Lewati ke konten utama
Selasa, 28 Juli 2026 / 13 Shafar 1448 H
Jadwal memuat...
Opini

Menyelami Pesan Tersembunyi di Balik Surat Al-Muddatstsir

5 menit baca 34 dibaca
Dr Paryadi Abdul Ghofar, M.S.I

Oleh: Dr Paryadi Abdul Ghofar, M.S.I

Anggota Komisi Pendidikan dan Kaderisasi MUI/Dosen STIS Hidayatullah

Diunggah: Admin Admin Editor: Admin
Menyelami Pesan Tersembunyi di Balik Surat Al-Muddatstsir
Foto: Pinterest/Islamic Art & Calligraphy
Bagikan:

Jakarta, MUI Digital — Ada sebuah pola yang sangat mendasar, sebuah “ruang jeda” yang dialami oleh Nabi Muhammad di awal-awal mengemban tugas kenabian dan kerasulan ketika sejarah manusia berada di persimpangan jalan.

Membaca Alquran bukan sekadar sebagai deretan teks, melainkan sebuah panduan gerakan perubahan. Jika diresapi lebih dalam, tentu akan menemukan sebuah dinamika yang sangat kaya. Seperti saat kita mencermati awal dua surat dengan dua panggilan yang sangat pribadi, sangat hangat, namun mengemban konsekuensi peradaban yang sangat besar: Al-Muzzammil dan Al-Muddatstsir.

Keduanya diawali dengan sapaan yang mirip, yaitu panggilan kepada seorang manusia yang sedang berselimut. Namun, jika kita melihat lebih dalam, ada perbedaan gagasan yang sangat mendasar di balik keduanya.

Dari “Inward-Looking” Menuju “Outward-Looking

Di dalam surat Al-Muzzammil, Allah menyapa Rasulullah yang sedang menghadapi pergumulan internal, sebuah kesendirian yang membutuhkan penguatan jiwa. Maka, resep yang diberikan Allah adalah tindakan-tindakan yang bersifat “ke dalam” (inward-looking), yakni dengan seruan qiyamul lail, membaca Alquran secara tartil, berdzikir, tawakal dan menyusun kembali kekuatan spiritual.

Ini adalah proses pendinginan. Sebelum seorang pemimpin melangkah menggelegakkan perubahan di ruang publik, ia harus menyelesaikannya dulu dengan dirinya sendiri. Kualitas kepemimpinan di luar sangat ditentukan oleh kedalaman ikhtiar di dalam. Harus selesai urusan kediriannya.

Namun, Islam tidak berhenti di ruang kesendirian. Lalu masuklah kita pada surat Al-Muddatstsir. Panggilan yang sama: “Wahai orang yang berkemul atau berselimut”, tetapi dengan mandat yang berbeda. Di sini, fokusnya berubah secara tegas menjadi “ke luar” (outward-looking). Rasulullah tidak lagi diminta untuk sekedar memikirkan dan menguatkan diri, melainkan:

قم فأنذر

“Bangunlah, lalu berilah peringatan!”

Jelas sekali ini adalah perintah untuk berinteraksi dengan kenyataan, menghadapi masalah sosial, dan menawarkan sebuah alternatif tata kehidupan baru di tengah kehidupan jahiliyah.

Baca juga: Manifestasi Tawakal Fase Makkah

Tiga Pilar Perubahan Sosial

Surat Al-Muddatstsir adalah awal perintah untuk memberikan peringatan kepada manusia dan masyarakat tentang perubahan tatanan kehidupan sosial yang sesuai dengan Sang Pencipta kehidupan. Perintah ini berat, tapi sudah dibekali dengan tiga pilar utama yang sebelumnya diberikan dalam surat Al-‘Alaq, Al-Qalam, dan Al-Muzzammil.

Setiap gerakan yang berhasil mengubah sejarah dengan mampu mentransformasi masyarakat dari jurang ketimpangan menuju keadilan selalu ditopang oleh tiga pilar utama, sebagai berikut:

Pertama, gagasan dan nilai antitesis. Adanya cara memandang baru yang secara mendasar berbeda, bahkan berhadapan langsung, dengan “status quo” yang mapan namun tidak adil (tidak adil).

Kedua, hadirnya sekelompok “aktor inti” (para penggerak inti). Manusia-manusia yang tidak hanya meyakini gagasan-gagasan tersebut di dalam kepala, tetapi juga siap menanggung risiko atas keyakinannya dalam kenyataan sehari-hari.

Ketiga, transmisi nilai yang konsisten. Bagaimana gagasan yang semula berada di ruang-ruang sempit dan terbatas, dialirkan secara bertahap sehingga menjadi milik masyarakat luas.

Sejarah mencatat, dahulu para Nabi, mulai dari Nabi Ibrahim, Nabi Musa, hingga Rasulullah selalu memulai gerakan dengan mengambil jarak (distantif) dari kebiasaan bernilai rendah di sekitar. Mereka menjaga fitrah. Mereka memilih tidak larut dalam arus utama yang merusak, demi benih merawat kebenaran yang kelak akan disemaikan.

Para nabi tersebut, meskipun hidup dalam lingkungan sosio-religius masyarakat yang musyrik, kafir atau penyembah-penyembah berhala, namun mereka dari sejak awalnya tidak pernah terlibat dalam penyembahan berhala. Hidupnya dari sejak kecil mengikuti nuraninya yang suci (fitrah) dan terlindung dari sifat atau pencemaran nilai-nilai yang berkembang dalam masyarakatnya. Karena itu nilai-nilai kehidupan yang dipraktikkan, tidaklah sama atau bahkan bertentangan dengan kultur dan adat istiadat masyarakat.

Pola yang sama juga tercermin dalam sejarah kehidupan Rasulullah, bahkan distansi nilai-nilai kehidupan tersebut begitu jelas, meskipun belum ada wahyu yang turun. Pada tahap yang paling awal Rasulullah adalah sosok, yang sesuai dengan fitrahnya, menolak dan mengambil jarak terhadap moralitas, serta nilai-nilai dan keyakinan masyarakat Arab jahiliyah.

Berikutnya, beliau mengalami kristalisasi keyakinan dan nilai-nilai serta moralitas Islam, seiring dengan turunnya ayat-ayat pertama surat Al-Alaq, Al-Qalam, dan Al-Muzammil. Proses ini kemudian berlanjut dengan kristalisasi orientasi dan nilai-nilai baru bagi para sahabat, sehingga memunculkan dialog, dialektika, pengajaran dan pembelajaran kehidupan, dalam spektrum spasial sosial yang sangat terbatas.

Baca juga: Mengapa Sukses Besar Selalu Dimulai dari Sabar dan Hijrah?

Darul Arqam” dan Tenun Kepemimpinan

Proses transmisi ini tidak terjadi dalam semalam. Di Makkah, Rasulullah membangun sebuah ekosistem pembinaan dan kaderisasi yang sangat intensif selama kurang lebih tiga tahun secara diam-diam. Di dalamnya terjadi proses pembentukan karakter (character building) yang sangat kokoh.

Sahabat-sahabat awal tidak hanya melihat Rasulullah sebagai seorang teman berdiskusi, tetapi menumbuhkan sebuah kesadaran otoritas. Himbauan beliau diterima sebagai arah langkah, dan arah langkah beliau diyakini sebagai jalan keselamatan.

Keteguhan seorang Bilal bin Rabah. Ketika dihimpit batu di bawah terik matahari Makkah, atau ketabahan keluarga Yasir, bukanlah nekat tanpa alasan. Itu adalah buah dari pembentukan jiwa (inward-looking) yang telah selesai pada tahap awal. Ketika jiwa sudah terisi penuh oleh keyakinan tauhid, penderita fisik di luar tidak lagi sanggup mengerdilkan semangat mereka.

Membaca Arah Hari Ini

Apa pesan pentingnya bagi kita hari ini?

Sebuah gerakan perubahan yang berdampak luas tidak pernah lahir dari ketergesa-gesaan di permukaan. Ia membutuhkan keseimbangan yang presisi antara kedalaman spiritual dan ketajaman respons sosial.

Kita tidak bisa melakukan intervensi sosial yang substantif (surat Al-Muddatstsir) tanpa terlebih dahulu menuntaskan konsolidasi jiwa dan keimanan (surat Al-Muzzammil). Namun di sisi lain, kita juga tidak boleh betah berlama-lama nyaman dalam “selimut kesalehan” individu, ketika kenyataan di luar memanggil-manggil hadirnya keadilan dan perbaikan.

Baca juga: Menjemput “Qaulan Tsaqilan”: Rahasia Kata yang Mengguncang Dunia

Tugas kita hari ini adalah menyerap energi dari pencerahan malam, kejernihan dzikir, ketajaman munajat di sepertiga akhir malam untuk kemudian bangkit dan menggerakkan perubahan di masyarakat yang kehausan spiritual. Menata kehidupan sosial bermasyarakat agar sesuai dengan petunjuk tartil Alquran.

Sebab, peradaban Islam tidak dibangun oleh mereka yang memilih untuk tetap berselimut, melainkan oleh mereka yang berani bangun, melangkah, dan menghadirkan kebermanfaatan bagi sesama.

Surat Al-Muddatstsir memerintahkan Rasulullah dan umat Islam untuk bangun dari segala bentuk kenyamanan diri agar memberikan peringatan kepada umat yang kebanyakan lalai dan tidak tahu jalan pulang, yakni menuju ridha Allah.

Isi artikel tidak merepresentasikan suara redaksi serta merupakan opini sekaligus tanggungjawab penulis sepenuhnya.