JAKARTA, MUI.OR.ID – Komisi Ukhuwah Majelis Ulama Indonesia (MUI) bersama organisasi masyarakat (ormas) Islam menggelar halaqah bertajuk Ukhuwah Pemberdayaan Ekonomi dan Industri Kreatif Umat pada Selasa (17/3/2025) di Jakarta.
Acara ini menjadi momentum untuk mengarusutamakan kemaslahatan ekonomi umat dalam bingkai ukhuwah Islamiyah, khususnya di bulan suci Ramadan.
Halaqah ini dihadiri oleh berbagai perwakilan ormas Islam, komisi, badan, dan lembaga di lingkungan MUI, serta para ulama dan habaib.
Sejumlah narasumber turut memberikan pandangan strategis, di antaranya Wakil Sekretaris Jenderal MUI Bidang Dakwah dan Ukhuwah, KH Arif Fahrudin, Direktur Marketing PT. Tirta Fresindo Jaya (Le Minerale) Febri Satria Hutama, serta aktor sekaligus pengusaha industri kreatif, David Chalik.
Sekretaris Komisi Ukhuwah Islamiyah MUI, Saeful Bahri, dalam kesempatan tersebut membacakan rumusan hasil halaqah yang menghasilkan enam poin kesepakatan strategis.
"Ramadan merupakan momen terbaik untuk menguatkan ukhuwah Islamiyah melalui sektor ekonomi. Umat Islam harus memanfaatkan peluang ini untuk saling mendukung dalam bingkai solidaritas sosial," ujar Saeful.
Ia menambahkan bahwa ekonomi Ramadan bukan sekadar aktivitas jual beli, tetapi juga instrumen penting dalam membangun persaudaraan Islam.
"Ekonomi Ramadan harus menjadi sarana bagi umat untuk saling tolong-menolong (ta'awun) dan melindungi satu sama lain (takaful), sehingga kesejahteraan bersama (al ishlah) dapat terwujud," jelasnya.
Lebih lanjut, Saeful menekankan pentingnya peran umat Islam sebagai produsen dalam ekonomi Ramadan.
"Jangan sampai kita hanya menjadi konsumen. Umat Islam harus mengambil peran sebagai produsen agar manfaat ekonomi Ramadan ini benar-benar dirasakan oleh kita sendiri," katanya.
Terkait dengan amanat Fatwa MUI tentang boikot produk terafiliasi Israel, Saeful menegaskan bahwa kebijakan ini harus tetap dijalankan, terutama di bulan suci Ramadan.
"Kita harus terus konsisten dalam memboikot produk yang memiliki keterkaitan dengan Israel. Ini adalah bentuk solidaritas kita terhadap perjuangan saudara-saudara kita di Palestina," tegasnya.
Selain itu, ia juga mengingatkan bahwa ekonomi Ramadan harus menjadi sarana perlindungan dan penguatan umat Islam.
"Ekonomi tidak hanya tentang keuntungan materi, tetapi juga bagaimana kita bisa menjaga dan menguatkan umat dalam berbagai aspek kehidupan," ungkapnya.
Terakhir, Saeful menekankan perlunya sinergi antara aspek keagamaan dan ekonomi dalam upaya pemberdayaan umat. "Harus ada keseimbangan antara ukhuwah Islamiyah dan ukhuwah iqtishadiyah, sehingga umat semakin berdaya dan kuat secara ekonomi," katanya.
Halaqah tersebut, ungkap Saeful, berharap Ramadan dapat menjadi bulan yang penuh berkah, tidak hanya dalam dimensi ibadah, tetapi juga dalam praktik ekonomi yang bermanfaat bagi umat.
"Semoga bulan suci Ramadan ini membawa keberkahan, baik dalam ibadah (ubudiyyah) maupun dalam ekonomi (muamalah), sehingga kita bisa mencapai kesejahteraan bersama dalam semangat ukhuwah," pungkasnya. (Saddam Al Ghifari/Azhar)