JAKARTA, MUI.OR.ID — Ketua Panitia Lomba Cipta Lagu Anak Lembaga Seni Budaya dan Peradaban Islam (LSBPI) Dr. Agus Idwar, M.Sos menegaskan bahwa lomba cipta lagu anak bukan sekadar ajang mencari lagu, melainkan ikhtiar menghadirkan karya berkualitas yang mampu memberi pengaruh positif bagi masyarakat Indonesia.
“Ini amanah yang berat, bukan sekadar basa-basi mencari lagu. Lagu yang lahir harus punya kualitas, memberi ambience yang kuat, dan berdampak bagi masyarakat,” ujarnya kepada MUI Digital usai Pengumuman Pemenang Lomba Cipta Lagu Anak Indonesia 2025 di Kantor MUI Pusat, Selasa (9/9/2025).
Dari 97 karya yang masuk, juri tahap awal yang terdiri dari Kang Irvan, Mbak Mira, Erwin Senada, dan Faisal dari LSBPI menyaringnya menjadi 16 lagu. Selanjutnya, seleksi dilakukan oleh tiga juri utama: Dr Agus Idwar, musisi internasional Duki Darmawan, dan penyanyi Sulis yang dikenal lewat lagu-lagu anak. Dari proses tersebut, terpilih enam lagu terbaik yang berasal dari berbagai daerah di Indonesia, mulai dari Riau, Jawa Barat, DKI Jakarta, Jawa Tengah, hingga Sumatera Barat.
Adapun enam karya terbaik yang dinobatkan sebagai pemenang adalah:
1. Aku Anak Indonesia, ciptaan Imam Wahyudi
2. Aku Bangga Jadi Anak Indonesia, ciptaan Nanda Gita Rakhmawati (Pekanbaru, Riau)
3. Senam Anak Juara, ciptaan Tumpal Sugianto Marpaung (Bekasi, Jawa Barat)
4. Gaun Terindah, ciptaan Sastyo Aji Darmawan (Jakarta Timur, DKI Jakarta)
5. Doa, ciptaan Iskandar Suryonegoro (Semarang, Jawa Tengah)
6. Jaga Tubuh, ciptaan Indra Yeni (Padang, Sumatera Barat)
Menurut Agus, jumlah karya yang berkualitas sebenarnya lebih banyak, namun aturan hanya mengharuskan memilih enam pemenang. Meski begitu, ia membuka peluang agar karya lain tetap bisa diproduksi di masa mendatang.
“Tidak menutup kemungkinan, jika LSBPI memproduksi lagu-lagu anak nanti, beberapa karya di luar enam besar juga akan direkomendasikan. Karena saat ini ada kekosongan dan kedahagaan terhadap lagu anak di Indonesia,” jelasnya.
Ia menambahkan, setiap karya nantinya akan melalui proses pentashihan di Komisi Pentashihan MUI untuk memastikan kelayakan materi, lirik, maupun konten sebelum diproduksi dan disebarluaskan.
Ke depan, Agus berharap pengurus baru LSBPI dapat menjadikan produksi lagu anak sebagai program unggulan.
“Lagu ini harus dikawal sampai diproduksi dan diperdengarkan oleh masyarakat luas. Bahkan, bila perlu, dinyanyikan oleh penyanyi-penyanyi kaliber nasional agar cepat dikenal dan viral,” pungkasnya.
(Fitri Aulia Lestari ed: Muhammad Fakhruddin)