Mengapa Lailatul Qadar Dirahasiakan? Ini Hikmahnya
A Zaeini Misbaahuddin Asyuari
Penulis
Hakim
Editor
Jakarta, MUI Digital — Di antara anugerah besar yang diberikan Allah SWT kepada umat Islam pada bulan suci Ramadhan adalah adanya Lailatul Qadar.
Malam ini memiliki keutamaan yang sangat agung, bahkan disebut dalam Alquran sebagai malam yang lebih baik daripada seribu bulan. Artinya, ibadah yang dilakukan pada malam tersebut memiliki nilai pahala yang luar biasa besar dibandingkan dengan ibadah pada waktu-waktu lainnya.
Menariknya, Allah SWT tidak memberitahukan secara pasti kapan malam Lailatul Qadar terjadi. Tidak ada tanggal tertentu yang ditetapkan secara tegas.
Baca juga: Doa saat Berjumpa Malam Lailatul Qadar, Lengkap dengan Artinya
Rasulullah SAW hanya memberikan petunjuk bahwa malam itu berada pada sepuluh malam terakhir Ramadhan, khususnya pada malam-malam ganjil. Hal ini tercermin dalam hadis yang diriwayatkan dari Sayyidah Aisyah radhiyallahu ‘anha:
عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا قَالَتْ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا دَخَلَ الْعَشْرُ أَحْيَا اللَّيْلَ وَأَيْقَظَ أَهْلَهُ وَجَدَّ وَشَدَّ الْمِئْزَرَ
Artinya: “Dari Sayyidah Aisyah radhiyallahu ‘anha: Ketika Rasulullah SAW memasuki sepuluh terakhir Ramadhan, maka beliau menghidupkan malam-malamnya (dengan qiyamullail) dan membangunkan keluarganya serta mengencangkan ikatan kainnya (menjauhi isterinya untuk lebih konsentrasi beribadah).” (HR Bukhari dan Muslim)
Imam an-Nawawi (wafat 676 H) menjelaskan bahwa hadis ini menjadi dalil dianjurkannya memperbanyak ibadah pada sepuluh malam terakhir Ramadhan serta menghidupkan malam-malamnya dengan berbagai bentuk ketaatan kepada Allah SWT: