Editor
Jakarta, MUI Digital — Apa yang kita saksikan belakangan ini; ketika Iran berani berdiri menghadapi tekanan geopolitik dari Amerika Serikat dan Israel, hakikatnya bukanlah fenomena yang muncul secara tiba-tiba tanpa akar sejarah.
Jika ditarik ke
belakang, bangsa Iran adalah kelanjutan dari bangsa Persia, sebuah bangsa yang
sejak dahulu dikenal memiliki karakter kuat. Merekah tangguh menjaga
kehormatan, teguh dalam prinsip, dan tidak mudah tunduk pada tekanan luar.
Karakter tersebut bisa
dinilai sebagai konstruksi modern. Tapi lebih dari itu, ini adalah jejak
panjang yang telah terpatri dalam sejarah mereka, bahkan sejak sebelum mereka
memeluk Islam.
Dalam khazanah Islam, figur sahabat yang paling menonjol dari bangsa Persia adalah Salman al-Farisi radhiyallahu 'anhu. Sosok ini lebih dari sekadar sahabat biasa. Salman adalah simbol pencarian kebenaran yang panjang, melelahkan, dan penuh pengorbanan.
Baca juga: Keteguhan Iman Muslim Persia dan Isyarat Tafsir Surat Muhammad
Dalam riwayat panjang
yang diriwayatkan oleh Ibnu Abbas, sebagaimana dicatat dalam Sirah Ibnu
Hisyam, disebutkan bahwa Salman sendiri pernah menceritakan asal-usulnya.
عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَبَّاسٍ، قَالَ: حَدَّثَنِي
سَلْمَانُ الْفَارِسِيُّ، وَأَنَا أَسْمَعُ مِنْ فِيهِ، قَالَ: كُنْتُ رَجُلًا فَارِسِيًّا مِنْ أَهْلِ أَصْبَهَانَ مِنْ
قَرْيَةٍ يُقَالُ لَهَا جَيُّ، وَكَانَ أَبِي دِهْقَانَ قَرْيَتِهِ، وَكُنْتُ
أَحَبَّ خَلْقِ اللَّهِ إلَيْهِ، لَمْ يَزَلْ بِهِ حُبُّهُ إيَّايَ حَتَّى
حَبَسَنِي فِي بَيْتِهِ كَمَا تُحْبَسُ الْجَارِيَةُ، وَاجْتَهَدْتُ فِي
الْمَجُوسِيَّةِ حَتَّى كُنْتُ قَطْنَ النَّارِ الَّذِي يُوقِدُهَا، لَا
يَتْرُكُهَا تَخْبُو سَاعَةً
“Aku adalah seorang
lelaki Persia dari penduduk Isfahan, dari sebuah desa bernama Ji. Ayahku adalah
kepala desa kami. Aku adalah orang yang paling ia cintai. Kecintaannya kepadaku
begitu besar hingga ia mengurungku di rumah sebagaimana seorang gadis dikurung.
Aku bersungguh-sungguh dalam agama Majusi hingga aku menjadi penjaga api yang
terus menyala, tidak pernah membiarkannya padam walau sesaat.” (Sirah Ibnu Hisyam [Kairo: Musthofa al-Bab
al-Halabi wa Auladuhu], juz 1, h. 214)
Kelanjutan kisah ini
akan membuat kita tercenung, menaruh hormat atas keteguhannya dalam
mencari kebenaran.
Pemuda Persia yang Tangguh
Mencari Kebenaran
Kisah Salman al-Farisi
adalah kisah panjang tentang kegelisahan seorang pencari kebenaran yang tidak
pernah puas dengan warisan semata. Kisah ini secara utuh bisa dilihat dalam Sirah
Ibnu Hisyam.
Salman berasal dari
Persia, tepatnya dari Isfahan, dari sebuah desa bernama Jayy. Ayahnya adalah tokoh
“kepala desa” sekaligus sosok yang sangat mencintainya, sampai-sampai ia merasa
“dikurung” di rumah sebagaimana seorang gadis dijaga ketat.
Dalam lingkungan itu,
Salman tumbuh sebagai penganut Majusi yang taat, bahkan dipercaya menjaga api
suci agar tidak pernah padam.
Namun, takdir
membawanya keluar dari lingkaran sempit itu. Suatu hari, ketika ia
diperintahkan ayahnya pergi ke kebun, ia malah penasaran melewati sebuah gereja
dan mendengar lantunan ibadah kaum Nasrani. Rasa ingin tahu yang selama ini
terpendam tiba-tiba menyala. Ia masuk, melihat, lalu terpikat.
Ketika itu, dalam
hatinya, ia merasa bahwa apa yang ia saksikan terasa lebih benar daripada
keyakinan yang ia warisi. Lalu sejak saat itu, benih kegelisahan berubah
menjadi tekad. Ia pulang dengan membawa keyakinan baru. Tetapi ayahnya menolak
keras, bahkan membelenggu dan mengurungnya agar tidak terpengaruh.
Di titik inilah jalan
panjang itu benar-benar dimulai. Salman tidak tunduk pada tekanan. Ia diam-diam
menjalin hubungan dengan orang-orang Nasrani dan akhirnya melarikan diri menuju
Syam. Di sana, Salman belajar agama dari seorang uskup, tetapi ia segera
menyadari bahwa tidak semua yang berlabel agama itu jujur. Uskup tersebut
ternyata menyalahgunakan amanah.
Salman tidak berhenti
di situ. Ia terus berpindah dari satu guru ke guru lain. Perjalanannya
diteruskan dari Mosul, ke Nusaybin, hingga ke Amuriyah. Semua ini dilakukannya
demi mencari sosok yang benar-benar lurus, yang hidupnya selaras dengan
ajarannya.
Dalam setiap persinggahan, sembari belajar, Salman juga menguji, mengamati, dan menimbang. Hingga akhirnya, dari seorang alim yang terakhir, ia mendapatkan kabar yang menentukan arah hidupnya, bahwa akan datang seorang nabi di tanah Arab, membawa ajaran Ibrahim yang lurus.
Baca juga: Bahan Bakar Iman di Tengah Ancaman Krisis Dunia
Tanda-tanda seorang
nabi yang dimaksud oleh seorang alim tersebut jelas terpatri di ingatannya. Salman
mencatat bahwa sosok nabi yang digambarkan itu tidak menerima hadiah, tidak
memakan sedekah, dan memiliki tanda kenabian di punggungnya.
Bekal informasi itu
cukup untuk membuat Salman menempuh risiko besar. Ia menuju Tanah Arab, tetapi
di tengah perjalanan ia dikhianati dan dijual sebagai budak.
Takdir menentukannya
berakhir di Madinah, sebuah tempat yang ternyata kelak akan ditemuinya sosok
nabi dengan ciri-ciri sesuai dengan yang telah disebutkan oleh seorang alim kepadanya.
Ketika Nabi Muhammad SAW
hijrah ke Madinah, Salman tidak gegabah. Tekadnya menguji dengan cermat. Ia
membawa makanan sedekah, dan ternyata Nabi SAW tidak memakannya. Tidak berhenti
di sini, Salman lalu mencoba membawakan hadiah, dan ternyata Nabi memakannya
bersama para sahabat.
Puncaknya, Salman memastikan
tanda terakhir. Dan ternyata benar-benar ditemukan tanda kenabian di punggung Nabi
SAW. Akhirnya, di titik ini, pencarian panjangnya berakhir. Salman tidak lagi
ragu. Ia menangis, memeluk, dan bersaksi kepada Nabi Muhammad SAW.
Masuk Islam bukan
akhir perjuangan. Salman masih seorang budak. Namun, di bawah bimbingan Nabi SAW,
ia menebus kemerdekaannya dengan kerja keras, dibantu para sahabat. Bahkan Nabi
sendiri ikut menanam pohon-pohon kurma untuknya hingga ia benar-benar bebas.
Sejak itu, Salman
menjadi bagian dari barisan pembela kebenaran. Ia ikut dalam berbagai
perjuangan, termasuk Perang Khandaq.
Kisah ini menunjukkan
adanya transformasi jiwa yang tangguh. Salman bergerak dari keyakinan warisan
menuju keyakinan yang diperjuangkan, dari kenyamanan menuju pengorbanan, dari
kebingungan menuju kepastian.
Salman tidak
dilahirkan dalam Islam, tetapi ia sampai kepada Islam dengan kesungguhan,
kejujuran, dan keberanian menanggung konsekuensi.
Dari sini kita bisa
melihat keutamaannya. Namun demikian, sekalipun ia dan kaumnya (Persia) pernah
dipuji ketangguhannya oleh Nabi, tapi pada hakikatnya kemulian itu tidak
terletak hanya pada asal-usulnya, melainkan pada keteguhan langkahnya dalam
mencari dan memegang teguh kebenaran.
Bangsa Persia dan Peradaban
Besarnya
Bangsa Persia adalah
bangsa yang teguh pendirian dan tangguh dalam menjadi prinsip hidupnya. Jika
dikaji lebih dalam mengenai karakternya, maka akan ditemukan dalam banyak
literatur klasik gambaran mengenai hal itu.
Dalam Mu’jam
al-Buldan, wilayah فارس
(Persia) tidak digambarkan sebagai negeri biasa, melainkan sebagai salah satu
poros besar peradaban dunia lama. (Lihat Mu’jam al-Buldan [Beirut: Dar
Shadir], juz 4, h. 226-228).
Bentangnya luas, dari
Irak hingga Kirman, dari pesisir Laut India hingga wilayah Sind, menjadikannya
kawasan yang strategis sekaligus subur dalam sejarah Timur. Bahkan namanya
sendiri, yang berasal dari kata فرس, “Fars”, menunjukkan bagaimana
identitasnya terbentuk dari percampuran bahasa, sejarah, dan tradisi yang
panjang, hingga dalam sebagian riwayat disambungkan kepada keturunan Nabi Nuh
melalui jalur Sam.
Struktur wilayahnya
kokoh dan teratur. Dengan pusat di Shiraz, Persia terbagi dalam distrik-distrik
penting seperti Istakhr, Darabjird, dan Arrajan. Lanskapnya keras. Dipenuhi
pegunungan, benteng-benteng yang nyaris tak tertembus, serta sungai-sungai
besar yang menopang kehidupan.
Wilayah tersebut menunjukkan
tidak sekadar wilayah agraris belaka, tetapi juga benteng militer dan pusat
kekuatan politik. Tak heran jika penaklukannya dalam sejarah Islam berlangsung
panjang, dimulai sejak masa Umar ibn al-Khattab dan disempurnakan pada masa Usman
ibn Affan.
Lalu di dalam tubuh
besar Persia itu, ada satu organ yang paling hidup dan paling kompleks, yaitu اصبهان (Isfahan). Kota ini pada satu sisi besar secara
ukuran, tapi juga kaya dalam lapisan makna. Selain itu, dikenal juga sebagai “tanah para tentara”, yang mencerminkan watak militernya yang kuat, sejalan dengan posisinya di kawasan pegunungan yang strategis. (Lihat Mu’jam al-Buldan
[Beirut: Dar Shadir], juz 5, h. 78).
Di sisi lain, wilayah
ini juga subur dan indah. Dialiri sungai jernih, menghasilkan saffron dan madu,
serta memiliki kualitas tanah yang bisa dianggap istimewa.
Akan tetapi,
sebagaimana sering terjadi pada pusat peradaban besar, Isfahan tidak pernah
sederhana. Isfahan adalah kota yang penuh kontradiksi. Di satu sisi melahirkan
kemegahan dan ilmu, di sisi lain menyimpan catatan tentang kekikiran, konflik
sosial, bahkan pertikaian antarkelompok yang merusak dirinya sendiri.
Kota ini berubah dari Jayy menjadi kawasan Yahudiyyah setelah perpindahan penduduk pascapenaklukan Baitul Maqdis oleh Nebukadnezzar II, lalu masuk ke dalam dunia Islam melalui futuhat (penaklukan) yang memadukan kekuatan dan negosiasi.
Semua ini menunjukkan
satu hal, bahwa Isfahan adalah cermin nyata dari dinamika Persia itu sendiri,
yang kuat, kaya, tetapi di saat yang sama tidak lepas dari retakan internal.
Meski demikian, dari tanah yang keras dan penuh gejolak itulah lahir tradisi ilmu yang besar. Kota ini melahirkan ulama seperti Abu Nu’aim al-Isfahani dan banyak ahli hadis dengan sanad tinggi, misalnya Imam Bukhari (w. 256 H/870 M) imam besar dalam ilmu hadis, begitu juga Imam Muslim (w. 261 H/875 M).
Baca juga: Titik Damai Antara Ilmu Agama dan Ilmu Sains
Selain kota ini,
banyak kota lainnya di Persia yang melahirkan tokoh-tokoh besar dalam sejarah
keilmuan dunia. Sebut saja, misalnya, Ibnu Sina (w. 428 H/1037 M) sebagai tokoh
besar kedokteran dan filsafat, al-Khawarizmi (w. 232 H/847 M) pelopor aljabar
dan matematika, ar-Razi (w. 313 H/925 M) ahli kedokteran dan kimia, al-Biruni
(w. 440 H/1048 M) ilmuwan ensiklopedis dalam astronomi dan geografi, Omar
Khayyam (w. 517 H/1123 M) penyair, matematikawan dan astronom terkemuka, Nashiruddin
at-Tusi (w. 672 H/1274 M) ahli astronomi dan filsafat, dan Abdurrahman as-Sufi
(w. 376 H/986 M) ahli astronomi klasik.
Selain itu, ada juga al-Ghazali
(w. 505 H/1111 M) tokoh teologi, filsafat, dan tasawuf, al-Farabi (w. 339 H/950
M) filsuf besar dalam logika dan politik, Sibawayh (w. 180 H/796 M) pelopor
ilmu nahwu (gramatikal bahasa Arab), Mulla Sadra (w. 1050 H/1640 M) filsuf
besar dalam metafisika Islam, dan masih banyak lainnya.
Dari berbagai fakta
ini, seolah-olah sejarah hendak menegaskan bahwa kompleksitas dan konflik tidak
selalu menghancurkan. Dalam konteks tertentu justru darinya bisa lahir
kedalaman intelektual.
Karakter Keteguhan
Iman Muslim Persia
Di sini, kembali dalam
konteks membaca sosok Salman al-Farisi menjadi sangat bermakna. Salman tidak
lahir dari peradaban yang sederhana. Ia ditempa dari lingkungan yang besar
sekaligus penuh pertentangan.
Persia memberinya
watak yang tangguh, tahan uji, dan tidak mudah tunduk. Namun, watak itu sendiri sebenarnya
netral. Artinya bisa menjadi kekuatan duniawi, atau diarahkan menjadi kekuatan
iman. Salman memilih jalan yang lebih berat, dirinya melampaui lingkungannya.
Salman tidak mewarisi
kebenaran, tetapi mencarinya. Ia meninggalkan kenyamanan, menentang tekanan
keluarga, berpindah dari satu negeri ke negeri lain, hingga rela menjadi budak
demi menemukan kebenaran yang hakiki.
Salman al-Farisi
menjadi representasi nyata dari makna hadis Nabi SAW:
سَلْمَانُ مِنَّا أَهْلَ الْبَيْتِ
“Salman
adalah bagian dari kami, Ahlul Bait (keluarga Nabi).” (HR al-Hakim)
Hadis ini bisa ditemukan dalam kitab Al-Mustadrak ‘ala as-Shahihain yang diriwayatkan dari Mush’ab bin Abdillah. Riwayat ini jelas mengisyaratkan pengakuan atas kualitas iman Salman yang ditempa oleh perjuangan.
Baca juga: Solidaritas Kita pada Iran
Lebih jauh lagi,
ketika Allah berfirman dalam surat Muhammad ayat 38 tentang kemungkinan
digantinya suatu kaum dengan kaum lain yang lebih layak, penjelasan at-Thabari
menegaskan bahwa pengganti itu adalah mereka yang benar-benar menegakkan agama
tanpa kikir dan tanpa setengah hati. (Lihat dalam Jami’ al-Bayan ‘an Ta’wil
Ayi al-Qur’an [Kairo: Dar Hajr], juz 21, h. 232)
Dan ketika para
sahabat bertanya siapa mereka, Nabi SAW menunjuk Salman, bahkan menyertakan
nisbah kaumnya (Persia).
عَنْ أَبِي
هُرَيْرَةَ قَالَ: تَلَا رَسُولُ اللهِ - صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ - يَوْمًا
هَذِهِ الْآيَةَ (وَإِنْ تَتَوَلَّوْا يَسْتَبْدِلْ قَوْمًا غَيْرَكُمْ ثُمَّ لا
يَكُونُوا أَمْثَالَكُمْ) قَالُوا: وَمَنْ يُسْتَبْدَلُ بِنَا؟ قَالَ: فَضَرَبَ
رَسُولُ اللهِ - صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ - عَلَى مَنْكِبِ
سَلْمَانَ، ثُمَّ قَالَ: هَذَا وَقَوْمُهُ، هَذَا وَقَوْمُهُ.
“Diriwayatkan
dari Abu Hurairah, ia berkata: Pada suatu hari Rasulullah SAW membaca ayat
ini: ‘Dan jika kalian berpaling, niscaya Allah akan mengganti kalian dengan
kaum yang lain, kemudian mereka tidak akan seperti kalian.’ (QS. Muhammad: 38).
Lalu para sahabat bertanya: ‘Siapakah yang akan menggantikan kami?’ Kemudian
Rasulullah SAW menepuk pundak Salman Al-Farisi seraya bersabda: ‘Orang ini dan
kaumnya, orang ini dan kaumnya.’” (HR Tirmidzi)
Ini adalah sebuah
isyarat tegas bahwa dari tanah Persia yang penuh dinamika itu akan lahir
manusia-manusia yang mampu melampaui batas-batasnya.
Bahkan juga ditegaskan
oleh Nabi, bahwa jika iman berada di bintang Tsurayya, orang-orang Persia akan
bertekad meraihnya.
وَالَّذِي
نَفْسِي بِيَدِهِ لَوْ كَانَ الإِيمَانُ مَنُوطًا بِالثُّرَيَّا لَتَنَاوَلَهُ
رِجَالٌ مِنْ فَارِسَ
“Demi Dzat yang
jiwaku berada di tangan-Nya, seandainya iman itu tergantung di bintang
Tsurayya, niscaya akan diraih oleh orang-orang dari Persia.” (HR Tirmidzi)
Ini adalah pengakuan
terhadap etos, ada ketekunan, daya tahan, dan kesungguhan yang tersirat dalam
pribadi sosok Salman al-Farisi itu sendiri. Dan pada saat yang sama juga menarik
latar belakang bangsanya, Persia.
Maka, kiranya tidak
berlebihan jika dianggap seakan-akan kondisi geografis Persia yang keras, penuh
gunung dan benteng, tercermin dalam karakter manusianya. Jika mereka telah
mengarah pada kebenaran, mereka tidak mudah dipalingkan.
Rangkaian gambaran ini
menunjukkan satu kesimpulan bahwa Persia adalah peradaban besar. Lalu Isfahan menjadi
salah satu wajah kompleksnya, dan Salman al-Farisi adalah puncak
transformasinya.
Dari negeri yang kuat dan penuh kontradiksi ini, lahir seorang manusia yang menembus semua batas itu. Salman al-Farisi menjadi bukti bagian dari sejarah Persia. Dan di saat yang sama menjadi bukti bahwa kebenaran itu menuntut untuk dicari, diperjuangkan, dan dimenangkan.