Memahami Perbedaan Pendapat Seputar Jumlah Rakaat Shalat Sunnah Tarawih
Admin
Penulis
Jakarta, MUI Digital — Perdebatan tentang jumlah rakaat shalat Tarawih hampir selalu muncul setiap memasuki Ramadhan. Sebagian melaksanakan 8 rakaat, sebagian lain 20 rakaat, dan dalam sejarah Islam bahkan dikenal praktik 36 rakaat. Perbedaan ini kerap dipersepsikan sebagai pertentangan, padahal literatur klasik menunjukkan bahwa semuanya memiliki dasar yang sah dan dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah. Para ulama sejak masa awal telah membahasnya secara luas dan menempatkannya sebagai ragam praktik ibadah, bukan sumber perpecahan.
Dalam kitab Al-Fiqh ‘ala al-Madzahib al-Arba‘ah karya Syekh Abdurrahman Al-Jaziri (wafat 1360 H) dijelaskan tata cara pelaksanaan Tarawih menurut empat mazhab. Kutipan berikut menunjukkan kesepakatan bahwa Tarawih dilakukan dua rakaat salam, serta perbedaan teknis di antara mazhab:
يندب أن يسلم في آخر كل ركعتين. فلو فعلها بسلام واحد وقعد على رأس كل ركعتين صحت مع الكراهة. إلا عند الشافعية. فانظر مذهبهم في تفصيل المذاهب تحت الخط: الحنفية قالوا: إذا صلى أربع ركعات بسلام واحد نابت عن ركعتين اتفاقاً، وإذا صلى أكثر من أربع بسلام واحد اختلف التصحيح فيه، فقيل: ينوب عن شفع من التراويح، وقيل: يفسد
الحنابلة قالوا: تصح مع الكراهة، وتحسب عشرين ركعة
المالكية قالوا: تصح، وتحسب عشرين ركعة، ويكون تاركاً لسنة التشهد والسلام في كل ركعتين، وذلك مكروه
الشافعية قالوا: لا تصح إلا إذا سلم بعد كل ركعتين، فإذا صلاها بسلام واحد لم تصح، سواء قعد على رأس كل ركعتين، أو لم يقعد
“Disunnahkan salam pada setiap dua rakaat. Jika dilakukan dengan satu salam dan duduk pada setiap dua rakaat, maka sah tetapi makruh, kecuali menurut Syafi‘iyah. Mazhab Hanafi menyatakan; ‘jika empat rakaat dengan satu salam, itu terhitung dua rakaat; jika lebih dari empat, terdapat perbedaan pendapat. Mazhab Hanbali dan Maliki menyatakan sah namun makruh dan dihitung dua puluh rakaat. Mazhab Syafi‘i mensyaratkan salam setiap dua rakaat; jika tidak, maka tidak sah.” (Al-Fiqh ‘ala al-Madzahib al-Arba‘ah [Beirut: Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah], juz 1, h. 310-311)
Kutipan ini menunjukkan bahwa praktik 20 rakaat merupakan format yang diakui luas dalam tradisi fiqih, meskipun terdapat perbedaan teknis pelaksanaannya.
Namun ulama Syafi‘iyah juga menjelaskan bahwa seseorang yang melaksanakan sebagian rakaat Tarawih—termasuk delapan rakaat—tetap memperoleh pahala Tarawih. Dalam kitab Busyra al-Karim karya Syekh Sa’id Ba’ali Ba’ishn disebutkan:
(قَوْلُهُ: وَكَذَا مَنْ أَتَى بِبَعْضِ التَّرَاوِيحِ) أَيْ كَالِاقْتِصَارِعَلَى الثَّمَانِيَةِ فَيُثَابُ عَلَيْهِمْ ثَوَابَ كَوْنِهَا مِنْ التَّرَاوِيحِ، وَإِنْ قَصَدَ ابْتِدَاءً الِاقْتِصَارَ عَلَيْهَا كَمَا هُوَ الْمُعْتَادُ فِي بَعْضِ الْأَقْطَارِ
“Demikian pula orang yang melaksanakan sebagian Tarawih, seperti mencukupkan delapan rakaat, tetap diberi pahala sebagai Tarawih, meskipun sejak awal ia memang bermaksud mencukupkan pada jumlah tersebut sebagaimana kebiasaan di sebagian negeri.” (Busyra al-Karim bi Syarh Masa’il al-Ta‘lim [Jeddah: Dar al-Minhaj], h. 711)
Penjelasan yang sama ditegaskan oleh Imam Ibnu Hajar al-Haitami (wafat 974 H) dalam Tuhfah al-Muhtaj dengan hasyiyah (catatan) dari Imam as-Syarwani (wafat 1301 H), sebagaimana berikut:
(وَكَذَا مَنْ أَتَى بِبَعْضِ التَّرَاوِيحِ) أَيْ كَالِاقْتِصَارِعَلَى الثَّمَانِيَةِ فَيُثَابُ عَلَيْهِمْ ثَوَابَ كَوْنِهَا مِنْ التَّرَاوِيحِ
“Orang yang melaksanakan sebagian Tarawih, seperti hanya delapan rakaat, tetap memperoleh pahala Tarawih.” (Tuhfah al-Muhtaj [Beirut: Dar Ihya’ al-Turats al-‘Arabi], juz 2, h. 225)
Ini menegaskan bahwa pelaksanaan delapan rakaat tidak keluar dari kategori Tarawih dan tetap berpahala.
Sementara itu, hadis sahih yang diriwayatkan oleh Sayyidah Aisyah menjadi dasar bagi mereka yang memilih jumlah lebih sedikit, yakni 8 rakaat. Dalam Tuhfat al-Ahwadzi karya Syekh Abul ‘Ala al-Mubarakfuri (wafat 1353 H) disebutkan hadis yang menjadi landasan tersebut:
مَا كَانَ يَزِيدُ فِي رَمَضَانَ وَلَا فِي غَيْرِهِ عَلَى إِحْدَى عَشْرَةَ رَكْعَةً يُصَلِّي أَرْبَعًا فَلَا تَسْأَلْ عَنْ حُسْنِهِنَّ وَطُولِهِنَّ ثُمَّ يُصَلِّي أَرْبَعًا فَلَا تَسْأَلْ عَنْ حُسْنِهِنَّ وَطُولِهِنَّ ثُمَّ يُصَلِّي ثَلَاثًا، الْحَدِيثَ. فَهَذَا الْحَدِيثُ الصَّحِيحُ نَصٌّ صَرِيحٌ فِي أَنَّ رَسُولَ الله مَا كَانَ يَزِيدُ فِي رَمَضَانَ وَلَا فِي غَيْرِهِ عَلَى إِحْدَى عَشْرَةَ رَكْعَةً... وَيَدُلُّ عَلَى هَذَا الْقَوْلِ الْأَخِيرِ الَّذِي اخْتَارَهُ مَالِكٌ لِنَفْسِهِ أَعْنِي إِحْدَى عَشْرَةَ رَكْعَةً حَدِيثُ جَابِرٍ رَضِيَ اللَّهُ تَعَالَى عَنْهُ قَالَ صلى بنا رسول الله فِي شَهْرِ رَمَضَانَ ثَمَانِ رَكَعَاتٍ وَأَوْتَرَ فَلَمَّا كَانَتِ الْقَابِلَةُ اجْتَمَعْنَا فِي الْمَسْجِدِ وَرَجَوْنَا أَنْ يَخْرُجَ فَلَمْ نَزَلْ فِيهِ حَتَّى أَصْبَحْنَا ثُمَّ دَخَلْنَا فَقُلْنَا يَا رَسُولَ اللَّهِ اجْتَمَعْنَا الْبَارِحَةَ فِي الْمَسْجِدِ وَرَجَوْنَا أَنْ تُصَلِّيَ بِنَا، فَقَالَ إِنِّي خَشِيتُ أَنْ يُكْتَبَ عَلَيْكُمْ رَوَاهُ الطَّبَرَانِيُّ فِي الصَّغِيرِ وَمُحَمَّدُ بْنُ نَصْرٍ الْمَرْوَزِيُّ فِي قيام الليل وبن خزيمة وبن حِبَّانَ فِي صَحِيحَيْهِمَا
“…. Rasulullah tidak pernah menambah (shalat malam) di bulan Ramadhan maupun di luar Ramadhan lebih dari sebelas rakaat. Beliau shalat empat rakaat—jangan engkau tanyakan betapa indah dan panjangnya—kemudian shalat empat rakaat lagi—jangan engkau tanyakan betapa indah dan panjangnya—kemudian shalat tiga rakaat…. Pendapat terakhir ini—yang dipilih oleh Imam Malik untuk dirinya—yaitu sebelas rakaat, didukung oleh hadis Jabir radhiyallahu ‘anhu. Ia berkata: ‘Rasulullah SAW pernah mengimami kami pada bulan Ramadhan sebanyak delapan rakaat, lalu beliau Witir. Pada malam berikutnya kami berkumpul di masjid dan berharap beliau keluar untuk mengimami kami. Kami tetap menunggu hingga pagi. Kemudian kami menemui beliau dan berkata: ‘Wahai Rasulullah, tadi malam kami berkumpul di masjid dan berharap engkau mengimami kami.’ Beliau bersabda: ‘Aku khawatir hal itu akan diwajibkan atas kalian.’ Hadis ini diriwayatkan oleh at-Thabarani dalam al-Shaghir, Muhammad bin Nashr al-Marwazi dalam Qiyam al-Lail, serta Ibn Khuzaimah dan Ibn Hibban dalam kitab Sahih mereka.” (Tuhfat al-Ahwadzi [Beirut: Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah], juz 3, h. 440–441)
Riwayat ini dipahami sebagai gambaran qiyam Nabi SAW yang diketahui oleh sahabat tidak banyak rakaatnya, yakni sejumlah 8 rakaat Tarawih dan 3 rakaat Witir, tetapi setelah itu ternyata Nabi tidak datang untuk shalat di masjid melaksanakan shalat tersebut lagi karena dikhawatirkan hal itu menjadi sebuah kewajiban bagi umatnya. Lalu disebutkanlah riwayat Sayyidah Aisyah bahwa beliau memang shalat sebelas rakaat (8 rakaat Tarawih dan 3 rakaat Witir) di rumah dengan cukup lama dan panjang bacaan dan kekhusyukannya.
Di sisi lain, praktik 20 rakaat memiliki pijakan kuat pada tradisi para sahabat, terutama pada masa Umar bin Khattab. Tetapi praktik 8 rakaat shalat Tarawih juga berlandaskan apa yang dilakukan oleh Nabi. Dalam Fath al-Qadir karya Imam Ibnul Humam al-Hanafi (wafat 861 H) dijelaskan:
... أَنَّ قِيَامَ رَمَضَانَ سُنَّةٌ إحْدَى عَشْرَةَ رَكْعَةً بِالْوِتْرِ فِي جَمَاعَةٍ فَعَلَهُ صلى الله عليه وسلم ثُمَّ تَرَكَهُ لِعُذْرٍ... فَتَكُونُ الْعِشْرُونَ مُسْتَحَبًّا وَذَلِكَ الْقَدْرُ مِنْهَا هُوَ السُّنَّةُ كَالْأَرْبَعِ بَعْدَ الْعِشَاءِ مُسْتَحَبَّةٌ وَرَكْعَتَانِ مِنْهَا هِيَ السُّنَّةُ. وَظَاهِرُ كَلَامِ الْمَشَايِخِ أَنَّ السُّنَّةَ عِشْرُونَ، وَمُقْتَضَى الدَّلِيلِ مَا قُلْنَا
“… Bahwa shalat sunnah malam Ramadhan (Tarawih) sebanyak sebelas rakaat termasuk Witir, yang dilakukan secara berjamaah, pernah dikerjakan oleh Nabi SAW, kemudian beliau meninggalkannya karena suatu uzur. … Maka pelaksanaan 20 rakaat termasuk amalan yang dianjurkan (mustahab), sedangkan kadar yang menjadi sunnah darinya adalah sebagaimana (dianalogikan, red.) bahwa empat rakaat setelah shalat Isya’ itu dianjurkan (mustahab), namun dua rakaat di antaranya merupakan sunnah. Dan tampak dari pernyataan para masyayikh bahwa sunnahnya adalah dua puluh rakaat, sedangkan tuntutan dalil menunjukkan sebagaimana yang telah kami jelaskan (yakni 8 rakaat itu sudah sesuai yang disunnahkan).” (Fathul Qadir, [Beirut: Dar al-Fikr], juz 1, h. 468)
Jadi, sebagian ulama Hanafiyah memandang praktik 20 rakaat sebagai sunnah yang kuat karena dijalankan secara konsisten oleh generasi sahabat. Tetapi ditegaskan pula bahwa 8 rakaat itu juga sudah sesuai yang disunnahkan.
Adapun praktik 36 rakaat dalam shalat Tarawih dikenal dalam tradisi penduduk Madinah dan dinisbatkan kepada praktik ulama Madinah pada masa pemerintahan Umar bin Abdul Aziz. Praktik ini kemudian diterima dalam mazhab Maliki dan dijelaskan oleh Imam Malik sebagai bagian dari keluasan praktik ibadah.
Keterangan ini disebutkan secara jelas dalam kitab Al-Fawakih al-Dawani karya Syekh Ahmad al-Nafrawi al-Azhari al-Maliki (wafat 1126 H):
(وَكَانَ السَّلَفُ الصَّالِحُ) وَهُمْ الصَّحَابَةُ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ (يَقُومُونَ فِيهِ) فِي زَمَنِ خِلَافَةِ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ (فِي الْمَسَاجِدِ بِعِشْرِينَ رَكْعَةً) …وَاسْتَمَرَّ عَمَلُ النَّاسِ عَلَى الثَّلَاثَةِ وَالْعِشْرِينَ شَرْقًا وَغَرْبًا. (ثُمَّ) بَعْدَ وَقْعَةِ الْحَرَّةِ بِالْمَدِينَةِ صَلَّوْا… فِي زَمَنِ عُمَرَ بْنِ عَبْدِ الْعَزِيزِ بَعْدَ ذَلِكَ سِتًّا وَثَلَاثِينَ رَكْعَةً غَيْرَ الشَّفْعِ وَالْوِتْرِ، وَكُلُّ ذَلِكَ وَاسِعٌ، وَيُسَلِّمُ مِنْ كُلِّ رَكْعَتَيْنِ
“Para salaf saleh, yaitu para sahabat radhiyallahu ‘anhum, pada masa kekhalifahan Umar bin Khattab melaksanakan qiyam Ramadhan di masjid dengan dua puluh rakaat… dan praktik dua puluh tiga rakaat (termasuk Witir) terus berlangsung di berbagai negeri. Kemudian setelah peristiwa ‘Harrah’ di Madinah…, pada masa Umar bin Abdul Aziz, mereka melaksanakan shalat sebanyak tiga puluh enam rakaat (Tarawih) selain Syaf‘ (dua rakaat bagian dari Witir, red.) dan Witir. Semua itu luas (boleh), dan salam dilakukan setiap dua rakaat.” (Al-Fawakih ad-Dawani, [Beirut: Dar al-Fikr], juz 1, h. 319)
Para ulama menjelaskan bahwa tambahan rakaat di Madinah ini berkaitan dengan tradisi ibadah di Makkah. Penduduk Makkah dahulu melakukan thawaf setelah setiap empat rakaat Tarawih. Karena penduduk Madinah tidak memiliki keutamaan thawaf di Baitullah, mereka menggantinya dengan tambahan rakaat sebagai bentuk pendekatan diri kepada Allah. Dengan demikian, jumlah 36 rakaat bukanlah bid‘ah baru, melainkan bentuk ijtihad ibadah yang lahir dari semangat menambah amal.
Penjelasan ini sekaligus menegaskan keluasan syariat. Dua puluh rakaat berakar pada praktik sahabat, tiga puluh enam rakaat berasal dari tradisi ulama Madinah, dan semuanya diakui dalam khazanah fiqih sebagai bentuk ibadah yang sah.
Intinya jelas, di sini kita memahami Islam tidak menyempitkan ruang ibadah malam Ramadhan. Yang dituntut bukan angka tertentu, tetapi kesungguhan menghidupkan malam dengan shalat, tilawah, dan munajat. Orang yang memahami keluasan tradisi ini akan lebih tenang, lebih bijak, dan lebih fokus pada tujuan utama Ramadhan, yaitu mendekatkan diri kepada Allah dengan hati yang hidup dan amal yang istiqamah.
Dari keseluruhan keterangan ini tampak jelas bahwa perbedaan jumlah rakaat Tarawih bukan fenomena baru. Perbedaan pendapat ini telah hidup dalam khazanah fiqih sejak masa sahabat dan tabi‘in. Perbedaan tersebut lahir dari variasi praktik Nabi SAW, ijtihad para sahabat, serta tradisi ibadah masyarakat Muslim di berbagai wilayah.
Karena itu, memperdebatkan angka secara keras justru menyempitkan keluasan syariat. Substansi utama dari Tarawih adalah menghidupkan malam Ramadhan dengan qiyam, tilawah, dzikir, dan doa. Tarawih merupakan bagian dari qiyam Ramadhan yang sangat dianjurkan. Kiranya tidak etis jika perbedaan pendapat terkait praktik jumlah rakaatnya itu dijadikan arena adu pendapat dan saling menegasikan.
Sepatutnya dalam konteks masyarakat Muslim hari ini, termasuk di Indonesia, kearifan yang dibutuhkan adalah menerima keberagaman praktik ini sebagai kekayaan tradisi ibadah. Masjid yang melaksanakan 8 rakaat memiliki dasar. Yang melaksanakan 20 rakaat memiliki pijakan kuat. Tradisi 36 rakaat pun berakar pada praktik ulama terdahulu dengan ijtihad yang diakui keabsahannya.
Demikianlah seharusnya kita memahami Ramadhan sebagai momentum memperdalam ketakwaan. Kiranya tidak perlu mempertajam perbedaan yang ada. Perihal yang menentukan nilai ibadah bukan jumlah rakaatnya, tetapi kekhusyukan, keikhlasan, dan kesungguhan hati ketika berdiri dan bersimpuh di hadapan Allah pada malam-malam Ramadhan. Wallahu a’lam bis shawab. (Abd. Hakim Abidin)