Duka dan Tradisi Pesantren di Mata Para Pembenci
Oleh: Mabroer MS, Ketua Komisi Infokom MUI
Selain menuai kisah yang mengharu biru tentang keteguhan santri dalam mempertahankan kultur Pesantren seperti mengaji dan shalat di balik puing reruntuhan, juga kepedihan yang mendalam karena meninggalnya 67 santri.
Di antara musabab musibah, ditengarai karena faktor teknis yakni tidak terpenuhinya persyaratan dasar dalam membangun gedung bertingkat. Faktor teknis ini bisa terjadi antara lain kelalaian, atau mungkin malah ketidak fahaman tim pelaksana proyek pembangunan terhadap hal ihwal konstruksi bangunan.
Dari sisi inilah, kemudian ada orang atau kelompok yang melakukan stigmatisasi kehidupan pesantren melalui beragam platform Medsos dengan konten-konten yang acapkali tidak faktual dan cenderung ilutif dan fitnah yang keji.
Terlepas dari semua itu, setiap ‘Musibah Selalu Ada Hikmah’ dan salah satunya adalah terciumnya gelagat framing negatif dan stigmatif dari kaum intoleran untuk menyerang jantung pertahanan Islam rahmatan lil ‘alamin yakni Pondok Pesantren yang sekaligus ruh spiritual Nahdlatul Ulama.
Kaum intoleran ini menaruh dendam kusumat yang sangat besar karena Pesantren dianggap sebagai penghalang utama untuk mewujudkan cita-cita Negara Islam yang sangat tektualistik. Asumsinya, jika kekuatan pesantren plus NU maupun Ormas Islam lain bisa diruntuhkan, maka akan memuluskan agenda mereka dalam mewujudkan cita-cita tersebut. Apalagi tidak sedikit (4 persen, Setara 2019) oknum-oknum di TNI-POLRI dan oknum ASN yang sudah terpapar paham tersebut.
Dalam riset BNPT dijelaskan bahwa kelompok yang paling mudah terpapar itu adalah kaum wanita, remaja dan anak-anak karena entitas inilah yang paling banyak menghabiskan waktu di depan gadget. Apalagi konten-konten yang bernuansa intoleran seperti radikalisme dan terorisme itu mencapai 2.670 (2023) dan angka tersebut mengalami lonjakan cukup signifikan pada 2025 yang mencapai 6.402 konten.
Konten tersebut menyebar di TikTok sebanyak 23 akun, WhatsApp 394 akun/grup, Telegram 93 akun/grup, Instagram 222 akun, media daring 433 link, Twitter (X) 159 akun, YouTube empat akun, serta Facebook 5.074 akun.