Mesir Kecam Penyerbuan Masjid Al-Aqsa Oleh Menteri Israel
Latifahtul Jannah
Penulis
Admin
Editor
Jakarta, MUI Digital — Pemerintah Mesir mengecam keras tindakan Menteri Keamanan Nasional Israel, Itamar Ben-Gvir, yang melakukan penyerbuan ke kompleks Masjid Al-Aqsa di Yerusalem Timur.
Dikutip MUI Digital dari Egypt Independent pada Kamis (16/4/2026), Kementerian Luar Negeri Mesir menyatakan bahwa tindakan tersebut merupakan eskalasi berbahaya sekaligus provokasi yang tidak dapat diterima.
Dalam keterangan resminya, Mesir menilai langkah itu sebagai pelanggaran nyata terhadap hukum internasional dan hukum humaniter internasional, serta berpotensi merusak status historis dan hukum yang berlaku di Yerusalem Timur.
Mesir juga menegaskan penolakan penuh terhadap segala bentuk praktik yang melanggar kesucian situs-situs suci Islam di Yerusalem, khususnya kompleks Masjid Al-Aqsa.
Selain itu, Mesir menekankan bahwa seluruh kawasan Masjid Al-Aqsa merupakan tempat ibadah yang diperuntukkan secara eksklusif bagi umat Islam. Oleh karena itu, setiap upaya untuk mengubah status quo dinilai tidak dapat diterima.
Pemerintah Mesir turut menegaskan bahwa Israel tidak memiliki kedaulatan atas wilayah Palestina yang diduduki, termasuk Yerusalem Timur.
Mesir juga menyampaikan kekhawatiran mendalam atas pembatasan yang terus diberlakukan terhadap para jemaah yang hendak memasuki Masjid Al-Aqsa, serta pembatasan kebebasan beribadah yang dinilai sebagai pelanggaran serius terhadap hukum internasional.
Kondisi tersebut dinilai berpotensi memicu ketegangan dan meningkatkan risiko konflik di wilayah Palestina yang diduduki.
Dalam pernyataan yang sama, Mesir menyerukan pentingnya menjaga kesucian Masjid Al-Aqsa serta menghormati peran historis dan hukum lembaga Waqf Islam di Yerusalem.
Mesir juga menyoroti peran pengawasan Hashemite dalam pengelolaan Masjid Al-Aqsa, termasuk dalam mengatur akses ke kawasan tersebut guna menjaga kesucian dan mempertahankan status quo.
Sementara itu, penasihat Al-Ahram Center for Strategic Studies, Abdel-Aleem Mohamed, menyatakan bahwa rangkaian penyerbuan ke Masjid Al-Aqsa tidak dapat dipisahkan dari strategi jangka panjang kelompok keagamaan dan nasionalis ekstrem di Israel.
Baca juga: Palestina Kecam Penyerbuan Masjid Al-Aqsa Oleh Menteri Israel: Pelanggaran Berat
Dia menilai tindakan tersebut merupakan bagian dari upaya sistematis untuk mengubah status quo di Masjid Al-Aqsa dan menguasainya secara penuh.
Menurutnya, menguatnya kelompok sayap kanan ekstrem di Israel turut mendorong berkembangnya narasi yang disebut sebagai “mitos religius” terkait pembangunan kembali kuil.
Narasi tersebut didasarkan pada gagasan penghancuran Masjid Al-Aqsa dan pembangunan apa yang mereka sebut sebagai “Kuil Ketiga”, yang dinilai menjadi salah satu faktor meningkatnya intensitas penyerbuan serta kebijakan di lapangan.
Situasi ini terus menjadi perhatian internasional seiring meningkatnya kekhawatiran terhadap stabilitas kawasan dan potensi eskalasi konflik yang lebih luas.
Menteri Keamanan Nasional Israel, Itamar Ben-Gvir, kembali melakukan penyerbuan ke kompleks Masjid Al-Aqsa pada Ahad (13/4/2026) pagi, bersama sekelompok pemukim Israel di bawah pengawalan ketat aparat kepolisian Israel.
Baca juga: Kecam Israel, Mufti Oman Desak Dunia Islam Ambil Tindakan Atas Palestina
Asharq Al-Awsat melansir Kantor Berita Palestina (WAFA) melaporkan bahwa dalam insiden tersebut para pemukim melakukan ritual doa Talmud di halaman Masjid Al-Aqsa.
Tindakan tersebut dinilai sebagai langkah provokatif baru yang bertujuan memaksakan realitas keagamaan baru di kawasan tersebut, serta memperkuat pembagian waktu dan ruang di kompleks Masjid Al-Aqsa.
Pemerintah Yerusalem menyatakan bahwa aksi tersebut terjadi di tengah meningkatnya pelanggaran terhadap situs suci Islam dan Kristen di Yerusalem Timur yang diduduki, serta berlanjutnya pembatasan akses bagi para jamaah.
Dalam sebuah video yang direkam di lokasi dan dipublikasikan oleh kantornya, Ben-Gvir menyatakan, “Hari ini saya merasa bahwa saya adalah pemilik tempat ini,” sebagaimana dikutip dari Reuters.
Ia juga menambahkan bahwa masih banyak langkah yang perlu dilakukan, serta mendesak Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, untuk mengambil tindakan lebih lanjut.
“Kita harus terus melangkah maju secara bertahap,” ujarnya.
Kementerian Luar Negeri Yordania mengecam kunjungan tersebut dan menyebutnya sebagai pelanggaran terang-terangan terhadap status historis dan hukum yang berlaku di kawasan suci tersebut, serta sebagai tindakan yang mencederai kesuciannya.
Pihak Yordania juga menilai langkah tersebut sebagai bentuk eskalasi yang tidak dapat diterima dan provokasi yang berbahaya.
Sementara itu, dikutip MUI Digital dari Saudi Gazette, penyerbuan tersebut terjadi di tengah meningkatnya pengamanan di Yerusalem Timur.
Laporan tersebut menyebutkan bahwa pasukan Israel memperketat akses di sejumlah wilayah, termasuk Kota Tua dan kawasan Gerbang Damaskus, yang dijadikan zona dengan pengamanan tinggi.
Langkah ini dilakukan bertepatan dengan perayaan Sabtu Suci di Gereja Makam Kudus, di tengah meningkatnya ketegangan di kawasan.
Sebelumnya, otoritas setempat juga sempat menutup gereja tersebut selama 40 hari dengan alasan keamanan, seiring meningkatnya ketegangan regional.
Masjid Al-Aqsa merupakan situs suci ketiga bagi umat Islam, sementara bagi umat Yahudi kawasan tersebut dikenal sebagai Temple Mount.
Hingga saat ini, kantor Perdana Menteri Israel belum memberikan tanggapan resmi terkait insiden tersebut.
Dalam beberapa peristiwa sebelumnya, pemerintah Israel menegaskan tidak ada perubahan kebijakan dalam mempertahankan status quo di kawasan tersebut.
Insiden ini kembali memicu kecaman dari berbagai pihak internasional, seiring meningkatnya kekhawatiran terhadap eskalasi ketegangan di Yerusalem dan wilayah Palestina yang diduduki.