Di Road Show Pesantren KPRK MUI, Kiai Anwar Iskandar: Kekerasan Bagian dari Perbuatan Keji
Junaidi
Penulis
JOMBANG – Wakil Ketua Dewan Pertimbangan Majelis Ulama Indonesia (MUI), KH Anwar Iskandar menyampaikan apresiasinya terhadap kegiatan Roadshow Pondok Pesantren.
Menurutnya, pendidikan yang baik menjadi tolok ukur kemajuan bangsa, tidak terkecuali pendidikan di pesantren.
Hal tersebut disampaikannya dalam Sosialisasi Hasil Roadshow Pondok Pesantren dan Penguatan Pesantren Ramah Anak di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas.
Kegiatan yang bertajuk “Menguatkan Karakter Pesantren Anti Kekerasan dan Ramah Anak” ini berlangsung pada Senin (9/10/2023).
Tokoh yang ditetapkan sebagai Ketua Umum MUI dalam Rapat Pleno MUI pada 15 Agustus 2023 lalu ini menjelaskan, dalam Alquran banyak sekali ayat yang memberikan dorongan kepada kita untuk menjauhi perbuatan keji seperti kekerasan, tidak terkecuali dalam dunia pendidikan.
Kiai Iskandar menyebut, dalam Alquran Allah SWT secara tegas menyeru kepada umat manusia yaitu, ‘Jagalah keluargamu dari api neraka’.
Menurut dia, ayat ini mengandung larangan agar manusia menjadi ahli neraka yaitu mereka yang melanggar perintah Allah SWTT, salah satunya bisa juga sebab perilaku kekerasan yang dilakukannya.
“Anak-anak dipengaruhi lingkungan dimana mereka tinggal. Oleh karena itu, mari bersama untuk mengawal perjalanan intelektual mereka di pesantren dengan baik sehingga nantinya mampu menjadi generasi penerus yang berkualitas,” ajaknya.
Tak hanya Kiai Anwar Iskandar, dalam forum tersebut juga turut hadir Sekretaris Jenderal MUI Buya Amirsyah Tambunan.
Dia mengatakan, generasi penerus yang berkualitas harus dibekali dengan pengetahuan dan keimanan yang optimal. Karena itu, pengawasan atas lembaga pendidikan, dalam hal ini pesantren merupakan tugas bersama umat Islam.
“Apabila kekerasan dalam bentuk fisik, verbal maupun seksual terjadi di pesantren tentunya telah mencederai nilai-nilai agama yang selama ini menjadi landasan pendidikan pesantren. Mari bersama untuk mendukung dan mengawal proses belajar anak-anak kita di pesantren,” kata dia. (Isyatami Aulia, ed: Nashih)