Krisis Selat Hormuz Hari ke-67: UEA Cegat Rudal Iran, AS Ancam Hancurkan Teheran
Latifahtul Jannah
Penulis
Admin
Editor
Jakarta, MUI Digital — Ketegangan di kawasan Teluk terus meningkat memasuki hari ke-67 konflik Iran, setelah Uni Emirat Arab (UEA) mengklaim berhasil mencegat rudal balistik dan rudal jelajah yang diduga diluncurkan dari Iran.
Dalam pernyataan resmi, UEA menyebut sistem pertahanan udaranya berhasil mengintersepsi serangan tersebut.
Selain itu, kebakaran dilaporkan terjadi di fasilitas energi di Fujairah setelah dugaan serangan pesawat nirawak (drone). Insiden ini juga menyebabkan tiga warga negara India mengalami luka-luka. Hingga kini, Iran belum memberikan tanggapan resmi terkait tuduhan tersebut.
Dikutip MUI Digital dari Aljazeera (5/5/2026), serangan yang diduga dilakukan Iran terhadap UEA memicu kecaman luas dari sejumlah negara, termasuk Qatar, Yordania, Arab Saudi, dan Kuwait, serta organisasi regional Dewan Kerja Sama Teluk (GCC) dan Uni Eropa.
Di Oman, dua orang dilaporkan mengalami luka-luka setelah sebuah bangunan permukiman di wilayah pesisir Selat Hormuz menjadi sasaran serangan.
Ketegangan juga meningkat antara Iran dan Amerika Serikat. Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, mengeluarkan peringatan keras dengan menyatakan bahwa Iran akan dihancurkan sepenuhnya apabila menyerang kapal Angkatan Laut Amerika Serikat di Selat Hormuz. Ia juga memperingatkan agar Iran berharap gencatan senjata yang ada tetap bertahan.
Sebelumnya, Iran mengklaim telah menyerang kapal perang Amerika Serikat, namun klaim tersebut dibantah oleh pihak militer Amerika Serikat.
Di sisi lain, pasukan Amerika Serikat dilaporkan telah menenggelamkan enam kapal kecil Iran yang diduga mencoba mengganggu pelayaran komersial.
Insiden ini terjadi dalam operasi militer bertajuk “Project Freedom”, yang bertujuan membuka kembali jalur pelayaran di Selat Hormuz. Iran membantah klaim tersebut dan menyatakan bahwa kapal yang diserang merupakan kapal sipil yang membawa barang dan penumpang.
Media pemerintah Iran melaporkan sedikitnya lima warga sipil tewas dalam insiden tersebut. Selain itu, kebakaran juga dilaporkan terjadi di sejumlah kapal komersial di pelabuhan selatan Iran, tepatnya di Dayyer.
Garda Revolusi Iran (IRGC) menyatakan bahwa tidak ada kapal dagang yang melintasi Selat Hormuz, bertentangan dengan klaim militer Amerika Serikat yang menyebut dua kapal berbendera Amerika telah melewati jalur tersebut dengan pengawalan kapal perang.
Wakil Presiden Pertama Iran, Mohammad Reza Aref, menegaskan bahwa pengelolaan Selat Hormuz merupakan hak sah Iran. Sementara itu, Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, menilai bahwa eskalasi yang terjadi menunjukkan tidak adanya solusi militer untuk krisis politik yang berlangsung.
Seorang mantan pejabat tinggi Amerika Serikat, Mark Kimmitt, menyatakan bahwa Washington dan Teheran masih memiliki perbedaan yang jauh, meskipun peluang kemajuan terbatas tetap ada jika kedua pihak dapat mempersempit tuntutan masing-masing.
Di kawasan Teluk, kapal perusak Amerika Serikat juga dilaporkan memasuki perairan sebagai bagian dari misi pengawalan kapal-kapal yang melintasi Selat Hormuz.
Di tingkat internasional, sejumlah negara menyerukan de-eskalasi. Perdana Menteri Kanada, Mark Carney, menyatakan solidaritas terhadap UEA serta menekankan pentingnya perlindungan warga sipil dan diplomasi. Perdana Menteri Inggris, Keir Starmer, mengecam serangan tersebut dan mendesak agar eskalasi segera dihentikan.
Baca juga: Update Perang AS VS Iran: Trump Pertahankan Blokade Iran, Teheran Ancam Tindakan Praktis
Arab Saudi juga mengutuk serangan yang menargetkan objek sipil dan ekonomi di UEA, serta menyerukan penahanan diri dari semua pihak.
Sementara itu, militer Israel dilaporkan tetap berada dalam status siaga tinggi dan terus memantau perkembangan situasi di kawasan menyusul meningkatnya ketegangan.
Di Lebanon, Presiden Joseph Aoun menyatakan bahwa kesepakatan keamanan dan penghentian serangan Israel diperlukan sebelum pertemuan dengan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dapat dilakukan.
Di saat yang sama, kelompok Hezbollah dilaporkan terlibat bentrokan dengan tentara Israel di wilayah selatan Lebanon, meskipun gencatan senjata telah berlaku sejak 17 April.
Ketegangan yang terus meningkat ini turut berdampak pada perekonomian global. Harga minyak dunia melonjak lebih dari lima persen, dengan kontrak Brent untuk pengiriman Juli mengalami kenaikan tajam setelah serangan terhadap UEA, seiring meningkatnya kekhawatiran terhadap stabilitas pasokan energi global.
Situasi di Selat Hormuz yang semakin tidak menentu menunjukkan potensi eskalasi konflik yang lebih luas, dengan keterlibatan berbagai negara dan meningkatnya intensitas ketegangan di kawasan tersebut.