Kritik Mentalitas Tangan di Bawah, Kiai Said: Alquran Sebut Harta Itu Kebaikan
Sadam Al Ghifari
Penulis
Admin
Editor
Jakarta, MUI Digital— Ketua Dewan Pengawas Inkopontren Prof KH Said Aqil Siradj, menyampaikan kritik terhadap mentalitas sebagian umat Islam yang masih terjebak dalam kemiskinan dan gemar meminta-minta.
Ulama yang akrab disapa Kiai Said ini menegaskan bahwa Islam mengajarkan umatnya untuk menjadi kelompok "tangan di atas" (pemberi) melalui kemandirian ekonomi dan penguasaan ilmu pengetahuan.
Kiai Said meluruskan salah kaprah sebagian masyarakat yang memandang harta atau dunia sebagai sesuatu yang kotor atau bangkai.
Sebaliknya, ia memaparkan bahwa Alquran justru menggunakan redaksi yang sangat positif untuk menggambarkan materi.
"Harta itu, Alquran meredaksikannya sebagai khayr (kebaikan). Enggak pernah ada Alquran mengatakan harta itu jelek, tidak ada. Manusia itu sangat mencintai khayr, uang. Jadi Alquran selalu mengatakan uang itu khayr, artinya baik," ujar Kiai Said dalam acara Rakernas Inkopontren di Gedung Smesco, Pancoran, Jakarta Selatan, Rabu (20/5/2026).
Baca juga: Dari Sarung hingga Batik, Kemnaker Dorong Produk Santri Kuasai Pasar Ekspor Lewat Inkopontren
Menurutnya, yang salah selama ini bukanlah dunianya, melainkan penyakit hati berupa cinta dunia berlebihan (wahn) dan sifat kikir yang menyertainya.
Kiai Said juga mengingatkan sebuah riwayat dari peristiwa Isra Mi'raj, di mana Nabi Muhammad SAW diperlihatkan sosok manusia berbadan tinggi besar namun wajahnya bolong tanpa daging.
"Nabi kaget lalu bertanya siapa itu? Dijawab, itu adalah umatmu yang rajin bikin 'komproposal' (mengajukan proposal/minta-minta). Upayakan kita ini jadi musyahid (saksi/pemberi) terus, jangan jadi penerima terus," sentilnya dibarengi kelakar khasnya.
Lebih lanjut, ulama asal Cirebon ini menyayangkan jika ada masyarakat saat ini yang tidak memiliki kapasitas apa-apa namun memiliki sifat kikir.
"Wali bukan, kaya tidak, melainkan pelit. Itu sempurna banget kelakuannya," cetus Kiai Said yang disambut tawa jemaah.
Baca juga: Buka Rakernas Inkopontren, Kiai Marsudi Ajak Ubah Paragdima Lama Beralih Menjadi ‘Bos Besar’
Membahas tentang kemandirian, Kiai Said membagi kehidupan dalam dua dimensi. Pertama, sunatullah (hukum sebab-akibat/sistem) dan Takdir Allah.
Ia menegaskan bahwa umat Islam tidak boleh bermalas-malasan lalu menjadikan takdir sebagai kambing hitam atas kegagalan mereka.
"Jika ingin lulus ujian harus belajar, dan jika ingin kaya harus bekerja keras secara profesional. Ikhtiar mati-matian itulah yang dinilai sebagai ibadah dan memiliki pahala di sisi Allah. Setelah ikhtiar maksimal dilakukan, barulah hasilnya diserahkan kepada takdir," tegasnya.
Kiai Said memberikan target moral yang tinggi bagi umat Islam untuk bangkit dari ketertinggalan ekonomi dan kepemimpinan.
"Kita harus menjadi pemimpin di atas, tidak boleh di bawah. Menang itu wajib, kalah itu dosa. Jangan sampai kamu mati meninggalkan anak yang melarat. Usahakan kamu mati meninggalkan anak yang sejahtera. Artinya kita harus mampu mewariskan kesehatan dan kesejahteraan," tegasnya.
Ia mencontohkan bagaimana perjuangan besar Islam sejak zaman Rasulullah SAW selalu ditopang oleh para saudagar kaya raya seperti Usman bin Affan, Sa'ad bin Abi Waqqas, hingga Abdurrahman bin Auf.
Begitu pula sejarah berdirinya NU di berbagai daerah pada tahun 1930-an yang digerakkan menggunakan uang pribadi para kiai saudagar, seperti Kiai Wahab Hasbullapeh, tanpa ketergantungan pada pihak luar.