Lewati ke konten utama
Selasa, 30 Juni 2026 / 14 Muharam 1448 H
Jadwal memuat...
Paradigma Islam

Ketika Seorang Filsuf Muslim Tersentuh Pendidikan Akhlak Ayahnya

3 menit baca 1.229 dibaca
Ketika Seorang Filsuf Muslim Tersentuh Pendidikan Akhlak Ayahnya
Foto: AI Modified/ChatGPT
Bagikan:

Jakarta, MUI Digital — Islam adalah jalan hidup. Hidup bukan sekadar hidup, tapi hidup yang diarahkan untuk mencapai kesuksesan di kehidupan selanjutnya, yaitu di kampung akhirat. Dunia adalah tempat menanam. Sedang masa panennya adalah di kampung akhirat kelak.

Itulah yang seharusnya mendasari kehidupan seorang muslim. Kehidupan yang dipandu oleh ajaran yang dibawa oleh Rasulullah.

Pendidikan yang dikehendaki Rasulullah bukan sekadar membuat seseorang cakap dari segi keilmuannya, tapi yang lebih penting adalah cakap dalam mencerminkan akhlak mulia dalam segala tingkah lakunya. Ajaran akhlak Rasulullah SAW inilah yang merasuk dalam jiwa ayah Muhammad Iqbal.

Baca juga: Umar Ibnu Khattab, Pribadi Hasil Tempaan Rasulullah SAW

Muhammad Iqbal adalah seorang filsuf muslim, penyair, dan intelektual yang berasal dari Pakistan. Ia dididik oleh tangan seorang sufi, yang bekerja keras demi agama dan kehidupan. Nasihat ayahnya menghunjam ke dalam sanubarinya.

Dituturkan darinya, bahwa pada suatu ketika, sewaktu melihat Muhammad Iqbal senang membaca Alquran, ayahnya berkata kepadanya: “Bila kamu ingin memahami Alquran, bacalah seakan ia diturunkan kepadamu”.

Ayahnya berusaha mendekatkan Muhammad Iqbal sedekat mungkin dengan pegangan hidup utama seorang muslim, Alquran, kitab suci yang mulia. Dalam Alquran itu bertebaran berbagai ajaran, pegangan tentang bagaimana menjalani hidup.

Tak hanya itu, ayah Muhammad Iqbal berusaha mendekatkan jiwa anaknya sedekat mungkin dengan pribadi mulia Nabinya, Rasulullah Muhammad SAW, sang teladan yang tak lekang oleh zaman.

Baca juga: Keteguhan Iman Muslim Persia dan Isyarat Tafsir Surat Muhammad

Diceritakan Muhammad Iqbal sendiri, dalam Rumuz-I Bekhudi:

Pada suatu hari, seorang peminta yang kelelahan dengan berulang-ulang mengetuk pintu. Aku pun menjadi marah. Kepalanya pun kupukul dengan sebuah tongkat. Hingga bertebaranlah apa yang ia bawa. Memang pikiran pada masa muda tidak bisa membedakan antara yang benar dan yang keliru. Kejadian ini ketahuan oleh ayah. Mukanya pun berubah menjadi kelam. Betapa sedihnya ayah pada waktu itu dan ia menangis. Aku pun menjadi gelisah.

Kemudian ayahku berkata: “Kelak, ketika umat Muhammad ini akan berkumpul di hadapan Tuhannya. Semua penakluk, para bijak, syahid, zahid, ilmuwan, durjana, dan penjahat akan dihimpun.”

“Pada waktu itu, peminta yang tiada berdosa ini akan mengadu pada-Nya. Maka, apakah yang akan kukatakan pada Nabi, apabila ia berkata kepadaku.”

“Duhai anakku. Marah Nabi yang mulia dan rasa maluku adalah rasa takut dan harapku. Berpikirlah sejenak. Ingatlah hari dihimpunnya umat manusia.”

“Duhai anakku. Lihatlah uban, kegelisahan, dan keresahanku. Janganlah kau menyiksa ayahmu ini. Dan janganlah engkau perburukkan aku di hadapan Allah.”

“Engkau cendawan pada batang al-Mushtafa. Jadilah melati dari angin musim seminya. Ambillah sebagian angin dan warna musim seminya. Tidak boleh tidak, kamu harus mendapatkan sebagian akhlaknya.”

Nasihat ini terdengar sangat mendalam dan tampak menampar pribadi Muhammad Iqbal. Dirinya menjadi sadar atas kesalahan yang ia lakukan.

Demikianlah pola pendidikan sang sufi kepada anaknya. Betul-betul menghadirkan pesona akhlak Nabinya kepada sang anak.

Baca juga: Salman Al-Farisi, Bangsa Persia, dan Karakter Keteguhan Imannya

Ketika anaknya berbuat sesuatu yang tak sesuai dengan akhlak Nabinya, ia langsung menegur seolah hari pembalasan hadir di depan matanya. Ia menangis dan mengadu kepada anaknya, ia bingung bagaimana ia menjawab pertanyaan Nabinya tentang kelakuan anaknya itu.

Visi pendidikan untuk anaknya tidak berhenti hanya untuk dunianya, tetapi lebih jauh dari itu, bagaimana ia menjalankan kehidupannya di akhirat kelak.

Apa yang dilakukan seorang ayah yang juga seorang sufi ini, patut kiranya menjadi teladan yang harus diikuti dalam mendidik seorang anak. Wallahu a’lam.