Simak Panduan Penyembelihan Qurban dari Pra hingga Penanganan Limbah Menurut Pakar IPB
Sadam Al Ghifari
Penulis
Admin
Editor
Jakarta, MUI Digital— Menjelang pelaksanaan penyembelihan hewan qurban selama peringatan Hari Raya Idul Adha dan hari Tasyriq, umat Islam perlu memperhatikan aspek kebersihan, keamanan pangan, dan kesejahteraan hewan.
Proses yang tidak sesuai prosedur berisiko menyebabkan kontaminasi pada daging, jeroan, hingga mencemari lingkungan sekitar.
Lantas, bagaimana panduan penyembelihan hewan qurban hingga penanganannya yang benar?
Pakar peternakan IPB University, Dr Henny Nuraini, menjelaskan bahwa proses penyembelihan harus memperhatikan prinsip ihsan atau kesejahteraan hewan (animal welfare).
“Untuk melakukan pemotongan hewan yang sesuai dengan prinsip ihsan atau kesejahteraan hewan (animal welfare) ada beberapa hal penting yang perlu kita siapkan,” kata Henny kepada MUI Digital, di Jakarta, Jumat (15/5/2026).
Dia menjelaskan, lokasi pemotongan harus memenuhi syarat tertentu. Di antaranya tempat pemotongan berada pada tempat yang aman, tidak mengganggu ketertiban umum, memiliki luas area yang cukup untuk menampung ternak hidup, tersedia akses air yang cukup dan bersih, tersedia area, dan fasilitas pemotongan.
“Siapkan alur kerja, sehingga tidak mengkontaminasi dari area kotor ke area bersih,” ujar Henny yang juga periset dan pelatih di Pusat Kajian Halal IPB University ini.
Selain itu, sebelum penyembelihan, hewan perlu diistirahatkan dan dipuasakan dari pakan.
Baca juga: Panitia Qurban, Perhatikan Hal Berikut agar Proses Pemotongan Penuhi Prinsip Kesejahteraan Hewan
“Selama 8–12 jam menjelang pemotongan ternak dipuasakan dari pakan, cukup diberi minum, pemuasaan bertujuan untuk mengurangi isi saluran pencernaan sehingga tidak mengkontaminasi karkas,” ungkapnya.
Henny menambahkan, proses penyembelihan sebaiknya dilakukan di area terbatas.
“Area penyembelihan dibuat tertutup, hanya petugas dan pequrban saja yang masuk, untuk mengurangi stress pada ternak,” jelasnya.
Daging qurban
Setelah proses penyembelihan, penanganan daging harus dilakukan secara higienis dan sistematis
Auditor Halal LPPOM MUI ini menegaskan pentingnya alur kerja yang jelas dalam penanganan daging.
Baca juga: Pakar: Tempat Penampungan Qurban Harus Penuhi Prinsip Kesejahteraan Hewan
“Siapkan area penanganan daging, lantai diberi alas, dibuat alur kerja dengan metode FIFO (first in first out), karkas yang pertama diproses segera ditangani untuk dipisah daging tulangnya,” kata dia.
Dia juga menambahkan bahwa petugas harus menjaga kebersihan selama proses berlangsung.
“Tim petugas berbeda dengan proses yang lain, dapat menggunakan APD (alat pelindung diri) minimal masker, tutup kepala, apron (celemek), menjaga kebersihan diri dan area sekitar,” ujarnya.
Penanganan jeroan
Penanganan jeroan memerlukan perhatian khusus karena berpotensi menimbulkan kontaminasi jika tidak ditangani dengan benar.
Henny menegaskan bahwa jeroan harus diproses di area terpisah.
“Disiapkan area terpisah untuk menangani jeroan, jeroan dibersihkan, dipisah sesuai jenisnya, dikemas terpisah dengan daging dan tulang,” ungkapnya.
Langkah ini penting untuk mencegah kontaminasi silang antara jeroan dan daging.
Penanganan limbah
Selain daging dan jeroan, limbah hasil penyembelihan juga harus dikelola dengan baik agar tidak mencemari lingkungan.
Henny menjelaskan bahwa limbah terdiri dari limbah padat dan cair yang perlu penanganan khusus.
“Area penanganan limbah disiapkan tergantung pada jenis limbah, limbah padat (feses, alas kandang, isi saluran pencernaan) dan limbah cair (darah, air cucian), disiapkan alur penanganannya sehingga tidak mencemari lingkungan,” katanya.
Dia menambahkan, limbah padat masih dapat dimanfaatkan.
“Jika limbah padat cukup banyak, dapat diproses menjadi pupuk untuk digunakan di lingkungan sekitar,” ujarnya.