Perang Iran, Antara Narasi Armageddon dan Tanda Akhir Zaman
Oleh: Dr Yanuardi Syukur
Pengurus Komisi HLNKI MUI/Dosen Antropologi Universitas Khairun
Editor: Admin
Jakarta, MUI Digital — Perang yang meletus pada 28 Februari 2026 antara Amerika Serikat dan Israel melawan Iran tidak hanya mengguncang Timur Tengah, tetapi juga memicu perdebatan teologis yang melampaui batas-batas geopolitik.
Seperti yang dilaporkan Zachary B. Wolf di CNN (13 Maret 2026), Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth menyatakan bahwa “Tuhan Yang Mahakuasa melindungi pasukan Amerika.” Dia juga memberikan predikat kepada Iran sebagai “fanatik agama” dalam kalimatnya, “We’re fighting religious fanatics who seek a nuclear capability in order for some religious Armageddon” (Kita sedang memerangi fanatik agama yang berusaha mendapatkan senjata nuklir demi terjadinya Armageddon menurut keyakinan mereka).
Baca juga: 8 Dusta Amerika Serikat dalam Perang Iran
Hegseth tidak sekadar menggunakan bahasa
religius sebagai retorika politik. Ia sedang membangun kerangka moral yang
mengubah konflik bersenjata menjadi “misi suci”—sebuah langkah yang oleh para
pengamat disebut sebagai pengulangan kesalahan Perang Salib di abad modern.
“Keyakinan” dalam Kebijakan Luar Negeri
Fakta yang lebih mengkhawatirkan dalam
perang ini diungkap oleh Military Religious Freedom Foundation.
Dalam aturan AS, harusnya relasi antara keyakinan dan militer memang dipisahkan. Tapi belakangan hal ini diabaikan. Sarah
Shamim di Al Jazeera (4 Maret 2026), melaporkan, para komandan militer
Amerika memberi tahu pasukan bahwa perang ini adalah bagian dari “rencana
Tuhan” dan bahwa Presiden Trump telah “diurapi” oleh Yesus, (maksudnya sebagai
tokoh yang dipilih Yesus secara khusus) untuk memulai perang yang diprediksi
sebagai pemicu kedatangan Yesus yang kedua kali.
Ini mencerminkan pengaruh paham Kristen
Zionis di kalangan pejabat militer dan politik AS, yang meyakini bahwa perang
modern adalah bagian dari skenario kiamat yang harus terjadi.
Sementara itu, Perdana Menteri Israel
Benjamin Netanyahu dalam perang ini juga menggunakan bahasa yang tak kalah
eksplisit dengan membandingkan Iran dengan bangsa Amalek. Dalam tradisi Yahudi,
Amalek adalah keturunan Esau (cucu Yakub/Israel), putra Elifas dari selirnya
yang bernama Timna.