3 Tipe Jamaah Haji Menurut Kiai Cholil: Dari Tukang Pamer hingga yang Bangun Peradaban
Sadam Al Ghifari
Penulis
Admin
Editor
Makkah, MUI Digital— Ketua Musyrif Diny, KH Cholil Nafis, memetakan tiga model atau tipe jamaah haji yang kerap ditemui di Tanah Suci.
Dari ketiga tipe tersebut, dua di antaranya menjadi catatan serius yang harus diwaspadai agar tidak ditiru oleh jamaah haji Indonesia.
Pernyataan tersebut disampaikan Kiai Cholil di Makkah, Senin (18/5/2026) menjelang fase puncak ibadah haji di Arafah, Muzdalifah, dan Mina (Armuzna).
Wakil Ketua Umum MUI ini mengingatkan agar jamaah meluruskan kembali niatnya dan tidak terjebak dalam aktivitas yang bisa merusak pahala ibadah.
Baca juga: Jamaah Haji akan Dapat Jatah 15 Kali Makan Selama Fase Armuzna
"Kita harus mewaspadai motivasi kita berhaji. Jangan sampai energi dan biaya yang besar habis untuk hal yang sia-sia," ujar Pengasuh Pondok Pesantren Cendekia Amanah, Depok, Jawa Barat ini.
Tipe pertama adalah jamaah yang berangkat haji hanya untuk gaya-gayaan, pamer, atau flexing demi mendapatkan pengakuan sosial di Tanah Air.
Kiai Cholil memberikan sorotan tajam pada fenomena penggunaan kamera ponsel di depan Masjidil Haram yang sering kali dipakai untuk kepentingan riya atau membuat konten iklan.
Secara tegas, Ketua Badan Pengurus Dewan Syariah Nasional (DSN) MUI ini mengingatkan bahwa tipe ini tidak akan mendapat apresiasi dari Allah SWT.
"Jangan sampai kita ini me-shooting untuk kepentingan flexing atau untuk pamer. Karena itu akan menghilangkan pahala-pahala ibadahnya atau dapat menjauhkan dari kemabruran hajinya karena akan menimbulkan rasa riya," kata dia.
Tipe kedua adalah jamaah yang memandang ibadah haji sekadar sebagai ajang jalan-jalan, ziarah, atau wisata rekreasi.
Baca juga: Ada Dua Fatwa Dam Haji, Musyrif Diny: Jamaah Bebas Pilih yang Menenangkan Hati
Selama masa tunggu, tipe jamaah ini biasanya menghabiskan tenaga untuk aktivitas fisik yang tidak perlu, sehingga staminanya terkuras sebelum puncak haji dimulai.
"Tipe ini tidak akan mendapatkan keutamaan haji yang maksimal," kata ulama kelahiran Sampang, Madura, Jawa Timur tersebut.
Tipe ketiga inilah yang diharapkan melekat pada seluruh jamaah haji Indonesia. Tipe ini adalah mereka yang datang semata-mata untuk tunduk, taat, dan mendekatkan diri kepada Allah SWT, meskipun harus membayar mahal dan menguras kekuatan fisik.
Lebih dari sekadar beribadah, CEO Amanah Zakat ini mendoakan agar jamaah haji Indonesia tahun ini bisa meniru rekam jejak sejarah para ulama terdahulu ketika kembali ke Tanah Air.
Menurutnya, esensi dari haji mabrur yang sesungguhnya adalah lahirnya perubahan positif, baik bagi diri sendiri maupun lingkungan sekitar.
Dia menyebut seperti pada para ulama terdahulu, berangkat haji itu pulangnya bisa bikin perubahan terhadap diri sendiri, bahkan bisa membangun peradaban.
“Dan itu dilakukan oleh para jamaah haji Indonesia pada saat itu sebelum kemerdekaan, sehingga bisa melahirkan kemerdekaan dari para ulama atau jamaah yang berangkat haji," tegasnya.
Jelang pelaksanaan puncak ibadah haji, Kiai Cholil kembali mengimbau jamaah untuk menahan diri dari euforia "haji mumpung".
Dia menyarankan jamaah untuk fokus menjaga stamina, memperbanyak dzikir, iktikaf di hotel jika fisik terbatas, serta memastikan istirahat dan nutrisi yang cukup demi kelancaran ibadah di Armuzna nanti.