Khutbah Idul Adha: Meneladan Kesalehan Nabi Ibrahim dan Keluarganya
Oleh: Admin
Editor: Admin
Oleh: Ustadz Nur Rohmad, Ketua Komisi Dakwah MUI Kab. Mojokerto
Khutbah I
اللهُ أَكْبَرُ (3x) اللهُ أَكْبَرُ (3x) اللهُ أَكْبَرُ (3x) وَلِلّٰهِ الْحَمْدُ، اللهُ أَكْبَرُ كَبِيْرًا، وَالْحَمْدُ لِلّٰهِ كَثِيْرًا، وَسُبْحَانَ اللهِ وَبِحَمْدِهِ بُكْرَةً وَأَصِيْلًا، وَنَشْهَدُ أَنْ لَّا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ، وَلَا نَعْبُدُ إِلَّا إِيَّاهُ، وَنَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا وَنَبِيَّنَا مُحَمَّدًا رَّسُوْلُ اللهِ، وَرَحْمَتُهُ الْمُهْدَاةُ، صَلَّى اللهُ وَسَلَّمَ وَبَارَكَ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ الأَمِيْنِ، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ الطَّيِّبِيْنَ الطَّاهِرِيْنَ.
أَمَّا بَعْدُ،
فَأُوصِيْكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيْمِ، القَائِلِ فِي كِتَابِهِ
الْكَرِيْمِ (إِنَّآ أَعۡطَيۡنَٰكَ ٱلۡكَوۡثَرَ. فَصَلِّ
لِرَبِّكَ وَٱنۡحَرۡ. إِنَّ شَانِئَكَ هُوَ ٱلۡأَبۡتَرُ)
Ma’asyiral Muslimin Jamaah Shalat Idul Adha Rahimakumullah,
Mengawali khutbah
‘Id pada pagi hari yang penuh keberkahan ini, khatib berwasiat kepada kita
semua, terutama kepada diri khatib pribadi untuk senantiasa berusaha
meningkatkan keimanan dan ketakwaan kita kepada Allah SWT, kapan pun dan
di mana pun kita berada serta dalam keadaan sesulit apa pun dan dalam kondisi
yang bagaimana pun, dengan cara melaksanakan segenap kewajiban dan menjauhi
segala larangan Allah SWT.
اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ،
وَلِلّٰهِ الْحَمْدُ
Hadirin Jamaah Shalat Idul Adha Rahimakumullah,
Di pagi Hari Raya
Qurban ini, khatib akan menyampaikan khutbah mengenai kesalehan Nabi Ibrahim
dan keluarganya, seorang Nabi yang kisah keteladanan hidupnya selalu
diceritakan setiap kali kita merayakan Idul Adha.
Hadirin Rahimakumullah,
Keluarga Nabi Ibrahim
adalah keluarga yang saleh. Sang ayah, yaitu Ibrahim, serta istri dan putranya,
semuanya adalah hamba-hamba yang saleh. Saleh artinya memenuhi hak Allah dan
hak sesama hamba.
Kesalehan tidak
akan dicapai kecuali dengan ilmu dan amal. Tanpa ilmu, seseorang tidak akan
mampu beramal dengan benar sesuai tuntunan syariat. Dan ilmu yang tak diamalkan
tidak akan mendekatkan diri kepada Allah dan tidak akan mengantarkan seseorang
menjadi pribadi yang saleh.
Ada banyak sekali
sisi kesalehan keluarga Nabi Ibrahim ‘Alaihissalam yang dapat kita contoh.
Di antaranya adalah hal-hal sebagai berikut:
Pertama, Nabi Ibrahim sangat kuat memegang teguh akidah dan syariat.
Allah SWT
berfirman:
مَا كَانَ إِبۡرَٰهِيمُ
يَهُودِيّٗا وَلَا نَصۡرَانِيّٗا وَلَٰكِن كَانَ حَنِيفٗا مُّسۡلِمٗا وَمَا كَانَ مِنَ
ٱلۡمُشۡرِكِينَ
Artinya: “Ibrahim
bukanlah seorang Yahudi dan bukan pula seorang Nasrani, melainkan dia adalah
seorang yang memegangteguh Islam. Dia bukan pula termasuk (golongan)
orang-orang musyrik.” (QS Ali ‘Imran: 68)
Nabi Ibrahim ‘Alaihissalam sebagaimana nabi-nabi yang lain adalah ma’shum
(selalu dijaga oleh Allah) dari kufur atau syirik. Begitu juga terjaga dari
dosa-dosa besar dan dosa-dosa kecil yang menunjukkan kehinaan jiwa, baik
sebelum maupun setelah diangkat menjadi nabi.
Nabi Ibrahim ‘Alaihissalam tidak pernah sedikit pun meragukan ketuhanan Allah
SWT. Beliau tidak pernah menyembah selain Allah, tidak pernah menyembah bulan,
bintang, atau matahari.
Nabi Ibrahim juga
tidak pernah menjual berhala. Ia justru mengancurkan berhala-berhala yang
disembah orang-orang musyrik. Dan Nabi Ibrahim tidak pernah meragukan sifat qudrah
(kemahakuasaan) Allah SWT. Begitu juga tidak pernah berdusta dalam
setiap ucapannya.
Kedua, Nabi Ibrahim berdakwah dengan penuh hikmah.
Hal itu tercermin
tatkala Nabi Ibrahim ‘Alaihissalam mengajak ayahnya untuk masuk ke dalam
agama Islam sebagaimana diceritakan dalam surat Al-Anbiya’ ayat 52-56 dan surat
Maryam ayat 4. Begitu juga dalam surat Maryam ayat 41-45.
Nabi Ibrahim ‘Alaihissalam
dengan menjaga adab seorang anak kepada orang tuanya menjelaskan dengan santun
kepada ayahnya yang menyembah berhala, bahwa berhala tidaklah dapat mendengar
doa penyembahnya dan tidak dapat melihat penyembahnya.
Ditegaskanlah,
bahwa yang demikian itu, bagaimana mungkin berhala dapat memberi manfaat kepada
penyembahnya, memberi rezeki kepadanya atau menolongnya.
Nabi Ibrahim dengan
penuh kelembutan mengajak ayahnya untuk menyembah kepada Allah semata,
satu-satunya Tuhan yang berhak dan wajib disembah.
اللهُ أَكْبَرُ،
اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، وَلِلّٰهِ الْحَمْدُ
Hadirin Rahimakumullah,
Ketiga, Nabi Ibrahim berilmu, memiliki hujjah yang
kuat dan beramar ma’ruf nahi mungkar dengan penuh keberanian.
Nabi Ibrahim
telah diberi hujjah yang kuat oleh Allah SWT, sehingga selalu dapat mematahkan
berbagai dalih yang dilontarkan oleh musuh-musuh Islam ketika berdebat.
Allah SWT
berfirman:
وَتِلۡكَ حُجَّتُنَآ
ءَاتَيۡنَٰهَآ إِبۡرَٰهِيمَ عَلَىٰ قَوۡمِهِۦ
Artinya: “Itulah
hujjah yang Kami anugerahkan kepada Ibrahim untuk menghadapi kaumnya.” (QS.
Al-An’am: 83)
Karena memiliki
hujjah yang kuat inilah, Nabi Ibrahim ‘Alaihissalam berhasil membungkam para
penduduk daerah Harran yang menganggap bulan, bintang, dan matahari sebagai
tuhan.
Nabi Ibrahim
menjelaskan kepada mereka, bahwa bulan, bintang, dan matahari tidak layak
disembah karena mereka adalah makhluk yang mengalami perubahan, terbit lalu
tenggelam.
Sesuatu yang
berubah dari satu keadaan ke keadaan yang lain pasti bukan tuhan. Karena
sesuatu yang berubah pasti membutuhkan kepada yang mengubahnya. Sesuatu yang
membutuhkan kepada yang lain, berarti ia lemah. Dan sesuatu yang lemah tidak
mungkin disebut sebagai tuhan yang layak disembah.
Perkataan Nabi Ibrahim
kepada kaumnya: هٰذَا رَبِّـي seperti dikisahkan dalam surat Al-An’am ayat 76-78
adalah dalam konteks mendebat kaumnya dan menjelaskan bahwa bulan, bintang, dan
matahari tidak layak disembah.
Perkataan
tersebut tidak berarti Ibrahim menetapkan bulan, bintang, dan matahari sebagai
tuhan. Karena Nabi Ibrahim pada hakikatnya tidak pernah mengalami fase
kebingungan mencari-cari Tuhan.
Sebelum
perdebatan itu, bahkan sebelum diangkat menjadi nabi, beliau telah mengetahui
dan meyakini bahwa satu-satunya Tuhan yang berhak disembah hanyalah Allah.
Dialah satu-satunya Pencipta segala sesuatu, Tuhan yang menghendaki terjadinya
segala sesuatu dan yang berbeda denga segala sesuatu.
Allah SWT
berfirman:
وَلَقَدۡ ءَاتَيۡنَآ
إِبۡرَٰهِيمَ رُشۡدَهُۥ مِن قَبۡلُ وَكُنَّا بِهِۦ عَٰلِمِينَ
Artinya: “Sungguh,
Kami (Allah) benar-benar telah menganugerahkan kepada Ibrahim petunjuk sebelum
masa kenabiannya (bahkan sejak ia masih kecil) dan Kami telah mengetahui
dirinya.” (QS. Al-Anbiya’: 51)
Jadi, perkataan
Nabi Ibrahim: هٰذَا رَبِّـي ketika melihat bulan, bintang dan matahari adalah
bermakna istifham inkariy, yakni beliau bertanya kepada kaumnya dengan
maksud mengingkari bukan dengan tujuan menetapkan, “Inikah Tuhanku?”
Seakan-akan
beliau ingin mengatakan, “Wahai kaumku, inikah tuhanku seperti yang kalian
sangka? Ini jelas bukan tuhanku karena ia berubah, terbit lalu terbenam.”
Demikianlah yang
dikatakan oleh para ulama tafsir. Ibrahim adalah seorang nabi yang ma’shum
dari kemusyrikan sebelum maupun setelah menjadi nabi.
Hadirin Rahimakumullah,
Keempat, bagi Nabi Ibrahim dalam berjuang
menegakkan agama Allah, tidak ada yang perlu ditakuti dan dikhawatirkan.
Demikianlah,
karena rezeki telah diatur. Ajal sudah termaktub. Berjuang menegakkan agama Allah
tidak akan mengurangi rezeki dan tak akan mempercepat ajal.
Hal itu
dibuktikan ketika Raja Namrud hendak melemparkannya ke dalam api yang
berkobar-kobar, Nabi Ibrahim tidak gentar sedikit pun. Ia yakin sepenuhnya
bahwa Allah akan menolong hamba-Nya yang memperjuangkan agama-Nya.
Kelima, Nabi Ibrahim tawakal sepenuhnya kepada Allah
tanpa meninggalkan ikhtiar.
Hal itu tercermin
pada peristiwa saat Ibrahim meninggalkan Hajar dan Ismail yang masih bayi di
Makkah yang tandus dan tiada sumber air.
Karena takwa dan
tawakal yang tertanam kuat di hati Ibrahim dan Hajar, akhirnya Ibrahim
meninggalkan keduanya karena menjalankan perintah Allah, dan Hajar rela
ditinggal di tempat itu.
Keenam, Nabi Ibrahim bersegera menjalankan
perintah Allah, seberat dan sebesar apa pun resikonya.
Setelah penantian
yang begitu panjang, akhirnya Allah mengaruniakan kepada Ibrahim seorang putra
yang kemudian diberi nama Ismail. Putra yang sangat dicintainya itu setelah
tumbuh menjadi seorang remaja, ternyata kemudian Ibrahim diperintahkan Allah
untuk menyembelihnya.
Dengan ketundukan
yang total kepada Allah, Ibrahim bersegera menjalankan perintah itu tanpa ada
keraguan sedikit pun.
Sang putra juga
menyambut perintah itu dengan kepasrahan yang total tanpa ada protes sepatah
kata pun.
Masya Allah, demikianlah
sebuah potret keluarga saleh yang lebih mengutamakan perintah Allah
dibandingkan dengan apa pun selainnya. Ayah dan anak saling menolong dan
menyemangati untuk melaksanakan perintah Allah.
Dialog indah
antara keduanya terekam dalam Alquran sebagaimana dikisahkan oleh Allah:
قَالَ يَٰبُنَيَّ
إِنِّيٓ أَرَىٰ فِي ٱلۡمَنَامِ أَنِّيٓ أَذۡبَحُكَ فَٱنظُرۡ مَاذَا تَرَىٰۚ
Artinya: “Ibrahim
berkata: ‘Duhai putraku, sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku
menyembelihmu, maka pikirkanlah apa pendapatmu?’”(QS.
Ash-Shaffat: 102)
Sebagaimana kita
tahu bahwa mimpi para nabi adalah wahyu. Sedangkan perkataan Nabi Ibrahim
kepada putranya, “Maka pikirkanlah apa pendapatmu?,” bukanlah permintaan
pendapat kepada putranya apakah perintah Allah itu akan dijalankan ataukah
tidak. Begitu juga bukanlah sebuah keragu-raguan.
Nabi Ibrahim
hanya ingin mengetahui kemantapan hati putranya dalam menerima perintah Allah
SWT.
Lalu dengan
kemantapan dan keteguhan hati, Nabi Ismail menjawab dengan jawaban yang
menunjukkan bahwa kecintaannya kepada Allah jauh melebihi kecintaannya kepada
jiwa dan dirinya sendiri:
قَالَ يَٰٓأَبَتِ
ٱفۡعَلۡ مَا تُؤۡمَرُۖ سَتَجِدُنِيٓ إِن شَآءَ ٱللَّهُ مِنَ ٱلصَّٰبِرِينَ
Artinya: “Ismail
menjawab: ‘Wahai ayahandaku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu, insya
Allah engkau akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar.’” (QS. Ash-Shafaat:
102)
Jawaban Isma’il
yang disertai pernyataan “insya Allah” menunjukkan keyakinan sepenuh
hati dalam dirinya bahwa segala sesuatu terjadi dengan kehendak Allah. Apa pun
yang dikehendaki Allah pasti terjadi, dan apa pun yang tidak dikehendaki Allah
pasti tidak akan terjadi.
اللهُ أَكْبَرُ،
اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، وَلِلّٰهِ الْحَمْدُ
Hadirin Jamaah
Shalat Idul Adha Rahimakumullah,
Demi mendengar
jawaban dari sang putra tercinta, Nabi Ibrahim ‘Alaihissalam
lantas menciumnya dengan penuh kasih sayang sembari menangis terharu dan
mengatakan kepada Ismail:
نِعْمَ الْعَوْنُ أَنْتَ يَا بُنَيَّ عَلَى أَمْرِ اللهِ
“Engkaulah
sebaik-baik penolong bagiku untuk menjalankan perintah Allah, duhai putraku.”
Nabi Ibrahim ‘Alaihissalam
kemudian mulai menggerakkan pisau di atas leher Ismail.
Akan tetapi pisau itu sedikit pun tidak dapat melukai leher Ismail.
Hal itu tidak
lain karena pencipta segala sesuatu tidak lain adalah Allah SWT. Pisau
hanyalah sebab terpotongnya sesuatu. Sedangkan pencipta terpotongnya sesuatu
dan pencipta segala sesuatu tiada lain adalah Allah SWT.
Jadi, sebab tidak
dapat menciptakan akibat. Pisau tidak dapat menciptakan terpotongnya leher Nabi
Ismail. Sebab maupun akibat, keduanya adalah ciptaan Allah SWT.
اللهُ أَكْبَرُ،
اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، وَلِلّٰهِ الْحَمْدُ
Hadirin
yang Berbahagia,
Berkat takwa,
sabar dan tawakal serta ketundukan total yang ditunjukkan oleh Nabi Ibrahim dan
Ismail serta Hajar, Allah kemudian memberikan jalan keluar dan mengganti Ismail
dengan seekor domba jantan yang besar dan berwarna putih yang dibawa malaikat
Jibril dari surga. Demikianlah kisan menakjubkan ini diabadikan dalam surat Ash-Shaffat
ayat 106-107.
Ma’asyiral
Muslimin Jamaah Shalat Idul Adha Rahimakumullah,
Mari kita berdoa,
semoga Allah menganugerahkan kepada kita kekuatan dan taufiknya untuk meneladani
kesalehan Nabi Ibrahim dan keluarganya. Amin.
أَقُوْلُ قَوْلِيْ هٰذَا وَأَسْتَغْفِرُ
اللهَ لِيْ وَلَكُمْ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.
Khutbah II
اللهُ أَكْبَرُ (3x) اللهُ أَكْبَرُ (3x) اللهُ أَكْبَرُ، وَلِلّٰهِ الْحَمْدُ.
الحَمْدُ لِلّٰهِ
الْمَلِكِ الدَّيَّانِ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى مُحَمَّدٍ سَيِّدِ وَلَدِ
عَدْنَانَ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَتَابِعِيْهِ عَلَى مَرِّ الزَّمَانِ، وَأَشْهَدُ
أَنْ لَّا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ الْمُنَـزَّهُ عَنِ الْجِسْمِيَّةِ
وَالْجِهَةِ وَالزَّمَانِ وَالْمَكَانِ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ
وَرَسُوْلُهُ الَّذِيْ كَانَ خُلُقُهُ الْقُرْآنَ.
أَمَّا بَعْدُ،
فَأُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللهِ عَزَّ وَجَلَّ، وَاتَّقُوا اللهَ تَعَالَى
فِي هٰذَا الْيَوْمِ الْعَظِيمِ، وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ عَظِيْمٍ،
أَمَرَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَالسَّلَامِ عَلَى نَبِيِّهِ الْكَرِيْمِ فَقَالَ: (إِنَّ ٱللَّهَ وَمَلَٰٓئِكَتَهُۥ يُصَلُّونَ
عَلَى ٱلنَّبِيِّۚ يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ صَلُّواْ عَلَيۡهِ وَسَلِّمُواْ
تَسۡلِيمًا).
اللهم صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى
سَيِّدِنَا وَنَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ الطَّيِّبِيْنَ، وَارْضَ اللهم عَنِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِينَ، أَبِي
بَكْرٍ وَعُمَرَ وَعُثْمَانَ وَعَلِيٍّ، وَعَنْ سَائِرِ الصَّحَابَةِ وَالصَّالِحِيْنَ.
اللهم اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ
وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ،
إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعَوَاتِ، اللهم اجْعَلْ عِيدَنَا هٰذَا سَعَادَةً
وَتَلَاحُمًا، وَمَسَرَّةً وَتَرَاحُمًا، وَزِدْنَا فِيهِ طُمَأْنِيْنَةً وَأُلْفَةً،
وَهَنَاءً وَمَحَبَّةً، وَأَعِدْهُ عَلَيْنَا بِالْخَيْرِ وَالرَّحَمَاتِ، وَالْيُمْنِ
وَالْبَرَكَاتِ.
اللهم اجْعَلِ الْمَوَدَّةَ
شِيمَتَنَا، وَبَذْلَ الْخَيْرِ لِلنَّاسِ دَأْبَنَا، اللهم أَدِمِ السَّعَادَةَ عَلَى
وَطَنِنَا، وَانْشُرِ الْبَهْجَةَ فِي بُيُوْتِنَا، وَاحْفَظْنَا فِي أَهْلِيْنَا وَأَرْحَامِنَا،
وَأَكْرِمْنَا بِكَرَمِكَ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ، رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا
حَسَنَةً، وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً، وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ، وَأَدْخِلْنَا الْجَنَّةَ
مَعَ الْأَبْرَارِ، يَا عَزِيزُ يَا غَفَّارُ.
عِبَادَ اللهِ،
إِنَّ ٱللَّهَ يَأۡمُرُ بِٱلۡعَدۡلِ وَٱلۡإِحۡسَٰنِ وَإِيتَآيِٕ ذِي ٱلۡقُرۡبَىٰ وَيَنۡهَىٰ
عَنِ ٱلۡفَحۡشَآءِ وَٱلۡمُنكَرِ وَٱلۡبَغۡيِۚ يَعِظُكُمۡ لَعَلَّكُمۡ تَذَكَّرُونَ،
فَاذكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ.
عِيْدٌ سَعِيْدٌ
وَكُلُّ عَامٍ وَأَنْتُمْ بِخَيْرٍ،
اَللّٰهُ اَكْبَرُ (3x) لاَاِلٰهَ اِلاَّ اللّٰهُ وَاللّٰهُ اَكْبَرُ، اَللّٰهُ اَكْبَرُ وَلِلّٰهِ الْحَمْدُ.