Ribuan Demonstran Sayap Kanan di London Targetkan Muslim dan Migran
Miftahul Jannah
Penulis
Admin
Editor
London, MUI Digital – Ribuan demonstran sayap kanan memadati pusat kota London dalam aksi bertajuk “Unite the Kingdom” yang dipimpin aktivis nasionalis sayap kanan Tommy Robinson pada Ahad (17/5/2026).
Aksi tersebut diwarnai berbagai seruan anti-Muslim, anti-imigran, dan sentimen rasial terhadap kelompok minoritas di Inggris Raya, dikutip b dari The New Arab pada Senin (18/5/2026)
Dalam orasinya, Robinson menyatakan akan “menghentikan Islam” apabila menjadi perdana menteri Inggris.
“Saya akan menghentikan Islam, saya akan mengakhiri pendanaan asing untuk negara ini, semua migran akan dikeluarkan dari hotel dan dikirim kembali besok oleh militer,” katanya di hadapan massa.
Dia juga menyerukan “remigrasi” dan meminta umat Muslim meninggalkan Inggris apabila tidak mau berintegrasi atau berasimilasi.
Demonstrasi tersebut berlangsung bersamaan dengan aksi yang jauh lebih besar untuk memperingati 78 tahun Nakba, yang menandai pengusiran ratusan ribu warga Palestina setelah berdirinya Israel. Sejumlah peserta aksi sayap kanan terlihat membawa bendera Israel.
Aktivis sayap kanan lainnya, Kellie-Jay Keen-Minshull, juga menyerukan penghapusan Islam dari sekolah dan lembaga publik.
“Belum terlambat untuk mengeluarkan Islam dari ruang kelas kita… jika kita ingin menyelamatkan negara ini, kita harus menyingkirkan Islam dari setiap tempat yang berwenang,” ujarnya.
Aksi tersebut menuai kritik luas setelah tiga perempuan naik ke panggung mengenakan niqab untuk mengejek Islam. Mereka kemudian melepas niqab di tengah sorakan massa.
Insiden itu memicu kecaman dari para aktivis hak asasi manusia dan pegiat anti-diskriminasi yang menilai tindakan tersebut sebagai bentuk Islamofobia terbuka.
Baca juga: UEA Bantah Kunjungan Rahasia Netanyahu di Tengah Konflik Iran
Kepala Eksekutif Amnesty International UK, Kerry Moscogiuri, mengatakan demonstrasi tersebut membawa “rasisme, kekerasan, dan ketakutan” ke jalanan London.
“Sekali lagi, kita menyaksikan pawai yang membawa rasisme, kekerasan, dan ketakutan ke jalanan London dengan tujuan membangkitkan kebencian terhadap Muslim, migran, dan orang-orang kulit berwarna,” katanya dalam pernyataan kepada media.
Dia juga mengkritik para politisi, media, dan perusahaan teknologi yang dianggap ikut memperkuat retorika kebencian terhadap kelompok minoritas.
Sementara itu, kelompok kampanye Led By Donkeys melakukan aksi tandingan dengan menampilkan layar LED bertuliskan Imigrasi membuat Inggris cemerlang disertai gambar tokoh-tokoh Inggris dari berbagai latar belakang etnis.
Perdana Menteri Inggris Keir Starmer turut mengecam aksi tersebut dan menyebut para penyelenggaranya sebagai pihak yang menyebarkan kebencian dan perpecahan.
Menurut Kepolisian Metropolitan London, sedikitnya 31 orang ditangkap sepanjang rangkaian demonstrasi berlangsung.
Baca juga: Laporan: Israel Ngotot Dorong AS untuk Kembali Perangi Iran
Tumbuh cepat
Medan pertarungan politik berikutnya di Britania kemungkinan akan dibentuk oleh generasi muda Muslim yang tumbuh dewasa lebih cepat daripada yang disadari Westminster.
Sebuah laporan baru dari Muslim Council of Britain yang dirilis pekan ini menemukan bahwa Muslim mencakup 6,5 persen dari populasi Inggris dan Wales, dengan usia median hanya 27 tahun — 13 tahun lebih muda dibanding rata-rata nasional.
Hampir separuh dari mereka berusia di bawah 25 tahun, menjadikan Muslim Britania sebagai salah satu kelompok termuda dan dengan pertumbuhan tercepat di negara itu.
Dilaporkan Aljazeera, Ahad (17/5/2026), para peneliti menyebut perubahan ini bisa menjadi signifikan secara politik apabila usia pemilih diturunkan menjadi 16 tahun, yang berpotensi menambah sekitar 150 ribu pemilih Muslim baru ke dalam daftar pemilih.
“Ini adalah generasi muda kelahiran Britania yang berpendidikan tinggi, dan para politisi yang masih memandang Muslim sebagai orang luar sedang menggunakan cara pandang yang sudah ketinggalan 20 tahun,” kata Miqdad Asaria, profesor madya kebijakan kesehatan di London School of Economics and Political Science.
Baca juga:Populasi Muslim di Polandia Meningkat, Jejak Islam Mengakar Sejak Abad ke-14
“Menurunkan usia memilih menjadi 16 tahun akan memperkuat suara generasi yang sebenarnya sudah membentuk kehidupan publik Britania. Separuh Muslim Britania berusia di bawah 25 tahun. Mereka tidak menunggu izin untuk ikut berpartisipasi,” kata dia menambahkan.
Tahun lalu, pemerintahan Partai Buruh mengusulkan penurunan usia pemilih menjadi 16 tahun.
Agar menjadi undang-undang, usulan tersebut masih dibahas di parlemen dan harus mendapat persetujuan anggota parlemen di Majelis Rendah serta anggota House of Lords.
Laporan berjudul British Muslims in Numbers itu menganalisis data sensus tahun 2001, 2011, dan 2021, serta menilai bahwa banyak pemahaman masyarakat Britania tentang kehidupan Muslim kini sudah tidak lagi relevan.
“Ada kecenderungan dalam komentar politik untuk melihat pemilih Muslim sebagai satu blok yang seragam,” tambah Asaria, yang juga anggota komite riset MCB. “Hal itu sama sekali tidak didukung oleh data.”
Baca juga:Laporan: Israel Ngotot Dorong AS untuk Kembali Perangi Iran
Menurutnya, Muslim Britania sangat beragam dari sisi etnis, politik, dan budaya — mulai dari komunitas Pakistan di Bradford, komunitas Somalia di Cardiff, keluarga Bangladesh di Tower Hamlets, para mualaf kulit putih Britania, hingga profesional Arab di London, serta banyak komunitas lain di berbagai wilayah negara tersebut.
“Tidak ada blok suara Muslim. Tidak pernah ada,” ujarnya. “Yang ada adalah hampir empat juta orang dengan beragam pandangan politik sebagaimana lazimnya populasi sebesar itu.”
Mohammed Sinan Siyech, dosen politik di University of Wolverhampton, mengatakan bahwa Muslim muda sangat terlibat secara politik melalui media sosial, terutama di tengah meningkatnya Islamofobia seiring pertumbuhan kelompok kanan jauh.
“Para pemilih ini lebih sadar terhadap apa yang terjadi di sekitar mereka karena pengamatan langsung dan meningkatnya media sosial alternatif serta para influencer yang membahas isu-isu politik,” katanya.
Namun, laporan tersebut juga menggambarkan realitas ketimpangan dan kesulitan yang cukup tajam.
Baca juga:Ini Rahasia Air Zamzam di Majid Nabawi Selalu Aman Diminum Meski Jauh dari Sumbernya
Sekitar 110 ribu rumah tangga Muslim — atau 10,3 persen — merupakan keluarga dengan orang tua tunggal yang memiliki anak tanggungan, lebih tinggi dibanding rata-rata nasional sebesar 6,9 persen.
Kepemilikan rumah di kalangan Muslim juga masih berada di bawah rata-rata nasional, yakni 41,5 persen dibanding 63 persen secara nasional.
“Ini bukan kisah tentang kegagalan budaya,” kata Asaria. “Ini adalah kisah tentang ketertinggalan struktural yang hampir tidak berubah selama 20 tahun,” ujar dia menambahkan.
Dia menilai Muslim Britania bekerja sangat keras menghadapi berbagai hambatan, seperti diskriminasi dalam pekerjaan, kualitas perumahan yang buruk, dan minimnya investasi di wilayah-wilayah dengan populasi Muslim besar.
“Data ini mematahkan stereotip tentang keluarga Muslim yang dianggap seragam dan tradisional,” katanya.
“Muslim Britania berubah dengan cara yang sama seperti masyarakat luas berubah, tetapi mereka melakukannya sambil memikul beban ekonomi yang lebih berat,” ujar dia.
Laporan tersebut juga mencatat adanya tanda-tanda mobilitas sosial.
Partisipasi ekonomi erempuan Muslim meningkat 37 persen dalam dua dekade terakhir. Hampir sepertiga Muslim kini memiliki gelar pendidikan tinggi, mendekati rata-rata nasional. Bahkan, di kelompok usia 16–24 tahun, Muslim kini melampaui rata-rata nasional dalam pencapaian pendidikan tingkat sarjana.
Wakil Direktur Centre for the Study of Islam in the UK, Abdul-Azim Ahmed, mengatakan bahwa Muslim Britania berkembang dan matang lebih cepat daripada pemahaman publik terhadap mereka.
“Muslim semakin berpendidikan, berjiwa wirausaha, aktif secara ekonomi, dan menjadi warga negara yang terlibat dalam kehidupan masyarakat,” katanya.
“Profil usia Muslim Britania yang lebih muda juga menunjukkan betapa pentingnya mereka sebagai pekerja pembayar pajak untuk menopang perekonomian Britania secara lebih luas,” kata dia menambahkan.
Bagi para peneliti di balik laporan ini, pertanyaan utamanya kini bukan lagi apakah Muslim diterima sebagai bagian dari Britania, melainkan apakah institusi-institusi Britania siap menghadapi besarnya perubahan demografis dan sosial yang sudah berlangsung saat ini. (Dhea Oktaviana)