Tren Mode Fashon Syariah 2026: Mengusung Kesopanan dan Keanggunan
Admin
Penulis
Jakarta, MUIDigital - Ramadan dan Idul Fitri 2026 (1447 H) diperkirakan akan diramaikan dengan berbagai mode fashion terbaru yang berfokus pada keberlanjutan dan kelestarian lingkungan, namun tetap sopan dan elegan.
Seperti halnya tren bisnis halal global pada umumnya, di sektor fashion (fesyen) muslim juga terjadi tren serupa: tetap berfokus pada keberlanjutan dan kelestarian lingkungan. Menurut Rhadeya Setiawan, Chief of Scientific and Regulatory Affairs, L'Oréal Indonesia, mningkatnya gaya hidup halal yang berfokus pada keberlanjutan tidak hanya mencakup makanan dan minuman, namun juga berbagai produk dan layanan, termasuk kosmetika, farmasi, fesyen, dan pariwisata.
Fenomena tersebut juga diakui oleh sejumlah pelaku usaha di bidang mode busana. Alben Ayub, desainer muda asal Surabaya, mengungkapkan bahwa arah baru dalam industri fesyen ini bukan sekadar pilihan estetika namun menjadi bagian dari upaya untuk menjaga keseimbangan alam.
"Sekarang banyak desainer yang ingin menyelamatkan lingkungan dengan mengganti limbah fashion, limbah tekstil yang biasanya menggunakan bahan kimia, kini menggunakan bahan pewarna alam," ujar Alben, seperti dikutip detik.com, Senin (21/7/2025).
Menurut Alben, tak hanya menggunakan bahan ramah lingkungan, tren fashion 2026 juga diprediksi akan makin kuat memuat pesan sosial dan kampanye perubahan iklim lewat desain.
"Maka dari itu kami punya tren fashion forecasting untuk 2026. Jadi kebanyakan menerjemahkan tentang alam, tentang sustainability. Tapi sebenarnya itu sama. Kami ingin menyelamatkan bumi," tambahnya.
Arah Mode Fashion Muslim 2026
Ridho Jufri, Managing Director Klamby, seperti dikutip mediaindonesia.com menjelaskan bahwa saat ini industri busana muslim harus bergerak dinamis mengikuti minat konsumen yang tersebar di berbagai wilayah. Memasuki periode setelah musim Lebaran, arah fesyen diprediksi akan bergeser mengikuti karakteristik Generasi Z sebagai populasi terbesar di Indonesia.
Produk yang mengusung konsep ramah lingkungan dan mudah didaur ulang (recycling) diproyeksikan akan semakin digemari. Namun, Ridho mengakui bahwa tantangan besar masih membayangi produksi pakaian ramah lingkungan di dalam negeri. Masalah utamanya terletak pada biaya produksi yang masih sangat tinggi di Indonesia.
Khusus untuk tren mode fesyen muslim 2026, Tantiya Nimas Nuraini, editor Liputan 6.com, dalam ulasannya menjelaskan, tren 2026 mengindikasikan pergeseran yang lebih dinamis. Dalam tren ini, kelembutan dan keberanian berpadu secara harmonis, menciptakan tampilan yang kaya dan penuh makna.
“Pergeseran ini mencerminkan keinginan akan ekspresi diri yang lebih kaya, namun tetap mempertahankan esensi kesopanan dan keanggunan yang menjadi ciri khas fashion Muslim. Tren warna untuk 2026 diperkirakan akan berpusat pada keseimbangan antara nuansa yang menenangkan dan warna-warna yang lebih berani, mencerminkan kebutuhan akan kenyamanan dan ekspresi diri,” ujar Tantiya.
Oleh karena itu, Tantiya meyakini bahwa fashion Muslim 2026 akan menampilkan koleksi yang memadukan warna-warna pastel yang menenangkan dengan sentuhan warna cerah atau gelap yang kuat, menciptakan kontras yang menarik dan tampilan yang berkesan.
“Perpaduan tersebut tidak hanya tentang estetika visual, tetapi juga tentang narasi yang lebih dalam mengenai identitas dan adaptasi terhadap perubahan sosial dan lingkungan. Konsumen semakin mencari pakaian yang tidak hanya indah tetapi juga memiliki makna, dengan warna yang dapat menyampaikan pesan tentang keberlanjutan, ketenangan, atau kekuatan,” ujarnya. (FM/Jurnal Halal-LPPOM. Foto: Ilustrasi fashion 2026)