Ketua Musyrif Diny: Doa di Arafah Adalah Senjata Jamaah untuk Mengubah Hal yang Mustahil
Sadam Al Ghifari
Penulis
Muhammad Fakhruddin
Editor
Arafah, MUI Digital--Puncak ibadah haji, wukuf di Arafah, selalu membawa kekhusyukan mendalam bagi jutaan umat Muslim dari seluruh dunia. Di balik teriknya cuaca gurun, esensi wukuf menyimpan kekuatan spiritual yang luar biasa.
Ketua Musyrif Diny, KH M Cholil Nafis mengatakan bahwa wukuf di Arafah bukan sekadar ritual fisik, melainkan momentum bagi jamaah untuk membawa 'senjata' terkuat mereka, yaitu doa.
Wakil Ketua Umum MUI ini menerangkan, doa yang dipanjatkan secara ikhlas di tempat dan waktu yang mustajab ini mampu mengubah garis takdir dan hal-hal yang secara akal manusia dianggap mustahil.
Baca juga: KH Cholil Nafis: Wukuf di Arafah adalah Momen Melepaskan Atribut Duniawi dan Mengenal Diri
"Bagi kita orang mukmin, ad-du'a silahul mukmin doa itu adalah senjatanya orang mukmin. Mungkin ada hal yang tak mungkin diubah secara akal manusia, tapi kalau Allah SWT berkehendak melalui doa yang kita panjatkan, hal itu bisa diubah," kata Kiai Cholil saat berada di Arafah, Arab Saudi, Selasa (26/5/2026) Waktu Arab Saudi (WAS).
Kiai Cholil mengungkapkan, kondisi ekstrem sempat membayangi persiapan wukuf, di mana suhu udara pada hari-hari sebelumnya sempat menyentuh angka 49 hingga 50 derajat celsius. Namun, pada hari pelaksanaan wukuf, suasana terasa jauh lebih sejuk dan bersahabat.
"Kemarin memang panas sekali, tapi hari ini saya lihat cuaca masih di kisaran 40 derajat celsius, jadi tidak terlalu panas. Di Arafah ini mungkin pertolongan dari Allah SWT saat wukuf berlangsung," ungkapnya.
Baca juga: Sempat Menyentuh 50 Derajat, KH Cholil Nafis Sebut Cuaca Sejuk Saat Wukuf Adalah Pertolongan Allah
Pengasuh Pondok Pesantren Cendekia Amanah, Depok, Jawa Barat ini mengungkapkan bahwa penurunan suhu ini disambut antusias oleh jamaah yang telah mengantre bertahun-tahun untuk bisa hadir di tempat suci tersebut. Banyak jamaah yang dengan khusyuk membaca Alquran dan berdzikir.
Lebih lanjut, Ketua Badan Pengurus Dewan Syariah Nasional (DSN) MUI ini menjelaskan bahwa wukuf di Arafah adalah rukun haji yang paling inti (al-hajju Arafah). Berbeda dengan wajib haji yang bisa diganti dengan membayar dam (denda) jika ditinggalkan, rukun haji bersifat mutlak dan menentukan sah atau tidaknya ibadah haji seseorang.
Secara harfiah, kata 'Arafah' memiliki arti berhenti. Momentum berhenti di padang Arafah ini diharapkan menjadi ruang bagi jamaah untuk merenung dan melakukan introspeksi mendalam.
"Seringkali kita tidak mengenal diri kita sendiri hingga harus bertanya ke orang lain. Di Arafah ini kita diajak mengenal dan memahami diri. Karena dengan mengenal dirinya, seseorang akan mengenal Allah SWT yang menciptakan dirinya," tambahnya.
Wukuf di Arafah juga menjadi momentum pemurnian tauhid. Dengan kondisi jamaah yang tampil lusuh dan berdebu setelah mengorbankan harta, ilmu, jabatan, hingga keluarga di Tanah Air, demi datang semata-mata untuk menghamba.
"Di sini kita mengembalikan semuanya kepada Allah. Memastikan bahwa yang dituhankan hanya Allah, bukan atasan, bukan popularitas, intelektual, harta, ataupun jabatan. Keistimewaan spiritual total seperti ini tidak akan ditemukan dalam ibadah ataupun di tempat lainnya di dunia," kata CEO Amanah Zakat ini.