Palestina Kecam Penyerbuan Masjid Al-Aqsa Oleh Menteri Israel: Pelanggaran Berat
Miftahul Jannah
Penulis
Admin
Editor
Jakarta, MUI Digital – Warga Palestina mengecam keras penyerbuan kompleks Masjid Al-Aqsa oleh Menteri Keamanan Nasional Israel, Itamar Ben-Gvir, dikutip MUI Digital dari Aljazeera pada Senin (13/4/2026).
Ben-Gvir dilaporkan memasuki kawasan suci tersebut di Kota Tua Yerusalem Timur yang diduduki, didampingi para pemukim Israel dengan pengawalan ketat aparat keamanan. Aksi ini merupakan yang ketiga kalinya dilakukan Ben-Gvir sepanjang tahun ini.
Dalam kunjungannya, Ben-Gvir juga diketahui memanjatkan doa-doa Yahudi di area kompleks, yang menurut kesepakatan status quo sejak 1967 tidak diperbolehkan bagi non-Muslim, meskipun kunjungan tetap diizinkan.
Kementerian Luar Negeri Yordania mengecam tindakan tersebut dan menyebutnya sebagai pelanggaran terhadap kesepakatan yang berlaku serta penodaan terhadap kesucian Masjid Al-Aqsa.
Sementara itu, Kepresidenan Otoritas Palestina juga mengutuk keras langkah tersebut. Dalam pernyataannya, tindakan itu dinilai sebagai pelanggaran terang-terangan terhadap status quo historis dan hukum di situs suci umat Islam.
Diketahui, sejak menjabat pada 2022, Ben-Gvir telah beberapa kali memasuki kompleks Al-Aqsa dan merupakan bagian dari kelompok pemukim yang ingin mengubah status kawasan tersebut, termasuk rencana pembangunan sinagoge di area yang sama.
Ketegangan meningkat setelah sebelumnya Israel menutup Masjid Al-Aqsa selama 40 hari di tengah konflik regional, termasuk ketegangan dengan Iran. Masjid kemudian kembali dibuka pada 9 April, namun di hari yang sama kembali terjadi penyerbuan oleh pemukim Israel yang melakukan ritual keagamaan di bawah pengawalan aparat.
Baca juga: Ratusan Ribu Umat Muslim Beribadah di Al-Aqsa dengan Penuh Haru
Selain itu, otoritas Israel juga dilaporkan memperpanjang durasi kunjungan pemukim ke kompleks tersebut.
Di sisi lain, operasi militer Israel terus berlangsung di wilayah Tepi Barat. Sedikitnya 18 warga Palestina ditangkap dalam penggerebekan terbaru, termasuk di kamp pengungsi Dheisheh, selatan Betlehem. Insiden kekerasan juga dilaporkan terjadi di Nablus yang menyebabkan sejumlah warga terluka.
Menurut Kantor PBB untuk Koordinasi Urusan Kemanusiaan (OCHA), lebih dari 1.100 warga Palestina telah tewas di Tepi Barat sejak Oktober 2023, sementara ribuan lainnya terpaksa mengungsi akibat eskalasi konflik yang terus berlangsung.
Situasi ini semakin memperlihatkan meningkatnya ketegangan di kawasan, seiring berlanjutnya konflik yang juga melibatkan Gaza, Iran, dan Lebanon.
Menteri Keamanan Nasional Israel, Itamar Ben-Gvir, kembali melakukan penyerbuan ke kompleks Masjid Al-Aqsa pada Ahad (13/4/2026) pagi, bersama sekelompok pemukim Israel di bawah pengawalan ketat aparat kepolisian Israel.
Asharq Al-Awsat melansir Kantor Berita Palestina (WAFA) melaporkan bahwa dalam insiden tersebut para pemukim melakukan ritual doa Talmud di halaman Masjid Al-Aqsa.
Tindakan tersebut dinilai sebagai langkah provokatif baru yang bertujuan memaksakan realitas keagamaan baru di kawasan tersebut, serta memperkuat pembagian waktu dan ruang di kompleks Masjid Al-Aqsa.
Pemerintah Yerusalem menyatakan bahwa aksi tersebut terjadi di tengah meningkatnya pelanggaran terhadap situs suci Islam dan Kristen di Yerusalem Timur yang diduduki, serta berlanjutnya pembatasan akses bagi para jamaah.
Dalam sebuah video yang direkam di lokasi dan dipublikasikan oleh kantornya, Ben-Gvir menyatakan, “Hari ini saya merasa bahwa saya adalah pemilik tempat ini,” sebagaimana dikutip dari Reuters.
Ia juga menambahkan bahwa masih banyak langkah yang perlu dilakukan, serta mendesak Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, untuk mengambil tindakan lebih lanjut.
“Kita harus terus melangkah maju secara bertahap,” ujarnya.
Kementerian Luar Negeri Yordania mengecam kunjungan tersebut dan menyebutnya sebagai pelanggaran terang-terangan terhadap status historis dan hukum yang berlaku di kawasan suci tersebut, serta sebagai tindakan yang mencederai kesuciannya.
Pihak Yordania juga menilai langkah tersebut sebagai bentuk eskalasi yang tidak dapat diterima dan provokasi yang berbahaya.
Sementara itu, dikutip MUI Digital dari Saudi Gazette, penyerbuan tersebut terjadi di tengah meningkatnya pengamanan di Yerusalem Timur.
Laporan tersebut menyebutkan bahwa pasukan Israel memperketat akses di sejumlah wilayah, termasuk Kota Tua dan kawasan Gerbang Damaskus, yang dijadikan zona dengan pengamanan tinggi.
Langkah ini dilakukan bertepatan dengan perayaan Sabtu Suci di Gereja Makam Kudus, di tengah meningkatnya ketegangan di kawasan.
Sebelumnya, otoritas setempat juga sempat menutup gereja tersebut selama 40 hari dengan alasan keamanan, seiring meningkatnya ketegangan regional.
Masjid Al-Aqsa merupakan situs suci ketiga bagi umat Islam, sementara bagi umat Yahudi kawasan tersebut dikenal sebagai Temple Mount.
Hingga saat ini, kantor Perdana Menteri Israel belum memberikan tanggapan resmi terkait insiden tersebut.
Dalam beberapa peristiwa sebelumnya, pemerintah Israel menegaskan tidak ada perubahan kebijakan dalam mempertahankan status quo di kawasan tersebut.
Insiden ini kembali memicu kecaman dari berbagai pihak internasional, seiring meningkatnya kekhawatiran terhadap eskalasi ketegangan di Yerusalem dan wilayah Palestina yang diduduki.