Khutbah Jumat: Jasa dan Peran Santri dalam Membangun Negeri
Admin
Penulis
Oleh: Ustadz Arif Rokhman MA Sekretaris 2 MUI Kota Tangerang dan Ketua Forligh
اَلسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُاللّٰهِ وَبَرَكَاتُه
اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ العَالَمِيْنَ، اَلقَائِلِ فِي كِتَابِهِ الكَرِيْمِ : وَمَا كَانَ الْمُؤْمِنُوْنَ لِيَنفِرُوْا كَافَّةً ۚ فَلَوْلَا نَفَرَ مِنْ كُلِّ فِرْقَةٍ مِّنْهُمْ طَائِفَةٌ لِّيَتَفَقَّهُوْا فِي الدِّيْنِ وَلِيُنْذِرُوا قَوْمَهُمْ إِذَا رَجَعُوْا إِلَيْهِمْ لَعَلَّهُمْ يَحْذَرُوْنَ (التوبة: ١٢٢)
أَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلٰى أَشْرَفِ اْلأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِيْنَ، نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَعَلٰى اٰلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَالتَّابِعِيْنَ. أَشْهَدُ أَنْ لَّا إِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، لَا نَبِيَّ بَعْدَهُ، أَمَّا بَعْدُ
فَيَا أَيُّهَا الْحَاضِرُوْنَ ، اِتَّقُوا اللّٰهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوْتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ
Hadirin sidang Jumat yang dirahmati Allah...
Puji dan syukur alhamdulillah marilah kita sama-sama panjatkan ke hadirat Allah SWT, berkat limpahan rahmat, hidayah, dan inayah-Nya, kita masih mendapatkan nikmat iman dan nikmat Islam; kita masih mendapatkan nikmat sehat, nikmat panjang umur, dan nikmat kekuatan, sehingga hati ini terpanggil untuk senantiasa menjalankan perintah Allah, dan duduk bersimpuh di tempat yang insya Allah penuh berkah ini, semoga senantiasa kita dipelihara oleh Allah dan diberi istiqamah hingga penghujung usia. Amin ya Allah, Amin rabbal-alamin.
Shalawat dan salam semoga tercurah kepada Nabi Besar Muhammad SAW beserta para keluarga dan sahabatnya serta agar kita tercatat sebagai umat yang senantiasa berusaha menjalankan ajarannya dan meneladani akhlak mulianya, dan senantiasa berharap rida dan syafaatnya pada hari Kiamat nanti, Amin ya mujibassa’ilin.
Melalui mimbar jumat ini khatib berwasiat marilah kita senantiasa berusaha untuk meningkatkan iman dan takwa kepada Allah SWT, dengan menjalankan segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya. Mudah-mudahan kita menjadi hamba Allah yang beruntung di dunia dan akhirat.
Dengan ketakwaan yang benar, kita bisa menjaga kedamaian dan persatuan negeri ini. Dengan takwa kita akan senantiasa terus diberikan jalan keluar dari berbagai permasalahan yang kita hadapi.
وَمَنْ يَّتَّقِ اللّٰهَ يَجْعَلْ لَّهٗ مَخْرَجًا ۙ وَّيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُۗ وَممَنْ يَّتَوَكَّلْ عَلَى اللّٰهِ فَهُوَ حَسْبُهٗ ۗاِنَّ اللّٰهَ بَالِغُ اَمْرِهٖۗ قَدْ جَعَلَ اللّٰهُ لِككُلِّ شَيْءٍ قَدْرًا
Artinya: “Siapa yang bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan membukakan jalan keluar baginya. Dan menganugerahkan kepadanya rezeki dari arah yang tidak dia duga. Siapa yang bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)-nya. Sesungguhnya Allahlah yang menuntaskan urusan-Nya. Sungguh, Allah telah membuat ketentuan bagi setiap sesuatu.” (QS At-Thalaq: 2-3)
Maasyiral Muslimin yang berbahagia...
Tak terasa momentum besar telah tiba bahwa setiap tanggal 22 Oktober, bangsa Indonesia memperingati Hari Santri Nasional sebagai bentuk penghargaan terhadap peran santri dalam memperjuangkan kemerdekaan negara dan bangsa Indonesia dari penjajah melalui beberapa kontribusi, termasuk Resolusi Jihad yang digagas oleh KH Hasyim Asy'ari.
Hadirin sidang Jumat yang dirahmati Allah...
Bahwa perjuangan kiai yang harus dilanjutkan oleh santri adalah perjuangan untuk membela agama dan bangsa. Ketika zaman dahulu kiai berjuang dengan mengangkat senjata melawan penjajah melalui Resolusi Jihad, maka santri saat ini harus berjuang dengan mengangkat pena dan segala fasilitas penyebaran ilmu untuk melawan kebodohan dan kemunduran agama dan bangsa.
Penetapan Hari Santri yang kita peringati hari ini adalah merupakan Keputusan Presiden (Keppres) Nomor 22 Tahun 2015. Hari Santri merupakan supremasi perjuangan para santri dan ulama pesantren dalam mempertahankan kemerdekaan bangsa Indonesia. Saat itu Belanda membonceng tentara Sekutu (Inggris) hendak kembali menduduki Indonesia dalam
Agresi Militer Belanda II pasca kekalahan Jepang oleh Sekutu setelah Indonesia memproklamasikan kemerdekaan. Hal ini menunjukkan bahwa Proklamasi Kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 1945 bukanlah akhir perjuangan.
Justru perjuangan makin tidak mudah ketika bangsa Indonesia harus menegakkan kemerdekaan karena upaya kolonialisme masih tetap ada. Ulama pesantren sudah melakukan antisipasi jika sewaktu-waktu terjadi perang senjata saat Jepang menyerah kepada Sekutu.
Tantangan tak kalah berat adalah di era digitalisasi penggunaan medsos yang tanpa batas waktu sehingga tidak sedikit penggunaanya banyak unsur-unsur negatif seperti kriminal, penyimpangan moral dan banyak sekali berita -berita yang memiliki dampak kepada perubahan perilaku sosial secara massif. Maka dalam mengatasi berbagai hal tersebut salah satu hal yang sangat membutuhkan peran santri terkait hal, ini sejalan dengan firman Allah SWT dalam surat At-Taubah, ayat 12
وَمَا كَانَ الْمُؤْمِنُونَ لِيَنفِرُوا كَافَّةً ۚ فَلَوْلَا نَفَرَ مِن كُلِّ فِرْقَةٍ مِّنْهُمْ طَائِفَةٌ لِّيَتَفَقَّهُوا فِي الدِّينِ وَلِيُنذِرُوا قَوْمَهُمْ إِذَا رَجَعُوا إِلَيْهِمْ لَعَلَّهُمْ يَحْذذَرُونَ
Artinya: “Tidak sepatutnya orang-orang mukmin pergi semuanya (ke medan perang). Mengapa sebagian dari setiap golongan di antara mereka tidak pergi (tinggal bersama Rasulullah) untuk memperdalam pengetahuan agama mereka dan memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali, agar mereka dapat menjaga dirinya?”
Perjuangan bukan hanya dengan berperang secara fisik, melainkan perjuangan juga bisa dilakukan secara keilmuan, sehingga kebebasan yang didapatkan masyarakat sekitar bukan sekadar kebebasan dari penjajah dalam bentuk manusia, tapi juga kebebasan dari segala kebodohan yang justru akan mengakibatkan sebuah bangsa semakin mundur dan hancur. Kemunduran bangsa akan terjadi apabila terjadi kemunduran akhlak serta moral.
Hadirin sidang Jumat yang dirahmati Allah...
Tugas perjuangan santri di masa depan adalah “berperang” menyampaikan ilmu yang didapatkannya kepada masyarakat luas untuk menghilangkan kebodohan masyarakat dan penyesatan ideologi keagamaan. Jika tentara membekali dirinya dengan kemampuan berperang dan menggunakan senjata perang, maka santri harus membekali diri dengan ilmu agama yang kompeten dari kiai. Hal ini ditegaskan Syekh Wahbah al-Zuhaili dalam kitab Tafsir Al-Munir, juz 11, halaman 79:
يَجِبُ أَنْ يَكُوْنَ المَقْصُوْدُ مِنَ التَّفَقُّهِ وَالتَّعَلُّمِ دَعْوَةَ الخَلْقِ إِلَى الحَقِّ، وَإِرْشَادَهُمْ إِلَى الدِّيْنِ القَوِيْمِ وَالصِّرَاطِ المُسْتَقِيْمِ
Artinya: “Maksud dari memahami dan mempelajari ilmu agama harusnya adalah mengajak masyarakat kepada kebenaran dan membimbing mereka kepada agama yang lurus dan ajaran yang benar.”
Hadirin sidang Jumat yang dirahmati Allah...
Tanggung jawab santri saat ini adalah untuk memanfaatkan waktu dalam mengenyam sebanyak-banyaknya ilmu dari kiai, sehingga akan siap untuk menjadi pelanjut kiai di masa depan. Hal ini ditegaskan Nabi dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ad-Darimi dalam kitab Musnad Ad-Darimi atau yang dikenal dengan nama Sunan Ad-Darimi, juz 1, halaman 308:
عَنْ رَسُولِ اللّٰهِ صَلّٰى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ قَالَ: خُذُوا الْعِلْمَ قَبْلَ أَنْ يَذْهَبَ. قَالُوْا: وَكَيْفَ يَذْهَبُ الْعِلْمُ يَا نَبِيَّ اللّٰهِ، وَفِينَا كِتَابُ اللّٰهِ؟ قَالَ: فَغَضِبَ، ثُمَّ قَالَ: ثَكِلَتْكُمْ أُمَّهَاتُكُمْ أَوَلَمْ تَكُنِ التَّوْرَاةُ وَالْإِنْجِيلُ فِيْ بَنِيْ إِسْرَائِيْلَ، فَلَمْ يُغْنِيَا عَنْهُمْ شَيْئًا؟ إِنَّ ذَهَابَ الْعِلْمِ أَنْ يَذْهَبَ حَمَلَتُهُ، إِنَّ ذَهَابَ الْعِلْمِ أَنْ يَذْهَبَ حَمَلَتُهُ
Artinya: “Dari Rasulullah saw, bahwasanya beliau besabda: Ambillah ilmu sebelum pergi/hilang. Para sahabat bertanya Bagaimana ilmu bisa pergi wahai Nabi, sedangkan Al-Qur’an masih bersama kami? Nabi bersabda: Celakalah kalian, bukankah Taurat dan Injil masih ada bersama Bani Israil, tetapi tidak bermanfaat untuk mereka? Sesungguhnya perginya ilmu itu dengan cara meninggalnya para ulama. Sesungguhnya perginya ilmu itu dengan cara meninggalnya para ulama.”
Hadirin sidang Jumat yang dirahmati Allah...
Dalam memperingati Hari Santri Nasional, tidak cukup dengan melakukan seremoni untuk mengenang perjuangan dan pengorbanan para kiai dan santri di masa lalu, tetapi harus dengan melanjutkan perjuangan dan pengorbanan mereka demi menegakkan dan membangkitkan agama dan bangsa Indonesia.
Semoga Allah selalu memberikan keberkahan dan kejayaan untuk seluruh bangsa Indonesia dengan berkah perjuangan dan pengorbanan santri dan kiai. Amin ya rabbal-‘alamin.
بَارَكَ اللّٰهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ وَتَقَبَّلَ اللّٰهُ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ أَقُوْلُ قَوْلِيْ هٰذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللّٰهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَآئِرِ الْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ