Komisi Dakwah MUI Periode 2020-2025 Sukses Cetak 4.000 Dai Lulus Program Standardisasi
Admin
Penulis
JAKARTA,MUI.OR.ID— Majelis Ulama Indonesia telah memasuki puncak periode kepengurusan yang dimulai sejak 2020 dan akan berakhir pada November 2025. Dalam masa kepengurusan tersebut, Komisi Dakwah MUI sukses mencetak 4.000 da’i melalui program standardisasi dai.
Menurut Ketua MUI Bidang Dakwah dan Ukhuwah KH Cholil Nafis, standardisasi merupakan sebuah legasi yang bertujuan untuk membentuk dai-dai nusantara yang sesuai dengan standar MUI.
“Sebagai legasi dari Komisi Dakwah adalah proses standardisasi dai. Karena awalnya siapapun bisa menjadi dai, tetapi MUI memberikan solusi tanpa sertifikasi yakni dengan standardisasi. Sekarang sudah angkatan yang ke-40, dari masing-masing angkatan sekitar 100, jadi sekarang sekitar hampir 4.000 dai yang terstandar,” ujar Kiai Cholil kepada MUIDigital, di Jakarta, (30/10/2025) di Jakarta.
Melalui standardisasi dai, Pengasuh Pesantren Cendekia Amanah Depok itu berharap dapat melahirkan para da’i yang menyampaikan dakwah dengan cara dan suasana yang lebih nyaman. Untuk mencapai hal tersebut, menurutnya ada beberapa poin yang ditekankan dalam standardisasi dai di MUI.
“Orang-orang yang terstandar oleh MUI mempunyai kemampuan memahami keagamaan yang wasathiyah, yang moderat, dan punya kedalaman ilmu,”ungkapnya.
“Selain itu, para dai yang terstandardisasi oleh MUI tidak mempertentangkan tentang aspek keagamaan Islam dengan Undang-Undang Dasar dan dasar kenegaraan kita yang berdasarkan Pancasila. Mereka justru harus mengkombinasikan antara dasar negara dengan nilai-nilai agama Islam,”imbuhnya.
Kiai Cholil memaparkan, dalam standardisasi dai juga diajarkan beberapa metode penyampaian dakwah kepada ummat. Dalam praktiknya di lapangan banyak ditemukan beberapa dai yang menyampaikan dakwah dengan kurang baik. MUI berperan memberikan standar berdakwah yang baik dan benar.
“Kita juga memperhatikan metodologinya, cara ceramah yang marah-marah menjadi ceramah yang lebih ramah dan bisa inspiratif dan konstruktif,” kata Kiai Cholil. (Dea Oktaviana, ed: Azhar)