Bacaan Lengkap Takbiran Idul Fitri: Arab, Latin, dan Artinya
A Zaeini Misbaahuddin Asyuari
Penulis
Hakim
Editor
Jakarta, MUI Digital — Suara takbir mulai berkumandang seiring berakhirnya bulan Ramadhan dan ditetapkannya 1 Syawal. Lantunan tersebut menjadi penanda datangnya Hari Raya Idul Fitri yang disambut dengan penuh suka cita oleh umat Islam.
Di berbagai tempat, seperti masjid, mushalla, maupun langgar, gema takbir terdengar bersahut-sahutan. Sebagian masyarakat ada yang merayakannya dengan takbiran keliling, sementara yang lain cukup melaksanakannya di tempat ibadah atau di rumah masing-masing.
Baca juga: Khutbah Idul Fitri: Membangun Ketahanan Umat Menghadapi Krisis Global
Tradisi takbiran ini bukan sekadar ekspresi kegembiraan, tetapi juga merupakan bentuk dzikir kepada Allah SWT. Dengan bertakbir, seorang Muslim mengagungkan kebesaran-Nya sekaligus mensyukuri nikmat yang telah diberikan, khususnya nikmat menyelesaikan ibadah puasa Ramadhan. Hal ini sebagaimana ditegaskan dalam Alquran:
وَلِتُكْمِلُوا الْعِدَّةَ
وَلِتُكَبِّرُوا اللهَ عَلَىٰ مَا هَدَاكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ
Artinya: “Hendaklah kamu mencukupkan
bilangannya dan mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu
agar kamu bersyukur.” (QS. Al-Baqarah: 185)
Para ulama menjelaskan bahwa ayat di atas
mengandung anjuran untuk menampakkan dzikir sebagai bentuk rasa syukur.
Imam Ibn Rajab al-Hanbali (wafat 795 H)
dalam tafsirnya mengungkapkan bahwa bertakbir merupakan manifestasi syukur atas
nikmat Ramadhan: