Buka Rakernas Inkopontren, Kiai Marsudi Ajak Ubah Paragdima Lama Beralih Menjadi ‘Bos Besar’
Sadam Al Ghifari
Penulis
Admin
Editor
Jakarta, MUI Digital – Induk Koperasi Pondok Pesantren (Inkopontren) resmi menggelar Rapat Kerja Nasional (Rakernas) yang berlangsung pada 20–21 Mei 2026 di Gedung Smesco Indonesia, Pancoran, Jakarta Selatan.
Mengusung tema "Modernisasi Koperasi Pondok Pesantren: untuk Pertumbuhan Ekonomi dan Pemerataan Kesejahteraan Rakyat," agenda strategis ini menjadi momentum penting dalam mendorong kemandirian ekonomi berbasis umat.
Dalam sambutannya, Ketua Umum Inkopontren, KH Marsudi Syuhud, menekankan pentingnya transformasi mental di lingkungan pesantren.
Wakil Ketua Umum MUI ini mendorong agar ekosistem pesantren, mencakup santri, ustadz, hingga kiai, tidak lagi berfokus sebagai penerima bantuan, melainkan bertransformasi menjadi penggerak ekonomi yang mandiri.
Kiai Marsudi menyoroti potensi masif yang dimiliki oleh sekitar 42 ribu pondok pesantren di seluruh Indonesia.
Menurutnya, tujuan utama dari modernisasi ekonomi pesantren adalah menjadikan komunitas besar ini sebagai pilar utama pembayar zakat dan pemberi sedekah terbesar di Tanah Air.
"Setiap kali ada perintah melaksanakan shalat, di situ pula ada perintah membayar zakat. Artinya, kita diperintahkan untuk menjadi 'bos besar' menjadi pembayar zakat, pemberi sedekah, infak, dan wakaf," ujar Kiai Marsudi.
Baca juga: Lantai Terkena Najis Basah, Bagaimana Cara Mensucikannya?
Kiai Marsudi mengajak seluruh elemen pesantren untuk menggeser paradigma lama secara total.
"Jadi para santri, ustadz, dan kiai, ini kita ubah sedikit mentalnya. Jangan sampai hanya menjadi penerima zakat atau sekadar mencari sedekah. Mestinya kita ini yang menjadi pembayar zakat, infak, sedekah, bahkan pembayar pajak yang besar. Dengan begitu, orang-orang pesantren inilah yang akan menjadi bos dan orang kaya," tegasnya.
Mengutip prinsip penting dalam berusaha, Kiai Marsudi mengingatkan agar umat Islam bersungguh-sungguh dalam mengambil peluang yang bermanfaat di dunia sebagai bekal menuju akhirat.
Oleh karena itu, melalui momentum Rakernas ini, Inkopontren diharapkan mampu merumuskan program kerja yang konkret dan dapat direalisasikan secara nyata, bukan sekadar di atas kertas.
Baca juga: 'Aku Cinta Indonesia' Kesan Petugas Bandara Jeddah Asal Pakistan Atas Kedermawanan Jamaah Haji
Pengasuh Pondok Pesantren Ekonomi Darul Uchuwah ini menekankan dua aspek dalam Rakernas ini. Pertama, monumental dengan mengutamakan program yang memberikan dampak besar dan nyata
"Kedua, program harus bisa berjalan terus menerus dalam jangka panjang," ungkapnya.
Kiai Marsudi menegaskan penyusunan program Inkopontren tidak perlu menitikberatkan pada kuantitas, melainkan pada program yang monumental dan bisa berjalan terus secara konsisten.
Sebagai organisasi yang telah berkiprah sejak 1998, Inkopontren dituntut untuk meninggalkan warisan (legacy) yang produktif bagi generasi penerus.
Kiai Marsudi berpesan agar setiap pergantian kepengurusan tidak meninggalkan organisasi dalam keadaan statis tanpa progres.
"Mari bersama-sama membawa legacy, peninggalan untuk penerus kita nanti. Selama kita hidup, ayo kita niati punya peninggalan. Hari ini mari kita ciptakan bersama rencana-rencana strategis sebagai peninggalan nyata dari Inkopontren," tegasnya.
Hadir dalam acara ini, antara lain, Mustasyar PBNU dan Muassis Inkopontren Prof KH Manarul Hidayat, Waketum Inkopontren KH Suharisto, Direktur Jenderal Pembinaan Hubungan Industrial dan Jaminan Sosial Ketenagakerjaan Indah Anggoro Putri, Ketua Umum Dekopin Bambang Haryadi, dan Ketua MUI Bidang Dakwah KH Abdul Manan Ghani.