Aktivis Global Sumud Flotilla: Di Kapal Penjara Kontainer Itu Kami Tidur Sambil Berdiri
Latifahtul Jannah
Penulis
Admin
Editor
Jakarta, MUI Digital— Aktivis kemanusiaan Indonesia, Hendro Prasetyo, mengungkap detik-detik mencekam saat kapal relawan Global Sumud Flotilla (GSF) diintersepsi aparat Israel dalam misi kemanusiaan menuju Gaza, Palestina.
Para relawan, kata Hendro, kemudian ditahan di kapal perang yang dimodifikasi menjadi tempat penahanan berbentuk kontainer atau “kapal penjara”.
Kesaksian itu disampaikan Hendro dalam acara silaturahim dan syukuran atas bebasnya sembilan warga negara Indonesia (WNI) relawan delegasi GSF yang digelar Majelis Ulama Indonesia (MUI) di Aula Buya Hamka, Gedung MUI, Jakarta Pusat, Selasa (26/5/2026).
Hendro merupakan relawan dari SMART 171 (Solidarity of Muslim for Al-Quds Resist 171) yang tergabung dalam delegasi Global Peace Convoy Indonesia (GPCI).
Ia bersama delapan WNI lainnya berupaya menembus blokade Gaza melalui jalur laut untuk menyalurkan bantuan kemanusiaan bagi warga Palestina.
Hendro berada di Kapal Kasr-1 bersama sejumlah relawan internasional lainnya saat intersepsi terjadi.
Menurut Hendro, komunikasi antarrelawan masih berlangsung hingga kapal-kapal terakhir dalam armada GSF satu per satu diintersepi aparat Israel.
Baca juga: 9 WNI GSF Dibebaskan Israel, Pemerintah Indonesia Sampaikan Apresiasi kepada Turki
“Kami punya grup komunikasi bersama tim GSF dan perwakilan Indonesia. Sampai malam itu kami masih mendapat informasi bahwa kapal terakhir sudah diintersepsi Israel,” ujarnya.
Hendro mengatakan kemungkinan intersepsi sebenarnya telah diprediksi sejak awal. Para relawan bahkan mendapat pelatihan terkait prosedur keselamatan dan langkah darurat apabila ditahan.
“Proses intersepsi itu sudah dijelaskan sejak awal oleh tim GSF. Kami juga menyiapkan video SOS dan skenario darurat sebagai langkah antisipasi,” katanya.
Hendro mengungkapkan aparat Israel melakukan tindakan agresif sejak awal intersepsi berlangsung. Menurut dia, kapal relawan ditembaki untuk mencari kapten kapal agar armada dapat dikuasai.
“Mereka menembaki kapal untuk mencari siapa kaptennya karena mereka tidak bisa membawa kapal itu sendiri tanpa informasi dari kapten,” tuturnya.
Hendro juga mengeklaim kapal relawan yang dianggap tidak layak akan dirusak agar tidak dapat digunakan kembali.
“Kalau kapal dianggap tidak layak, mereka bisa merusak layar, lantai, dan bagian lain sampai kapal terombang-ambing atau bahkan tenggelam,” ujarnya.
Setelah diintersepsi, Hendro mengatakan para relawan tidak langsung dibawa ke daratan, melainkan ditahan di kapal perang Israel yang telah dimodifikasi menjadi tempat penahanan berbentuk kontainer.
“Sekarang mereka punya skema baru. Para aktivis dibawa ke kapal perang yang dijadikan penjara berbentuk kontainer,” katanya.
Menurut Hendro, kondisi di dalam kontainer sangat sesak. Para relawan bahkan kesulitan beristirahat karena keterbatasan ruang.
“Tidur saja tidak bisa terlentang. Ada yang terpaksa tidur berdiri karena kondisinya sangat penuh,” ungkapnya.
Hendro menyebut sembilan WNI yang ditahan dibagi ke dalam dua kapal perang berbeda. Hendro berada di kapal yang sama bersama empat WNI lainnya.
Selama penahanan yang berlangsung sekitar empat hari, Hendro mengaku para relawan tetap berusaha saling menguatkan dan berkomunikasi satu sama lain.
“Kami saling bertanya kondisi masing-masing dan berbagi cerita tentang perjuangan di negara masing-masing,” katanya.
Hendro juga mengungkap adanya dugaan pelanggaran hak asasi manusia (HAM) selama proses penahanan. Menurut dia, kekerasan yang dialami relawan tidak hanya bersifat fisik, tetapi juga mental.
Aktivis kemanusiaan Indonesia, Hendro Prasetyo, menerima penghargaan dari MUI. Foto: Latifahtul Jannah/ MUI Digital
“Kekerasan yang mereka lakukan bukan hanya kekerasan fisik, melainkan juga kekerasan mental. Dan warga Palestina mengalami itu jauh lebih berat setiap hari,” ujarnya.
Meski para relawan tetap diberi makan dan minum, Hendro menilai hal itu tidak menghapus dugaan kekerasan yang terjadi selama penahanan.
Baca juga: Sambut 9 WNI yang Dibebaskan Israel dengan Syukur, Ketum MUI: Dukungan untuk Palestina Tetap Kokoh
“Jangan sampai kebaikan kecil itu membuat penyiksaan yang terjadi terlihat baik-baik saja. Itu bagian dari propaganda mereka,” katanya.
Hendro menegaskan para relawan sejak awal memahami risiko besar dalam misi kemanusiaan tersebut. Namun, menurut dia, ketakutan bukan alasan untuk berhenti menyuarakan solidaritas bagi Palestina.
“Dalam misi ini hanya ada dua kemungkinan, melahirkan harapan atau merenggut maut,” ujarnya.
Meski mengalami penahanan dan intersepsi di laut, Hendro memastikan dirinya tetap siap kembali mengikuti misi kemanusiaan serupa apabila kembali digelar.
“Kalau ada konvoi lagi, saya masih mau ikut,” katanya.