Ketika Rasulullah SAW Kehilangan Dua Sosok yang Sangat Dicintai dan Berjasa Besar untuk Islam
Admin
Penulis
JAKARTA, MUI.OR.ID – Tahun kesepuluh kenabian dikenal sebagai ‘Amul Huzni atau Tahun Duka. Dalam waktu berdekatan, dua sosok pelindung utama Rasulullah ﷺ paman beliau Abu Thalib dan istri tercinta Khadijah Al-Kubra wafat, meninggalkan luka mendalam sekaligus ujian besar dalam dakwah Islam.
Dalam Sirah an-Nabawiyah, Syekh Shafiyyurrahman Al-Mubarakfuri menjelaskan bahwa di dalam Ash-Shahih disebutkan dari Al-Musayyab, Abu Thalib mengalami sakit keras menjelang wafatnya. Rasulullah ﷺ menemuinya dan dengan lembut berkata,
“Wahai Paman, ucapkanlah la ilaha illallah, satu kalimat yang dapat engkau jadikan hujjah di sisi Allah."
Di sisinya hadir Abu Jahal dan Abdullah bin Abu Umayyah yang menyela, “Wahai Abu Thalib, apakah engkau tidak menyukai agama Abdul Muththalib?” Tekanan itu tak berhenti hingga Abu Thalib akhirnya berkata, “Aku tetap di atas agama Abdul Muththalib,” dan wafat dalam keyakinan lama.
Rasulullah ﷺ bersabda, “Aku benar-benar akan memohon ampunan bagimu wahai paman selagi aku tidak dilarang melakukannya."
Namun kemudian turunlah firman Allah QS At-Taubah ayat 113 dan Q.S. Al-Qashash ayat 56 yang berbunyi:
مَا كَانَ لِلنَّبِيِّ وَالَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا اَنْ يَّسْتَغْفِرُوْا لِلْمُشْرِكِيْنَ وَلَوْ كَانُوْٓا اُولِيْ قُرْبٰى مِنْۢ بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُمْ اَنَّهُمْ اَصْحٰبُ الْجَحِيْمِ ١١٣
“Tidak ada hak bagi Nabi dan orang-orang yang beriman untuk memohonkan ampunan (kepada Allah) bagi orang-orang musyrik sekalipun mereka ini kerabat(-nya), setelah jelas baginya bahwa sesungguhnya mereka adalah penghuni (neraka) Jahim.” (QS At-Taubah: 113)
اِنَّكَ لَا تَهْدِيْ مَنْ اَحْبَبْتَ وَلٰكِنَّ اللّٰهَ يَهْدِيْ مَنْ يَّشَاۤءُۚ وَهُوَ اَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِيْنَ
٥٦
“Sesungguhnya engkau tidak dapat memberi petunjuk kepada orang yang engkau kasihi, tetapi Allah memberi petunjuk kepada siapa yang Dia kehendaki.” (Al-Qashash: 56)
Walau tidak memeluk Islam, jasa Abu Thalib sangat besar bagi dakwah Nabi ﷺ. Selama bertahun-tahun ia menjadi perisai Rasulullah dari gangguan Quraisy, menanggung risiko demi melindungi keponakannya. Dalam sebuah hadis, Rasulullah ﷺ bersabda:
هُوَ فِى ضَحْضَاحٍ مِنْ نَارٍ ، وَلَوْلاَ أَنَا لَكَانَ فِى الدَّرَكِ الأَسْفَلِ مِنَ النَّارِ
“Dia berada di neraka yang dangkal. Jika bukan karena aku, tentu dia berada di tingkatan neraka yang paling bawah.” (HR Muslim)
Kepergian Abu Thalib menjadi titik balik besar dalam perjalanan dakwah Nabi ﷺ. Perlindungan yang selama ini beliau rasakan seolah sirna, membuka jalan bagi kaum Quraisy untuk semakin berani menentang dan menyakiti. Meski demikian, keteguhan Rasulullah ﷺ tidak goyah.
Peristiwa ini mengingatkan bahwa hidayah adalah semata-mata hak Allah, dan kasih sayang keluarga tidak serta-merta mendatangkan petunjuk. Dari wafatnya Abu Thalib, umat belajar bahwa perjuangan dakwah menuntut kesabaran yang kokoh, sekaligus keikhlasan menerima takdir Allah dalam setiap langkah.
Wafatnya Khadijah Al-Kubra
Sekitar dua hingga tiga bulan setelah Abu Thalib wafat, Ummul Mukminin Khadijah Al-Kubra menyusul ke rahmatullah. Ia meninggal pada bulan Ramadhan tahun kesepuluh kenabian, dalam usia 65 tahun, sementara Rasulullah ﷺ saat itu berusia 50 tahun.
Khadijah adalah anugerah agung bagi Rasulullah ﷺ. Selama seperempat abad ia menjadi pendamping setia, menenangkan hati di kala resah, melindungi saat genting, dan mengorbankan diri serta hartanya demi dakwah Islam.
Rasulullah ﷺ bersabda, “Dia beriman kepadaku saat semua orang mengingkariku, membenarkanku ketika semua mendustakanku, dan menyerahkan hartanya ketika orang lain enggan memberikannya. Allah menganugerahkan kepadaku anak-anak darinya, sementara dari wanita lain tidak.”
Wafatnya Khadijah menambah kesedihan Rasulullah ﷺ yang sebelumnya telah kehilangan pelindung utama dari kalangan
keluarga. Karena bertumpuknya ujian, tahun itu pun dikenang dalam sejarah sebagai ‘Amul Huzni Tahun Duka.
Dalam masa penuh cobaan itu, Rasulullah ﷺ kemudian menikahi Saudah binti Zam‘ah pada bulan Syawwal tahun yang sama. Saudah termasuk muslimah awal yang ikut hijrah ke Habasyah dan menjadi istri pertama beliau setelah Khadijah wafat, menjadi pendamping yang menenangkan hati di tengah ujian dakwah.
Tahun Duka menjadi pengingat bahwa setiap pendakwah akan diuji dengan kehilangan dan kesulitan, namun keteguhan iman dan tawakal kepada Allah adalah kekuatan sejati dalam menapaki jalan dakwah. (Fitri Aulia Lestari, ed: Nashih)