Kecam Israel, Mufti Oman Desak Dunia Islam Ambil Tindakan Atas Palestina
Latifahtul Jannah
Penulis
Admin
Editor
Jakarta, MUI Digital — Mufti Besar Kesultanan Oman, Sheikh Ahmed bin Hamad al-Khalili, menyerukan dunia Islam untuk bersatu menghadapi apa yang dia sebut sebagai agresi Zionis terhadap Palestina dan Lebanon.
Dikutip MUI Digital, Rabu (15/4/2026), dari Kantor Berita Yaman (Saba), Sheikh al-Khalili menyatakan bahwa dunia Islam perlu mengambil sikap tegas terhadap perkembangan situasi di kawasan tersebut.
Dalam unggahan di platform X yang dipantau Saba, dia juga menyampaikan pandangannya terkait kesepakatan antara Iran dan sekutunya dengan Amerika Serikat serta sekutunya, yang menurutnya membawa perkembangan tertentu dalam dinamika politik global.
Sheikh al-Khalili menyatakan bahwa dirinya menyambut baik kesepakatan tersebut.
Sebelumnya, Sheikh al-Khalili mengecam sikap diam dunia Islam dan komunitas internasional terhadap kondisi di Palestina.
Dia menyoroti berbagai situasi yang menurutnya terjadi di wilayah tersebut, termasuk pembatasan akses ke Masjid Al-Aqsa, perlakuan terhadap tahanan Palestina, serta pembatasan hak-hak keagamaan.
Dalam pernyataannya, dia mempertanyakan respons dunia internasional dengan mengatakan, “Apakah hati nurani manusia telah mati? Apakah semangat keagamaan telah mengering?”
Sheikh al-Khalili juga menilai bahwa ketidakpedulian terhadap situasi di Palestina merupakan bentuk ketidakadilan yang serius.
Dia menegaskan bahwa dunia Islam harus segera mengambil langkah nyata atas kondisi tersebut.
Sementara itu, laporan Saba juga mengutip pernyataan juru bicara Brigade Abu Ali Mustafa, Abu Jamal, yang memperingatkan Israel terkait rencana kebijakan terhadap tahanan Palestina.
Dia menyebut bahwa setiap tindakan yang membahayakan nyawa tahanan akan membawa konsekuensi serius.
Abu Jamal juga menegaskan bahwa kelompok perlawanan tidak akan tinggal diam terhadap kebijakan yang dianggap mengancam keselamatan tahanan Palestina.
Hingga kini, situasi di kawasan tersebut masih menjadi perhatian internasional di tengah meningkatnya ketegangan.
Sebelumnya, Menteri Keamanan Nasional Israel, Itamar Ben-Gvir, kembali melakukan penyerbuan ke kompleks Masjid Al-Aqsa pada Ahad (13/4/2026) pagi, bersama sekelompok pemukim Israel di bawah pengawalan ketat aparat kepolisian Israel.
Asharq Al-Awsat melansir Kantor Berita Palestina (WAFA) melaporkan bahwa dalam insiden tersebut para pemukim melakukan ritual doa Talmud di halaman Masjid Al-Aqsa.
Tindakan tersebut dinilai sebagai langkah provokatif baru yang bertujuan memaksakan realitas keagamaan baru di kawasan tersebut, serta memperkuat pembagian waktu dan ruang di kompleks Masjid Al-Aqsa.
Pemerintah Yerusalem menyatakan bahwa aksi tersebut terjadi di tengah meningkatnya pelanggaran terhadap situs suci Islam dan Kristen di Yerusalem Timur yang diduduki, serta berlanjutnya pembatasan akses bagi para jamaah.
Dalam sebuah video yang direkam di lokasi dan dipublikasikan oleh kantornya, Ben-Gvir menyatakan, “Hari ini saya merasa bahwa saya adalah pemilik tempat ini,” sebagaimana dikutip dari Reuters.
Ia juga menambahkan bahwa masih banyak langkah yang perlu dilakukan, serta mendesak Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, untuk mengambil tindakan lebih lanjut.
“Kita harus terus melangkah maju secara bertahap,” ujarnya.
Kementerian Luar Negeri Yordania mengecam kunjungan tersebut dan menyebutnya sebagai pelanggaran terang-terangan terhadap status historis dan hukum yang berlaku di kawasan suci tersebut, serta sebagai tindakan yang mencederai kesuciannya.
Pihak Yordania juga menilai langkah tersebut sebagai bentuk eskalasi yang tidak dapat diterima dan provokasi yang berbahaya.
Sementara itu, dikutip MUI Digital dari Saudi Gazette, penyerbuan tersebut terjadi di tengah meningkatnya pengamanan di Yerusalem Timur.
Laporan tersebut menyebutkan bahwa pasukan Israel memperketat akses di sejumlah wilayah, termasuk Kota Tua dan kawasan Gerbang Damaskus, yang dijadikan zona dengan pengamanan tinggi.
Langkah ini dilakukan bertepatan dengan perayaan Sabtu Suci di Gereja Makam Kudus, di tengah meningkatnya ketegangan di kawasan.
Sebelumnya, otoritas setempat juga sempat menutup gereja tersebut selama 40 hari dengan alasan keamanan, seiring meningkatnya ketegangan regional.
Masjid Al-Aqsa merupakan situs suci ketiga bagi umat Islam, sementara bagi umat Yahudi kawasan tersebut dikenal sebagai Temple Mount.
Hingga saat ini, kantor Perdana Menteri Israel belum memberikan tanggapan resmi terkait insiden tersebut.
Dalam beberapa peristiwa sebelumnya, pemerintah Israel menegaskan tidak ada perubahan kebijakan dalam mempertahankan status quo di kawasan tersebut.
Insiden ini kembali memicu kecaman dari berbagai pihak internasional, seiring meningkatnya kekhawatiran terhadap eskalasi ketegangan di Yerusalem dan wilayah Palestina yang diduduki.