Masjid Al-Aqsa Kembali Dikepung Yahudi, Dipenuhi Pawai Bendera dan Slogan Provokatif
Dhea Oktaviana
Penulis
Admin
Editor
Yerusalem, MUI Digital- Ketegangan kembali memuncak di Masjid Al-Aqsa pada Kamis, setelah ratusan hingga ribuan pemukim Israel melakukan serangkaian penyerbuan ke halaman masjid suci tersebut.
Aksi itu disertai ritual Talmud, tarian provokatif, serta teriakan bernada rasis, dengan melibatkan sejumlah menteri Israel, anggota Knesset, dan rabi-rabi ekstremis.
Peristiwa ini berlangsung menjelang digelarnya Pawai Bendera tahunan, bertepatan dengan peringatan yang oleh Israel disebut sebagai Hari Penyatuan Yerusalem, yakni perayaan atas pendudukan Yerusalem Timur pada tahun 1967 menurut kalender Ibrani.
Untuk mengamankan rangkaian kegiatan itu, pasukan Israel mengubah Kota Tua Yerusalem menjadi kawasan dengan pengamanan militer yang sangat ketat.
Ketegangan semakin meningkat karena peristiwa tersebut terjadi sehari sebelum peringatan Nakba Palestina 1948 yang jatuh pada Jumat.
Sejumlah organisasi pemukim memanfaatkan momentum ini untuk mendorong penyerbuan lebih besar ke Al-Aqsa, bahkan menyerukan aksi baru pada Jumat (15/5/2026) pagi—sesuatu yang dinilai para pengamat Palestina sebagai Jumat paling berbahaya sejak pendudukan Yerusalem hampir enam dekade lalu.
Dilansir Aljazeera, Jumat, Mereka menilai langkah tersebut merupakan bagian dari upaya serius untuk mengubah status historis Masjid Al-Aqsa dan memperkuat proyek “Yudaisasi” Yerusalem.
Di kawasan Bab al-Amud atau Gerbang Damaskus, ratusan pemukim berkumpul pada Kamis malam untuk bersiap mengikuti Pawai Bendera. Di antara tokoh yang hadir ialah Menteri Keuangan Israel, Bezalel Smotrich.
Pawai itu selama bertahun-tahun dipandang warga Palestina sebagai simbol penegasan kedaulatan Israel atas Yerusalem Timur.
Setiap tahun, puluhan ribu pemukim dan kelompok nasionalis sayap kanan Israel turun ke jalan membawa bendera sambil melintasi kawasan-kawasan Palestina.
Polisi Israel sendiri telah mengumumkan pengerahan ribuan personel keamanan di Yerusalem Timur untuk mengawal jalannya pawai.
Di tengah suasana yang memanas, Menteri Keamanan Nasional Israel, Itamar Ben-Gvir, kembali memasuki kompleks Masjid Al-Aqsa pada Kamis sore.
Dalam rekaman video yang beredar, Ben-Gvir terlihat mengibarkan bendera Israel dan menari bersama kelompok pemukim sayap kanan dengan latar belakang Kubah Shakhrah. Ia juga tampak didampingi dua rabi dari kelompok ekstremis Temple Mount Yeshiva.
Ben-Gvir dan para pendukungnya menyanyikan lagu “Am Yisrael Chai” atau “Bangsa Israel Hidup”, sambil bertepuk tangan dan meneriakkan slogan. “Hari ini, lebih dari sebelumnya, Al-Aqsa ada di tangan kita.”
Ia juga berulang kali meneriakkan kalimat “Temple Mount ada di tangan kita”, slogan yang pernah dikumandangkan tentara Israel ketika merebut Yerusalem Timur pada perang 1967.
Sebelumnya, pada Ahad lalu, Ben-Gvir juga memasuki Al-Aqsa bersama para pemukim dan melakukan ritual Talmud di dalam kompleks masjid, sebagaimana dilaporkan kantor berita Palestina, WAFA.
Dokumentasi lain memperlihatkan anggota Knesset dari partai Jewish Power, Yitzhak Kroizer, turut memasuki kompleks masjid sambil mengibarkan bendera Israel.
Sejak pagi hari, penyerbuan terhadap Al-Aqsa berlangsung dalam jumlah besar. Para pemukim dipimpin sejumlah tokoh politik dan rabi ekstremis sambil menjalankan ritual keagamaan Yahudi di halaman masjid.
Sumber dari Departemen Wakaf Islam menyebutkan sedikitnya 422 pemukim memasuki Al-Aqsa hanya dalam tiga jam pertama.
Sementara Pemerintah Provinsi Yerusalem mencatat total 1.412 pemukim memasuki kawasan masjid sepanjang sesi pagi dan sore dengan pengawalan ketat aparat Israel.
Setiap pekan, dari Ahad hingga Kamis, pemukim Israel memang diizinkan memasuki kompleks Al-Aqsa dalam dua sesi, yakni pagi dan siang hari, di bawah perlindungan aparat keamanan Israel.
Menurut otoritas Palestina, gelombang penyerbuan kali ini dilakukan setelah kelompok-kelompok pemukim menyerukan peningkatan aksi dalam rangka memperingati “hari pendudukan Yerusalem” versi Israel.
Anggota Knesset Ariel Kellner dan aktivis sayap kanan Yehuda Glick disebut berada di garis depan rombongan pemukim. Bahkan Yehuda Glick dilaporkan mengadakan sesi ceramah di bagian timur kompleks masjid.
Di sisi lain, aparat Israel memperketat pembatasan terhadap jamaah Muslim. Pemerintah Yerusalem Palestina menyebut polisi Israel melarang laki-laki di bawah usia 60 tahun dan perempuan di bawah usia 50 tahun memasuki Al-Aqsa sejak dini hari.
Sejumlah jamaah dilaporkan mengalami dorongan dan pemukulan di pintu-pintu gerbang masjid.
Tidak hanya itu, polisi Israel juga memaksa jamaah, pegawai Wakaf Islam, dan para pelajar sekolah syariah untuk tetap berada di dalam ruangan tertutup dan melarang mereka berada di halaman masjid, sehingga kawasan itu hampir sepenuhnya dikosongkan bagi para pemukim.
Diperkirakan hanya sekitar 150 Muslim berada di dalam Al-Aqsa saat ratusan pemukim memasuki kompleks tersebut.
Di Kota Tua Yerusalem, aparat Israel juga memaksa para pedagang menutup toko mereka sepanjang hari demi mengamankan “Pawai Bendera”.
Sementara itu, puluhan pemukim menyerang warga di kawasan permukiman Kristen di Kota Tua. Mereka merusak properti dan toko milik warga Palestina, sementara aparat dan pemukim disebut melakukan berbagai tindakan provokatif terhadap penduduk Yerusalem.
Di tengah eskalasi tersebut, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menegaskan bahwa Yerusalem akan tetap menjadi “ibu kota historis dan abadi Israel yang bersatu di bawah kedaulatan Israel”.
Sehari sebelumnya, Menteri Negev dan Galilea Israel, Yitzhak Wasserlauf, juga memasuki kompleks Masjid Al-Aqsa menjelang peringatan pendudukan Yerusalem Timur.
Menurut media Israel, sekitar 50 ribu pemukim diperkirakan mengikuti “Pawai Bendera” tahun ini. Pawai tersebut melintasi kawasan Palestina sambil meneriakkan slogan-slogan seperti “Matilah orang Arab”.
Dalam beberapa tahun terakhir, polisi Israel juga mulai melonggarkan aturan bagi pengunjung Yahudi di Al-Aqsa.
Jika sebelumnya mereka dilarang membawa perlengkapan ibadah atau melakukan ritual terbuka, kini praktik-praktik tersebut semakin sering diizinkan.
Sejak 2003, Israel secara sepihak mengizinkan pemukim memasuki kompleks Al-Aqsa, meski terus ditentang oleh otoritas Wakaf Islam Yerusalem.
Pemerintah Yordania mengecam keras tindakan Ben-Gvir dan para pemukim. Kementerian Luar Negeri Yordania menyebut aksi tersebut sebagai provokasi berbahaya dan pelanggaran nyata terhadap status historis dan hukum Yerusalem.
Yordania menegaskan bahwa seluruh kawasan Masjid Al-Aqsa merupakan tempat ibadah khusus umat Islam, serta berada di bawah pengelolaan Wakaf Islam yang berafiliasi dengan Kementerian Wakaf Yordania.
Sementara itu, Hamas menyebut penyerbuan Al-Aqsa dan “Pawai Bendera” sebagai upaya gagal untuk mengubah identitas Yerusalem.
Hamas menegaskan bahwa Yerusalem dan Masjid Al-Aqsa akan tetap menjadi milik Palestina, Arab, dan umat Islam, terlepas dari berbagai upaya “Yudaisasi” yang dilakukan Israel.
Dalam pernyataannya, Hamas juga menyatakan bahwa rakyat Palestina dan kelompok perlawanan akan terus mempertahankan Al-Aqsa, tanah Palestina, dan tempat-tempat suci mereka “apa pun pengorbanannya”.