Membaca Geopolitik Timur Tengah dalam Perspektif Hadis Akhir Zaman
Oleh: Ahmad Jamil, M.A, Ph.D
Pengurus KPK MUI/Pimpinan Pondok Pesantren Tahfizh Daarul Quran (DaQu)
Editor: Admin
Jakarta, MUI Digital — Ketika Timur Tengah kembali memanas, publik muslim tidak hanya membaca berita, tetapi juga membaca tanda. Sebagian melihatnya sebagai pergulatan kekuasaan global. Sebagian lain mengaitkannya dengan hadis-hadis akhir zaman. Nama Dajjal, Khurasan, panji hitam, dan fitnah kembali beredar di ruang publik.
Namun dalam tradisi keilmuan Islam, setiap pembacaan terhadap nubuwah menuntut disiplin metodologis. Antara iman dan interpretasi, antara teks dan tafsir, antara khabar wahyu dan realitas sejarah ada batas yang tidak boleh dilampaui. Di situlah kedewasaan spiritual diuji.
Prinsip Epistemologis: Jangan Mengklaim Wahyu Tanpa Ilmu
Alquran meletakkan fondasi yang sangat tegas:
وَأَنْ تَقُولُوا عَلَى اللَّهِ مَا لَا تَعْلَمُونَ
Artinya: “Dan (Allah mengharamkan) kalian berkata atas nama Allah apa yang tidak kalian ketahui.” (QS. Al-A‘raf: 33)
Imam al-Qurthubi dalam Al-Jami‘ li Ahkam al-Qur’an menjelaskan bahwa ayat ini mencakup segala bentuk klaim agama tanpa dasar yang sahih dan terang. Termasuk di dalamnya mengaitkan peristiwa politik kontemporer sebagai bagian pasti dari nubuwah tanpa dalil qath‘i.