Foto: freepik
Oleh: KH Arif Hidayat, Ketua 1 MUI Kota Tangerang dan Pengasuh Ponpes Padarincang
الَسَّلامُ عَليْكُمْ وَرَحْمَةُ اللّٰهِ وَبَرَكَاتُه
اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ نَحْمَدُهُ وَ نَسْتَعِيْنُهُ وَ نَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللّٰهِ مِنْ شُرُوْرِ اَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ اَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِ اللّٰهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ، وَاَشْهَدُ اَنْ لَّآ اِلٰهَ اِلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، وَاَشْهَدُ اَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ
وَرَسُوْلُهُ. اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى اٰلِهِ وَاَصْحَابِهِ وَ مَنْ تَبِعَهُ وَ وَالاَهُ وَ سَلِّمْ تَسْلِيْمًا كَثِيْرًا.
اَمَّا بَعْدُ :فَيَا اَيُّهَا النَّاسُ أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللّٰهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ قَالَ اللَّهُ تَعَالٰى : اَعُوْذُ بِاللّٰهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ وَالَّذِيْنَ اِذَا فَعَلُوْا فَاحِشَةً اَوْ ظَلَمُوْٓا اَنْفُسَهُمْ ذَكَرُوا اللّٰهَ فَاسْتَغْفَرُوْا لِذُنُوْبِهِمْۗ وَمَنْ يَّغْفِرُ الذُّنُوْبَ اِلَّا اللّٰهُ ۗ
وَلَمْ يُصِرُّوْا عَلٰى مَا فَعَلُوْا وَهُمْ يَعْلَمُوْنَ
"Demikian (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menzalimi diri sendiri, mereka (segera) mengingat Allah lalu memohon ampunan atas dosa-dosanya. Siapa (lagi) yang dapat mengampuni dosa-dosa selain Allah? Mereka pun tidak meneruskan apa yang mereka kerjakan (perbuatan dosa itu) sedangkan mereka mengetahui(-nya). (QS. Ali Imran [3]: 135)
Jamaah Jumat rahimakumullah..
Puji dan syukur kita panjatkan kepada Allah SWT dengan berbagai nikmat yang diberikan kepada kita semua, nikmat iman, Islam dan panjang usia dalam taat kepada-Nya. Shalawat dan salam tercurah kepada Nabi Besar Muhammad SAW, keluarga dan sahabat beliau dan kita juga bermunajat dalam Jum’at yang mulia ini, semoga kita dikumpulkan bersama beliau, aamiin Ya Rabbal ‘Alamin.
Jamaah Jumat rahimakumullah..
Dalam menjalani kehidupan di dunia ini, kita tidak pernah luput dari kesalahan dan kekhilafan. Tiap waktu, pasti ada saja dosa dan kemaksiatan yang kita lakukan, baik disadari oleh kita maupun tidak. Boleh jadi, kita tidak sadar bahwa sebelum shalat Jumat, kita telah menyakiti hati orang lain ketika berinteraksi.
Boleh jadi, sewaktu scrolling media sosial di ponsel, kita melihat pemandangan yang menimbulkan dosa. Boleh jadi, ketika kita hendak pergi shalat Jumat ke masjid pun ada kesombongan yang terlahir dari hati kita, seolah kita adalah hamba yang saleh. Atau boleh jadi juga, di masa lalu, kita pernah melakukan tindakan yang merugikan orang lain yang hingga saat ini bahkan belum dimintakan maafnya.
Jamaah Jumat rahimakumullah..
Di sinilah kita perlu bertaubat dan memohon ampunan kepada Allah. Taubat bukan sekadar di lisan dengan mengucapkan istighfar saja. Akan tetapi harus diiringi dengan niat kuat bahwa kita tidak akan mengulanginya lagi di kemudian waktu. Fudhoil bin Iyadh berkata:
اَلْاِسْتِغْفَارُ بِلَا اِقْلَاعٍ تَوْبَةُ الْكَذَّابِيْنَ
“Istighfar tanpa meninggalkan dosa itulah taubatnya para pendusta.”
Ada juga ulama berkata :
اِسْتِغْفَارُنَا يَحْتَاجُ اِلَى الْاِسْتِغْفَارِ
“Istighfar kita membutuhkan istighfar lagi”
Syekh Zainuddin al-Malibari dalam kitabnya, Fathul Mu'in halaman 653, beliau menyebutkan bahwa tobat memiliki tiga syarat utama, yaitu: Pertama, penyesalan atas dosa harus muncul dari kesadaran bahwa perbuatan tersebut adalah dosa, bukan karena alasan-alasan duniawi seperti takut akan hukuman atau kehilangan materi. Kedua, berhenti dari dosa.
Seseorang yang masih melakukan dosa harus segera menghentikan perbuatannya. Jika dia masih berniat untuk melakukan dosa yang sama di masa mendatang, maka tobatnya tidak sah. Ketiga, niat tidak mengulangi. Orang yang bertobat harus memiliki niat yang teguh untuk tidak mengulangi perbuatan dosanya sepanjang hidupnya.
Jika seseorang sudah tidak bisa mengulangi perbuatannya, misalnya dikebiri setelah berzina, maka niat ini tidak diperlukan lagi karena sudah tidak mungkin terjadi. Selain itu jamaah sekalian, jika dosa yang kita lakukan melibatkan hak-hak orang lain, baik dalam bentuk harta, kehormatan, atau yang lainnya, pelaku harus berupaya mengembalikan atau memperbaiki hak-hak tersebut dengan segala cara yang ia mampu.
Jamaah Jumat rahimakumullah...
Allah SWT berfirman,
وَالَّذِيْنَ اِذَا فَعَلُوْا فَاحِشَةً اَوْ ظَلَمُوْٓا اَنْفُسَهُمْ ذَكَرُوا اللّٰهَ فَاسْتَغْفَرُوْا لِذُنُوْبِهِمْۗ وَمَنْ يَّغْفِرُ الذُّنُوْبَ اِلَّا اللّٰهُ ۗ وَلَمْ يُصِرُّوْا عَلٰى مَا فَعَلُوْا وَهُمْ يَعْلَمُوْنَ
“Demikian (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menzalimi diri sendiri, mereka (segera) mengingat Allah lalu memohon ampunan atas dosa-dosanya. Siapa (lagi) yang dapat mengampuni dosa-dosa selain Allah? Mereka pun tidak meneruskan apa yang mereka kerjakan (perbuatan dosa itu) sedangkan mereka mengetahui(-nya).” (QS. Ali Imran [3]: 135)
Syekh Wahbah az-Zuhaili dalam Tafsirul Munir Jilid 4 halaman 89 menjelaskan ayat di atas, beliau berkata:
وَالَّذِينَ إِذَا فَعَلُوا فَاحِشَةً، أَي ذَنْبًا يَتَعَدَّى ضَرَرُهُ إِلَى الْغَيْرِ كَالزِّنَى وَالرِّبَا وَالسَّرِقَةِ وَالْغِيبَةِ وَنَحْوِهَا، أَوْ ظَلَمُوا أَنْفُسَهُمْ أَي فَعَلُوا ذَنْبًا يَقْتَصِرُ ضَرَرُهُ عَلَيْهِمْ كَشُرْبِ الْخَمْرِ وَنَحْوِهِ، ذَكَرُوا وَعْدَ اللّٰهِ وَوَعِيدَهُ، وَعَظَمَتَهُ وَجَلَالَهُ، فَرَجَعُوا إِلَيْهِ تَائِبِينَ مُسْتَغْفِرِينَ لِذُنُوبِهِمْ، طَالِبِينَ رَحْمَتَهُ
“Ayat ‘Dan orang-orang yang apabila melakukan perbuatan keji,’ maksudnya yaitu dosa yang dampaknya mengenai orang lain seperti zina, riba, pencurian, ghibah, dan sejenisnya, atau menzalimi diri mereka sendiri dengan melakukan dosa yang hanya merugikan diri sendiri, seperti minum khamr dan sejenisnya, mereka mengingat janji Allah dan ancaman-Nya, serta kebesaran dan keagungan-Nya, lalu mereka kembali kepada-Nya dengan bertobat dan memohon ampun atas dosa-dosa mereka, seraya memohon rahmat-Nya.”
Dengan demikian, jamaah sekalian, kita semua diingatkan akan kebesaran dan keagungan Allah. Begitu pun sifat rahmat dan kasih sayang-Nya yang begitu besar. Setelah menyadari dosa-dosa yang pernah kita lakukan, maka kita kembali kepada Allah dengan bertobat, memohon ampun atas kesalahan dan kemaksiatan yang telah dilakukan, serta meminta rahmat dari-Nya.
Jamaah shalat Jumat yang dirahmati oleh Allah...
Mari kita sama-sama bertobat, dan memperbanyak istighfar setiap harinya, sebagaimana yang senantiasa dilakukan oleh Rasulullah semasa hidupnya:
وَاللّٰهِ إِنِّى لَأَسْتَغْفِرُ اللّٰهَ وَأَتُوبُ إِلَيْهِ فِى الْيَوْمِ أَكْثَرَ مِنْ سَبْعِينَ مَرَّةً
“Demi Allah. Sungguh aku selalu beristighfar dan bertaubat kepada Allah dalam sehari lebih dari 70 kali.” (HR. Bukhari)
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda,
مَا أَصْبَحْتُ غَدَاةً قَطُّ إِلاَّ اِسْتَغْفَرْتُ اللّٰهَ مِائَةَ مَرَّةٍ
“Tidaklah aku berada di pagi hari (antara terbit fajar hingga terbit matahari) kecuali aku beristigfar pada Allah sebanyak 100 kali.” (HR An Nasa’i)
مَنْ اَكْثَرَ مِنَ الْاِسْتغْفَارِ جَعَلَ اللّٰهُ لَهُ مِنْ كُلِّ هَمٍّ فَرَجًا وَمِنْ كُلِّ ضِيْقٍ مَخْرَجًا وَرَزَقَهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ
( رواه أحمد )
“Barang siapa yang mempebanyak istighfar, maka Allah akan berikan kelapangan dari kegundahannya dan memberi jalan keluar dari kesulitannya serta Allah akan berikan rizki dari yang tidak terduga-duga.”
Jamaah shalat Jumat yang dirahmati oleh Allah...
Allah tidak meminta kita menjadi manusia yang sempurna tanpa dosa, tetapi yang diminta adalah kesadaran untuk mengakui kesalahan dan kembali kepada-Nya. Oleh karena itu, mari kita manfaatkan momen ini untuk merenung, memohon ampunan, dan berkomitmen memperbaiki diri. Rasulullah saw pernah bersabda:
فَإِنَّ العَبْدَ إِذَا اعْتَرَفَ بِذَنْبِهِ ثُمَّ تَابَ تَابَ اللّٰهُ عَلَيْهِ
“Sesungguhnya, jika seorang hamba mengakui dosanya kemudian bertobat, Allah akan menerima tobatnya.” (HR Al-Bukhari)
Semoga Allah selalu meberikan ampunan dan kasih sayang-Nya kepada kita, juga kepada anak-anak kita, saudara-saudara kita agar kita hidup dalam keberkahan dan kebaikan aamiin Ya Rabbal ‘Alamin
بَارَكَ اللّٰهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ, وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ وَتَقَبَّلَ اللّٰهُ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللّٰهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَآئِرِ الْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ