Sumber Turki ke Aljazeera Ungkap 5 Syarat Tuntutan AS ke Iran Demi Hentikan Perang
A Fahrur Rozi
Penulis
Admin
Editor
Teheran, MUI Digital— Sumber-sumber resmi Turki mengungkapkan kepada Aljazeera Net bahwa Ankara telah terlibat dalam upaya diplomatik yang sangat intensif untuk meredakan ketegangan dan mencegah eskalasi perang yang sedang berlangsung di Timur Tengah, serta berperan sebagai perantara untuk menyampaikan tuntutan Amerika Serikat kepada para pejabat Iran.
Sumber-sumber tersebut menjelaskan bahwa Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan dan Menteri Luar Negeri Hakan Fidan telah melakukan kontak telepon dengan sekitar 10 negara.
Hal ini dalam upaya memperpanjang batas waktu 48 jam yang diberikan Presiden AS Donald Trump kepada Iran untuk membuka Selat Hormuz, serta untuk mencari landasan dialog.
MUI Digital, mengutip Aljazeera, Rabu (25/3/2026), sumber-sumber tersebut juga menyebutkan bahwa Amerika Serikat telah menyerahkan tuntutan terbarunya terkait penghentian perang kepada pejabat di Turki dan Pakistan, yang kemudian meneruskannya kepada rekan-rekan mereka di Iran.
Sumber-sumber tersebut menambahkan bahwa mengingat adanya berbagai struktur dan pusat kekuasaan di dalam Iran, pesan-pesan Amerika Serikat telah disampaikan kepada beberapa pejabat Iran secara bersamaan.
Baca juga: Pemerintah Siapkan 10 Langkah Mitigasi Tangani Jamaah Umrah Terdampak Perang Iran
5 poin utama
Sumber-sumber tersebut menyoroti bahwa di antara tuntutan utama Amerika Serikat yang tercantum dalam pesan-pesan yang dikirimkan, antara lain:
- Pembukaan Selat Hormuz dan kembalinya lalu lintas maritim ke keadaan normal
- Penghentian total aktivitas nuklir
- Pengeluaran seluruh jumlah uranium yang diperkaya dari Iran
- Pembatasan rudal Iran agar hanya untuk tujuan pertahanan
- Penarikan dukungan Iran terhadap “agen-agen” di kawasan tersebut.
Sumber-sumber tersebut melihat adanya kesamaan yang besar antara tuntutan Amerika Serikat dengan tuntutan sebelumnya sebelum perang namun Washington telah menaikkan standar tuntutannya dengan menambahkan poin-poin baru, berdasarkan situasi lapangan saat ini.
Baca juga: MUI Terbitkan 7 Tausiyah Respons Situasi Geopolitik Dunia dan Eskalasi Timur Tengah
Eskalasi tuntutan semacam ini pernah terlihat pada tahap awal negosiasi, dan bahwa para pihak mungkin akan mendekati kesepakatan pada poin-poin tertentu dan tuntutan tersebut mungkin berubah.
Sumber-sumber di Ankara tidak memberikan rincian lebih lanjut mengenai isi surat-surat tersebut, menggambarkan situasi sebagai stabil namun dapat berkembang, sambil mencatat bahwa Teheran belum menanggapi surat-surat yang ditujukan kepadanya.
Perlu dicatat bahwa Amerika Serikat telah menyampaikan pesan yang sama kepada pusat-pusat kekuasaan di Iran melalui berbagai negara.
Hal ini disebabkan oleh hilangnya tokoh-tokoh penting dalam serangan yang terjadi di Iran, serta adanya perpecahan kekuasaan di negara tersebut, di mana Pakistan dan Turki muncul sebagai dua negara terdepan dalam hal ini.
Untuk meredakan ketegangan, Turki juga mengelola gerakan diplomatik melalui saluran tidak resmi, dengan menjalin komunikasi dengan tokoh-tokoh penting yang dekat dengan Presiden AS yang pernah berhubungan dengannya selama krisis Suriah dan Gaza, di mana telah dilakukan komunikasi dengan banyak tokoh, terutama Utusan Khusus Steve Witkoff.
Sumber-sumber di Ankara menegaskan bahwa mengingat eskalasi konflik telah mencapai tingkat yang akan berdampak pada seluruh dunia, telah dilakukan komunikasi dengan Eropa, PBB, dan beberapa negara penting, dan semua pihak didorong untuk melakukan upaya guna meredakan eskalasi.
Sebelumnya pada Selasa (24/3/2026), Presiden AS Donald Trump berbicara tentang peluang yang menjanjikan untuk mencapai kesepakatan dengan Iran, sambil menegaskan keseriusannya kali ini.
Sementara Teheran mengakui telah bertukar surat dengan Washington yang disampaikan oleh pejabat dari Pakistan, Mesir, dan Turki di tengah kabar mengenai dokumen 15 poin yang dikirimkan AS kepada Iran.
Jaringan “CNN” juga mengutip sumber-sumber yang menyebutkan bahwa Teheran telah memberi tahu Washington bahwa mereka tidak ingin melanjutkan negosiasi dengan utusan AS Steve Witkoff dan Jared Kushner, dan lebih memilih untuk bernegosiasi langsung dengan Wakil Presiden AS JD Vance.