Islamofobia di Swedia, Wajah Islam di Eropa, dan Jasa yang Terlupakan
Oleh: Yanuardi Syukur, anggota Komisi HLNKI MUI periode 2020-2025
Jakarta, MUI DIgital- Pada Ahad, 21 Desember 2025, di pelataran Masjid Stockholm, sebuah salinan Alquran ditemukan terbelenggu rantai besi pada pagar tangga masjid. Enam lubang tembakan menghiasi sampulnya, disertai pesan dalam bahasa Arab dan Swedia yang menyayat: "Terima kasih atas kunjungannya, tapi sudah waktunya pulang" (Thanks for the visit, but it’s time to go home). Imam Masjid Stockholm, Mahmud al-Halefi, menyatakan ini sebagai bagian dari pola kebencian anti-Muslim yang kian meningkat (Anadolu, 21/12/2025).
Peristiwa ini bukanlah insiden yang berdiri sendiri, melainkan kelanjutan dari rentetan provokasi termasuk aksi penistaan Alquan oleh seorang pengungsi atheis asal Irak, Salwan Momika (1986-2025) pada 2023. Serangan terhadap masjid terus dilaporkan, menjadikan insiden terakhir ini sebagai gejala fenomena yang mengakar, yakni islamofobia di Swedia yang semakin mengkhawatirkan.
Untuk memahami dinamika di Swedia, kita perlu melihat konteks Eropa yang lebih luas. Menurut laporan Euronews (6/11/2025), insiden anti-Muslim di Uni Eropa telah meningkat sejak serangan Hamas di Oktober 2023, khususnya di Austria, Belgia, dan Bulgaria. Laporan tahunan Organisasi Kerja Sama Islam (OKI) menempatkan Eropa sebagai wilayah dengan insiden islamofobia terbesar kedua di dunia pada 2024.
Data dari Badan Hak Asasi Fundamental Uni Eropa (FRA) menunjukkan hampir satu dari dua Muslim di UE mengalami diskriminasi rasial, meningkat dari 39 persen pada 2016. Diskriminasi ini terutama terasa di pasar tenaga kerja dan perumahan. Austria melaporkan lebih dari 1.500 insiden kejahatan kebencian anti-Muslim pada 2023, angka tertinggi sejak 2015.
Di Swedia, ketegangan antara "Islamofobia" dan "Islamofilia" (penerimaan bersyarat yang masih terbelenggu stereotip) hadir bersamaan. Di satu sisi ada kebijakan inklusif, tetapi di sisi lain diskriminasi struktural tetap terjadi. Professor Islamic studies di Lund University, Jonas Otterbeck (2002) dalam kajian genealogisnya mengingatkan bahwa wacana tentang Islam di Swedia selalu menjadi refleksi dari perubahan sosial, politik, dan ekonomi masyarakatnya.
Ironisnya, saat islamofobia merebak di Eropa, banyak yang melupakan kontribusi monumental sarjana Muslim terhadap peradaban dunia. Sejarah mencatat bahwa Abu al-Qasim al-Zahrawi dikenal sebagai Bapak Bedah Modern, Ibn al-Nafis sebagai Bapak Fisiologi Sirkulasi, Alhazen sebagai Bapak Optik Modern, dan Jabir ibn Hayyan sebagai Bapak Kimia. Ibnu Khaldun diakui sebagai Bapak Sosiologi dan Ekonomi Modern, sementara Al-Khwarizmi menjadi Bapak Aljabar yang namanya melahirkan istilah "algoritma".
Warisan para ‘raksasa intelektual’ tersebut menunjukkan bahwa Islam bukanlah agama yang asing bagi tradisi intelektual Eropa, melainkan telah menjadi bagian integral dari perkembangan peradaban manusia. Namun narasi ini sering terabaikan dalam wacana publik kontemporer. Artinya, ‘dakwah lewat ilmu pengetahuan’ bisa jadi opsi penting bagi masyarakat Swedia.