Pengaruh Majelis Ulama Indonesia di Asia-Pasifik
Oleh: Yanuardi Syukur, pengurus Komisi HLNKI MUI/Sekretaris Panitia Konferensi Asia-Pasifik untuk Palestina
JAKARTA, MUI.OR.ID. Pada 7-8 November 2025, Majelis Ulama Indonesia bekerjasama dengan BKSAP DPR RI dan lembaga filantropi menggelar "Konferensi Asia-Pasifik untuk Palestina" di Aula Buya Hamka MUI dan Ruang Abdul Muis, Senayan, Jakarta. Pertemuan tersebut selain dihadiri oleh utusan Indonesia, juga oleh puluhan perwakilan aktivis Palestina di Asia-Pasifik.
Jumlah peserta konferensi sebanyak 130 dari 15 negara. Jumlah 9 luar negeri dan 12 dalam negeri. Peserta luar negeri sebanyak 36 orang dari Malaysia, Singapura, Thailand, Filipina, Australia, New Zealand, Jepang, Palestina, Aljazair, Maroko, Mesir, Tunisia, Turki, Maladewa, dan Srilanka. Para peserta sangat bersemangat untuk kerja bersama membela Palestina.
Konferensi ini merupakan follow up dari konferensi di Turkiye yang dihadiri Profesor Sudarnoto Abdul Hakim dan KH Oke Setiadi yang juga ketua panitia Konferensi Asia-Pasifik untuk Palestina di Jakarta.
Salah satu poin penting dalam deklarasi yang dihasilkan dalam konferensi tersebut adalah menjadikan Indonesia sebagai headquarter atau 'markas besar' Global Coalition for Al-Quds and Palestine untuk regional Asia-Pasifik. Usulan tersebut berasal dari utusan Filipina yang diadopsi oleh sidang yang dipimpin Prof Sudarnoto Abdul Hakim dan Dubes Bunyan Saptomo.
Ketetapan dalam konferensi tersebut memiliki beberapa arti sebagai berikut. Pertama, Indonesia sejauh ini dipercaya oleh masyarakat global sebagai satu dari beberapa negara yang vokal, serius dan konsisten dalam pembelaan Palestina.
Sejak zaman Presiden Bung Karno hingga Presiden Prabowo Subianto, posisi Indonesia tetap membela Palestina dan melihat apa yang dilakukan Israel di Tanah Palestina adalah penjajahan.