Berlangsung 21 Jam Lebih, Perundingan Iran-AS di Islamabad Buntu
Miftahul Jannah
Penulis
Admin
Editor
Isalamabad, MUI Digital— Negosiasi antara Iran dan Amerika Serikat menemui jalan buntu. Para negosiator Iran dan AS telah menyelesaikan putaran pembicaraan tatap muka lainnya.
Menurut koresponden Tasnim yang ditugaskan ke Pakistan, putaran pembicaraan tatap muka antara Iran dan Amerika Serikat telah berakhir di Islamabad, Pakistan, pada Ahad (12/4/2026) pagi.
Kedua belah pihak kembali bertukar naskah dengan didampingi tim ahli.
Hal itu terjadi di tengah masih adanya perbedaan serius antara delegasi Iran dan Amerika dalam pembicaraan tersebut.
Kini giliran Amerika Serikat untuk mengatasi tuntutan berlebihan yang berulang dan mengganti ambisi dengan pendekatan yang realistis.
Ketua Parlemen Iran, Mohammad Baqer Qalibaf, menyatakan meskipun Iran mengajukan beberapa inisiatif progresif selama pembicaraan di Islamabad pada 11 April, Amerika Serikat pada akhirnya gagal memperoleh kepercayaan dari para negosiator Iran.
“Saya menekankan sebelum negosiasi bahwa kami memiliki niat baik dan niat yang diperlukan, tetapi karena pengalaman dari dua perang sebelumnya, kami tidak mempercayai pihak lain,” kata Qalibaf dalam sebuah postingan di akun X-nya pada Ahad.
“Rekan-rekan saya dalam delegasi Minab-168 Iran telah mengajukan inisiatif-inisiatif yang berwawasan ke depan, namun pihak lain pada akhirnya gagal memperoleh kepercayaan dari delegasi Iran dalam putaran negosiasi ini,” tambahnya.
“Amerika Serikat telah memahami logika dan prinsip-prinsip kami, dan kini saatnya untuk memutuskan apakah mereka dapat memperoleh kepercayaan kami atau tidak,” kata Qalibaf.
“Kami meyakini bahwa diplomasi kekuatan merupakan pendekatan lain di samping perjuangan militer untuk mewujudkan hak-hak rakyat Iran, dan kami tidak akan menghentikan upaya kami sejenak pun untuk memperkuat pencapaian 40 hari pertahanan nasional oleh rakyat Iran,” katanya.
“Saya menghargai upaya negara sahabat dan saudara kami, Pakistan, dalam memfasilitasi proses negosiasi ini, dan saya menyampaikan salam kepada rakyat Pakistan,” kata Ketua Parlemen tersebut.
Qalibaf juga memuji rakyat Iran yang heroik karena turun ke jalan dan mendoakan para negosiator, serta mengapresiasi para negosiator Iran atas upaya tak kenal lelah mereka selama negosiasi intensif selama 21 jam di Pakistan.
Fakta-fakta
Pada Sabtu (11/4/2026), ibu kota itumenjadi lokasi penting bagi perundingan antara Amerika Serikat dan Iran guna mendorong tercapainya gencatan senjata permanen, setelah konflik bersenjata selama sekitar 40 hari yang dipicu serangan besar terhadap Teheran.
Langkah ini hadir di tengah masa gencatan senjata sementara selama dua pekan yang mulai berlaku sejak Rabu malam, membuka peluang bagi jalur diplomasi untuk menghentikan eskalasi lebih lanjut.
Berikut poin-poin penting yang perlu diketahui terkait perundingan tersebut sebagaimana dilansir Aljazeera, Sabtu (11/4/2026) :
1. Apa yang menjadi pokok perundingan?
Perbedaan antara kedua pihak masih cukup tajam. Amerika Serikat mengajukan proposal 15 poin yang berfokus pada isu pengayaan uranium serta pembukaan kembali jalur pelayaran di Selat Hormuz.
Sementara itu, Iran mengusulkan 10 poin yang mencakup tuntutan kendali atas selat tersebut, pemberlakuan biaya bagi kapal yang melintas, penghentian operasi militer di kawasan, serta pencabutan seluruh sanksi ekonomi.
Selain itu, delegasi AS juga dikabarkan akan menuntut pembebasan warga negaranya yang ditahan di Iran sebagai bagian dari kesepakatan damai.
2. Bagaimana sikap Amerika Serikat menjelang negosiasi?
Presiden Donald Trump menyatakan bahwa Iran tidak memiliki posisi tawar yang kuat, kecuali pengaruhnya terhadap jalur pelayaran strategis di Selat Hormuz. Ia juga memperingatkan kemungkinan serangan lanjutan apabila perundingan gagal.
Wakil Presiden J D Vance menegaskan bahwa pihaknya siap bernegosiasi secara konstruktif, namun tidak akan mentoleransi sikap yang dianggap tidak serius dari Iran.
3. Bagaimana sikap Iran terhadap negosiasi ini?
Ketua Parlemen Iran, Mohammad Baqer Qalibaf, menetapkan prasyarat sebelum negosiasi dimulai, yakni pelaksanaan gencatan senjata di Lebanon serta pembebasan aset Iran yang dibekukan.
Iran menilai kedua hal tersebut merupakan bagian dari komitmen awal yang belum dipenuhi oleh pihak lawan.
4. Siapa saja yang terlibat dalam delegasi kedua negara?
Delegasi Iran dipimpin oleh Qalibaf dan turut melibatkan Menteri Luar Negeri Abbas Araghchi, pejabat pertahanan, serta perwakilan sektor ekonomi dan keamanan.
Sementara itu, delegasi Amerika Serikat terdiri dari Wakil Presiden J. D. Vance, utusan Timur Tengah Steve Witkoff, serta Jared Kushner, bersama pejabat dari Dewan Keamanan Nasional dan kementerian terkait.
5. Bagaimana posisi Lebanon dalam dinamika ini?
Isu Lebanon menjadi salah satu titik krusial. Iran menegaskan bahwa kelanjutan negosiasi bergantung pada penghentian serangan di wilayah tersebut.
Namun, Amerika Serikat dan Israel menyatakan bahwa gencatan senjata dengan Iran tidak mencakup Lebanon. Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu bahkan mengumumkan rencana pembicaraan terpisah dengan pemerintah Lebanon.
6. Bagaimana sikap Israel?
Israel dilaporkan bersiap menghadapi kemungkinan kegagalan perundingan. Seorang pejabat menyatakan bahwa jika tidak ada kesepakatan signifikan, operasi militer terhadap Iran dapat kembali dilanjutkan.
7. Apa peran Pakistan sebagai mediator?
Perdana Menteri Shehbaz Sharif menilai perundingan ini sebagai peluang penting untuk mencapai perdamaian permanen.
Pakistan dipandang memiliki posisi strategis karena hubungan baiknya dengan berbagai pihak, termasuk Amerika Serikat, Iran, Arab Saudi, dan China, serta kedekatan historis dengan Iran.
8. Bagaimana persiapan keamanan di Islamabad?
Pemerintah Pakistan menerapkan pengamanan ketat di Islamabad. Aktivitas kota dibatasi melalui penetapan hari libur, pengalihan lalu lintas, serta peningkatan pengawasan wilayah udara.
Hotel-hotel di kawasan “Red Zone”, termasuk Hotel Serena, juga dikosongkan sebagai bagian dari pengamanan tingkat tinggi.
9. Bagaimana mekanisme perundingan akan berlangsung?
Negosiasi diperkirakan dilakukan secara tidak langsung. Kedua delegasi akan ditempatkan di ruangan terpisah, sementara mediator Pakistan menyampaikan pesan dan proposal di antara keduanya—model yang sebelumnya juga digunakan dalam mediasi oleh Oman.
Perundingan ini menjadi ujian penting bagi diplomasi internasional dalam meredam konflik berskala besar. Keberhasilan atau kegagalannya tidak hanya berdampak pada kawasan Timur Tengah, tetapi juga stabilitas global secara keseluruhan.