Lewati ke konten utama
Senin, 6 Juli 2026 / 20 Muharam 1448 H
Jadwal memuat...
Paradigma Islam

Ketika Nama “Muhammad” Telah Dikenal dan Dipakai oleh Bangsa Arab Sebelum Fajar Kenabian

4 menit baca 1.183 dibaca
Ketika Nama “Muhammad” Telah Dikenal dan Dipakai oleh Bangsa Arab Sebelum Fajar Kenabian
Foto: Pinterest
Bagikan:

Jakarta, MUI Digital — Jauh sebelum Muhammad SAW lahir, nama itu telah bergema di telinga bangsa Arab. Dikabarkan oleh kitab suci terdahulu dan disampaikan oleh para peramal. Di balik nama ini ada kisah penantian panjang sebuah peradaban.

Para ahli sejarah mencatat bahwa orang-orang Arab pada masa pra-Islam telah mendengar sebuah kabar besar tentang akan datangnya seorang nabi dari kalangan mereka sendiri, dan nama nabi itu adalah Muhammad.

Kabar ini bersumber dari dua jalur yang berbeda namun sama-sama dipercaya saat itu, yaitu para Ahli Kitab—para cendekiawan Yahudi dan Nasrani yang menyimpan pengetahuan dari kitab-kitab mereka, serta para kahin (peramal/dukun) yang dianggap memiliki pengetahuan tentang hal-hal gaib.

Baca juga: Salman Al-Farisi, Bangsa Persia, dan Karakter Keteguhan Imannya

Dalam kitab At-Thabaqat al-Kubro, Ibnu Sa’ad memaparkan sejumlah riwayat yang menjelaskan hal tersebut secara spesifik dalam bab Dzikru man tasamma fil-jahiliyyati bi-Muhammad raja’a an tudrikahun-nubuwwatu lilladzi kana min khabariha”. (Lihat At-Thabaqat al-Kubro [Beirut: Dar al-Kutub al-’Ilmiyah], juz 1, h. 134)

Nama yang Menjadi Harapan

Respons bangsa Arab terhadap kabar ini mengungkap psikologi manusia yang universal. Ketika itu, siapa pun yang mendengar ramalan tentang seorang nabi bernama Muhammad, bergegas menamai anaknya dengan nama yang sama, berharap anak merekalah yang akan menjadi nabi itu.

Fenomena ini bisa dinilai bukan sebagai takhayul, lebih tepatnya diartikan sebagai ekspresi kerinduan mendalam sebuah kaum terhadap petunjuk Ilahi.

Kitab At-Thabaqat al-Kubro karya Ibn Sa’d merekam beberapa nama yang lahir dari penantian ini. Salah satu yang paling menarik kisahnya adalah Muhammad bin Khuza’i Hizabah, dari kabilah Bani Dzakwan, cabang Bani Sulaim.

Ia dinamai Muhammad oleh orang tuanya semata-mata karena harapan akan kenabian. Hidupnya bahkan membawanya ke Yaman, di mana ia bergabung dengan Abrahah, seorang penguasa Yaman yang terkenal dalam sejarah Arab. Muhammad bin Khuza’i Hizabah hidup di bawah naungan agama sang raja itu hingga ajal menjemputnya.

Baca juga: Salman Al-Farisi, Bangsa Persia, dan Karakter Keteguhan Imannya

Menariknya, tatkala Muhammad bin Khuza’i wafat, saudaranya, Qais bin Khuza’i, mengabadikan kenangan itu dalam bait-bait syair yang penuh kebanggaan:

فَذَلِكُمْ ذُو التَّاجِ مِنَّا مُحَمَّدٌ

وَرَايَتُهُ فِي حَوْمَةِ الْوَغَى تَخْفِقُ

“Itulah dia, sang pemilik mahkota di antara kami; Muhammad,
Panji-panjinya berkibar di tengah kecamuk peperangan."

Syair ini menunjukkan ratapan seorang saudara, sekaligus menunjukkan adanya cerminan betapa nama Muhammad telah menjadi simbol keagungan, bahkan sebelum kenabian itu benar-benar dinyatakan.

Ternyata tidak hanya di kalangan Bani Sulaim. Ibn Sa’d mencatat beberapa individu lain yang “menanggung” nama Muhammad atas dasar harapan serupa. Berikut di antaranya: Muhammad bin Sufyan bin Mujasyi’ dari Bani Tamim yang berprofesi sebagai Uskup (pendeta Nasrani), Muhammad al-Jusya’i dari Bani Sawa’ah, Muhammad al-Asadi dari Bani Asad, dan Muhammad al-Fuqaimi dari Bani Fuqaim.

Mungkin yang paling mengejutkan di sini adalah Muhammad bin Sufyan bin Mujasyi’. Ayahnya adalah seorang uskup, seorang pendeta Nasrani yang mendapat kabar dari tradisi keagamaannya sendiri tentang nabi bangsa Arab bernama Muhammad.

Alih-alih merahasiakannya, ia malah menamai putranya dengan nama itu. Ini menunjukkan, saat itu telah diyakini, bahwa ramalan tentang kedatangan nabi akhir zaman telah menembus sekat agama dan suku.

Baca juga: Ketika Seorang Filsuf Muslim Tersentuh Pendidikan Akhlak Ayahnya

Fenomena penamaan ini sepertinya bukan sekadar anekdot sejarah yang menarik. Hal ini menyingkap sesuatu yang jauh lebih menarik, yakni tentang kesadaran kolektif bangsa Arab bahwa zaman mereka adalah zaman penantian. Mereka tidak hidup dalam kevakuman spiritual. Mereka tahu dan yakin bahwa sesuatu yang besar sedang menjelang.

Dan memang, sesuatu yang besar itu pun tiba. Nabi yang sesungguhnya lahir dari rahim Sayyidah Aminah, tumbuh di padang pasir Hijaz, dan pada usia empat puluh tahun menerima wahyu pertama di Gua Hira’.

Sosoknya bukan hanya membawa nama yang telah dinanti-nantikan, lebih dari itu, ia membawa risalah yang mengubah wajah dunia. Tidak lain adalah Muhammad bin Abdillah, nabi akhir zaman, penutup para rasul, sang penunjuk jalan kebenaran dan keselamatan di dunia dan di akhirat.