Oleh : Dr KH A Bahrul Hikam M Ed , anggota Komisi Fatwa MUI Kota Tangerang
اَلسَّلامُ عَليْكُمْ وَرَحْمَةُاللّٰهِ وَبَرَكَاتُهُ
اَلْحَمْدُ ِللّٰهِ الْكَرِيْمِ الْمُتَعَالِ، اَلَّذِيْ فَرَضَ عَلَيْنَا صِيَامَ رَمَضَانَ لِتَزْكِيَةِ النُّفُوْسِ وَإِصْلَاحِ الْأَعْمَالِ، وَأَكْرَمَنَا بَعْدَهُ بِعِيْدِ الْفِطْرِ وَشَهْرِ شَوَّالِ، لِنَتَزَوَّدَ فِيْهِ بِالطَّاعَاتِ وَصَالِحِ الْأَفْعَالِ أَحْمَدُهُ سُبْحَانَهُ عَلَى نِعَمِهِ الَّتِيْ لَا تُحْصَى بِالْعَدِّ وَلَا بِالْمِثَالِ، وَأَشْكُرُهُ عَلَى تَوْفِيْقِهِ لِلْعِبَادَةِ وَإِصْلَاحِ الْأَحْوَالِ
أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، الْمُنَزَّهُ عَنِ الشَّبِيْهِ وَالنَّظِيْرِ وَالْمِثَالِ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا وَنَبِيَّنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، الدَّاعِيْ إِلَى أَقْوَمِ الْأَقْوَالِ حَثَّ أُمَّتَهُ عَلَى إِتْبَاعِ رَمَضَانَ بِسِتٍّ مِنْ شَوَّالٍ، لِيَحُوْزُوْا بِذَلِكَ أَجْرَ صِيَامِ الدَّهْرِ قَبْلَ دُنُوِّ الْآجَالِ
اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى هَذَا النَّبِيِّ الْكَرِيْمِ، سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ خَيْرِ مَنْ صَامَ وَقَامَ وَابْتَهَلَ، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الْمَآلِ، صَلَاةً وَسَلَامًا دَائِمَيْنِ مُتَلَازِمَيْنِ بِدَوَامِ الْغُدُوِّ وَالْآصَالِ
أَمَّا بَعْدُ، فَيَا مَعْشَرَ الْمُسْلِمِيْنَ، اِتَّقُوْا اللّٰهَ حَقَّ تُقَاتِهِ فِي الْحِلِّ وَالْتِرْحَالِ، وَلَا تَغُرَّنَّكُمُ الْحَيَاةُ الدُّنْيَا بِزُخْرُفِهَا وَالْآمَالِ. وَاعْلَمُوْا أَنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوَى، وَأَنَّ الْمَوْتَ يَأْتِيْ بَغْتَةً بِلَا إِمْهَالٍ قَالَ اللّٰهُ تَعَالٰى فِيْ كِتَابِهِ الْعَزِيْزِ: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ وَلْتَنظُرْ نَفْسٌ مَّا قَدَّمَتْ لِغَدٍ ۖ وَاتَّقُوا اللّٰهَ ۚ إِنَّ اللّٰهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ
Hadirin jamaah Jumat rahimakumullah...
Alhamdulillah, segala puji bagi Allah, atas berkat Rahmat-Nya, Inayah-Nya, karunia-Nya, Allah kumpulkan kita bersama pada hari yang mulia ini, di tempat rumah-Nya yang mulia ini untuk melaksanakan Ibadah Shalat Jumat, mudah-mudahan shalat Jumat kita dan apapun ibadah yang kita lakukan selama ini terutama pada Ramadhan kemarin diterima oleh Allah SWT dan mudah-mudahan semua ibadah-ibadah itu dapat meningkatkan ketakwaan kita kepada Allah SWT. Amiin
Hadhirin jamaah Jumat rahimakumullah...
Jika kita membuka lembaran sejarah, kita akan menemukan bagaimana para salaf sholih memandang Ramadhan, Pra Ramadhan dan Pasca Ramadhan. Imam Mu’alla bin al-Fadhl berkata,
كَانُوْا يَدْعُوْنَ اللّٰهَ تَعَالٰى سِتَةَ أَشْهُرٍ أَنْ يُبَلِّغَهُمْ رَمَضَانَ ثُمَّ يَدْعُوْنَهُ سِتَةَ أَشْهُرٍ أَنْ يَتَقَبَلَ مِنْهُمْ
“Dulunya (para salaf) berdoa kepada Allah Subhanahu wa ta’ala (selama) enam bulan agar Allah mempertemukan mereka dengan bulan Ramadhan, kemudian mereka berdoa kepada-Nya (selama) enam bulan (berikutnya) agar Allah menerima (amal-amal sholeh) yang mereka (kerjakan).”
Bayangkan bagaimana para salaf sholih sedemikian khawatir amal-amal yang sudah mereka lakukan di bulan Ramadhan tidak diterima oleh Allah SWT sehingga mereka sampai berdoa sampai enam bulan lamanya sesudah Ramadhan agar amal-amal ramadhan diterima oleh Allah SWT.
Baca juga: Khutbah Jumat: Hari Pahlawan, Momentum Mensyukuri Nikmat Kemerdekaan
Pertanyaannya Pernahkah kita khawatir apakah amal kita benar-benar diterima oleh Allah? Nabi Ibrahim dan Ismail saja memohon dengan penuh harap agar amal mereka diterima, padahal mereka sedang melaksanakan perintah langsung dari Rabb mereka.
Ketika membangun fondasi Ka’bah atas perintah Allah, Nabi Ibrahim dan Ismail tak hanya bekerja keras secara fisik. Mereka juga tak lepas dari berdoa dan menggantungkan harapan pada Allah. Allah Ta‘ala mengabadikan doa mereka dalam firman-Nya:
وَإِذْ يَرْفَعُ إِبْرَٰهِيمُ ٱلْقَوَاعِدَ مِنَ ٱلْبَيْتِ وَإِسْمَٰعِيلُ رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّآ ۖ إِنَّكَ أَنتَ ٱلسَّمِيعُ ٱلْعَلِيمُ
“Dan (ingatlah), ketika Ibrahim meninggikan (membina) dasar-dasar Baitullah bersama Ismail (seraya berdoa): ‘Ya Tuhan kami, terimalah daripada kami (amalan kami). Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.’” (QS Al-Baqarah: 127)
Doa ini bukan sekadar pengharapan, melainkan juga cerminan rasa rendah hati di hadapan Allah. Beliau-beliau sadar, meski beliau melakukan ibadah agung atas perintah langsung dari Rabb nya, itu belum menjamin diterimanya amal.
Kali ini kita berada pada Syawal. Bulan kesepuluh dari bulan Hijriyah. Mudah-mudahan di bulan ini, kita meneruskan lagi ibadah kita di bulan Ramadhan.
Baca juga: Khutbah Jumat: Memahami Prinsip Wasathiyah Islam dalam Beragama
Mudah-mudahan shalat lima waktu terus jalan. Mudah-mudahan shalat berjamaah ke masjid semakin dijaga. Mudah-mudahan kesibukan dunia tidak melalaikan kita dari shalat sunnah dan puasa sunnah.
Hadhirin Jamaah Jumat rahimakumullah...
Ketika Ramadhan berakhir sebenarnya pertanyaan terpenting bukanlah: “Apakah Ramadan sudah selesai?”melainkan: “Apakah Ramadan benar-benar meninggalkan bekas dalam diri kita?”
Para ulama menyebutkan kaidah penting:
مِنْ عَلَامَاتِ قَبُوْلِ الْعَمَلِ دَوَامُ الطَّاعَةِ بَعْدَهُ
"Di antara tanda diterimanya amal adalah berlanjutnya ketaatan setelahnya."
Salah satu bentuk kelanjutan ketaatan itu adalah puasa enam hari di bulan Syawal, sebagaimana sabda Nabi Muhammad SAW
مَنْ صَامَ رَمَضَانَ ثُمَّ أَتْبَعَهُ سِتًّا مِنْ شَوَّالٍ كَانَ كَصِيَامِ الدَّهْرِ
“Barang siapa yang berpuasa Ramadhan kemudian berpuasa enam hari di bulan Syawal, maka dia seperti berpuasa sepanjang tahun.” (HR Muslim, no 1164).
Para ulama mengatakan bahwa berpuasa seperti setahun penuh asalnya karena setiap kebaikan semisal dengan sepuluh kebaikan. Bulan Ramadhan (puasa sebulan penuh) sama dengan (berpuasa) selama sepuluh bulan (30 x 10 = 300 hari = 10 bulan) dan puasa enam hari di bulan Syawal sama dengan (berpuasa) selama dua bulan (6 x 10 = 60 hari = 2 bulan).
Tentu saja penjelasan ini bukan sekadar angka pahala saja. Ini isyarat pendidikan ruhani. Ramadan melatih kita sebulan penuh, lalu Syawal menguji: Apakah kita sanggup istiqamah, meski tanpa suasana Ramadhan?
Puasa Syawal mengajarkan bahwa ibadah bukan musiman, bukan hanya saat masjid ramai dan mushaf dibuka bersama, melainkan saat manusia kembali sibuk dengan dunia. Jika Ramadan adalah madrasah, maka Syawal adalah ujian kelulusan.
Barang siapa masih sanggup menahan lapar karena Allah, setelah Allah menghalalkan makan, maka itu tanda iman belum padam.Sebulan Ramadan belum tentu sempurna. Maka enam hari Syawal menjadi penyempurna kekurangan, sebagaimana shalat sunnah menutup cacat shalat wajib.
Dalam hadits yang lain yang diriwayatkan oleh Sayidina Abdullah bin Umar RA ada sedikit redaksi yang berbeda
مَنْ صَامَ رَمَضَانَ وَأتْبَعَهُ سِتًّا مِنْ شَوَّالٍ خَرَجَ مِنْ ذُنُوْبِهِ كَيَوْمِ وَلَدَتْهُ أُمُّهُُ
"Barangsiapa yang berpuasa Ramadhan dan mengikutinya dengan enam hari Syawal, maka dia keluar dari dosa-dosanya seperti hari dia dilahirkan oleh ibunya."
Hadhirin jamaah Jumat rahimakumullah...
Ada satu filosofi mendalam tentang Puasa Syawal yang dijelaskan oleh Ibnu Rajab Al-Hanbali. Beliau berkata,"Sesungguhnya balasan dari kebaikan adalah kebaikan setelahnya." Maka salah satu tanda diterimanya puasa Ramadhan seseorang adalah ketika ia dimudahkan untuk melakukan kebaikan setelahnya. Jika setelah Ramadhan seseorang kembali rajin berpuasa (Syawal), menjaga shalat berjamaah, dan tetap membaca Alquran, itu adalah indikator kuat bahwa Ramadhannya maqbul (diterima). Sebaliknya, jika setelah takbir Idul Fitri berkumandang, Alquran kembali berdebu dan puasa ditinggalkan sama sekali, kita patut khawatir: Jangan-jangan kita hanya menyembah Ramadhan, bukan menyembah Pemilik Ramadhan.
Baca juga: Khutbah Jumat: Memahami Prinsip Wasathiyah Islam dalam Beragama
Puasa Syawal adalah "penjahit" sobekan-sobekan ibadah kita. Jika puasa wajib kita di bulan Ramadhan mungkin ada yang kurang sempurna—mungkin ada lisan yang tak terjaga atau hati yang lalai—maka puasa sunnah Syawal ini hadir sebagai penyempurna (penambal) kekurangan tersebut.
Maka mari sama-sama kita renungkan. Waktu berjalan begitu cepat. Syawal pun akan segera berlalu. Kesempatan untuk meraih pahala setahun penuh ini terbatas waktunya.
Bagi yang belum memulainya, masih ada waktu. Bagi yang sudah memulai namun belum tuntas, mari kita sempurnakan sisa harinya. Jangan biarkan kemalasan menghalangi kita dari limpahan karunia Allah. Mungkin sebagian orang akan berkata bukankan tanggal 2 Syawal sudah lewat apakah kita kita mengerjakannya pada hari-hari esok kita akan mendapatkan fadhilah yang sama.
Hadirin jamaah Jumat rahimakumullah...
Pelaksanaan Puasa Sunnah Syawal sangat fleksibel.Boleh dikerjakan secara berturut-turut mulai tanggal 2 Syawal. Boleh juga dikerjakan secara terpisah (acak) selama masih berada di bulan Syawal. Bagi yang masih memiliki utang puasa Ramadhan (qadha), para ulama menyarankan untuk mendahulukan qadha baru kemudian puasa Syawal, agar pahala "puasa setahun penuh" didapatkan secara sempurna. Namun, jika udzur mendesak, sebagian ulama memperbolehkan niat puasa qadha sambil pula diniati sunnah Syawal.
Imam Nawawi rahimahullah dalam Syarh Nawawi ‘ala Muslim menjelaskan:
قَالَ أَصْحَابُنَا وَالْأَفْضَلُ أَنْ تُصَامَ السِّتَةُ مُتَوَالِيَةً عَقِبَ يَوْمِ الْفِطْرِ، فَإِنْ فَرَّقَهَا أَوْ أَخَّرَهَا عَنْ أَوَائِلِ شَوَالٍ إِلٰى أَوَاخِرِهِ حَصَلَتْ فَضِيْلَةُالْمُتَابَعَةِ لِأَنَّهُ يُصَدِّقُ أَنَّهُ أَتْبَعَهُ سِتًّا مِنْ شَوَّالٍ
Para ulama kami mengatakan, yang lebih utama adalah berpuasa enam hari secara berurutan setelah hari raya. Jika seseorang memisah-misah hari puasanya atau mengakhirkannya hingga akhir bulan Syawal, tetaplah ia mendapatkan keutamaan karena masih dihitung sebagai mengikuti Ramadhan dengan enam hari Syawal.”
Maka, Mari kita manfaatkan momentum bulan Syawal yang masih tersisa ini. Jangan biarkan Syawal berlalu hanya dengan kuliner dan silaturahmi, tapi hiasi juga dengan puasa sunnah sebagai bukti ketakwaan kita
Pernah ada yang bertanya kepada Bisyr, “Ada kaum yang rajin ibadah dan bersemangat sekali di bulan Ramadhan.” Bisyr menjawab,
بِئْسَ القَوْمُ لاَ يَعْرِفُوْنَ اللّٰهَ حَقًّا إِلاَّ فِيْ شَهْرِ رَمَضَانَ إِنَّ الصَّالِحَ الَّذِيْ يَتَعَبَّدُ وَ يَجْتَهِدُ السَّنَةَ كُلَّهَا
“Sejelek-jelek kaum adalah yang mengenal Allah di bulan Ramadhan saja. Ingat, orang yang saleh yang sejati adalah yang beribadah dengan sungguh-sungguh sepanjang tahun.”
Puasa Syawal bukan sekadar pelengkap, melainkan ia adalah penyempurna. Ia bagaikan satu bangunan yang indah; Ramadhan adalah fondasinya, sedangkan puasa enam hari Syawal adalah atap yang melindungi dan menyempurnakan bangunan itu. Ibarat seorang petani yang telah menanam dengan baik di musim semi (Ramadhan), maka puasa Syawal adalah pemeliharaan tanaman itu agar berbuah lebat dan sempurna.
Puasa Syawal mengajarkan kita tentang konsistensi. Setelah berjuang sebulan penuh, kita dilatih untuk tidak berhenti begitu saja. Ibadah itu bukan musiman, tetapi berkesinambungan. Inilah yang membedakan orang yang hanya mencari 'seremonial' dengan orang yang sungguh-sungguh mencari ridha Allah.
puasa Syawal menanamkan pesan mendalam bahwa Allah mencintai amal yang sedikit tapi terus-menerus. Rasulullah bersabda:
أَحَبُّ الْأَعْمَالِ إِلَى اللّٰهِ أَدْوَمُهَا وَإِنْ قَلَّ
“Amal yang paling dicintai Allah adalah yang terus-menerus walaupun sedikit.” (HR Bukhari dan Muslim)
Maka jangan remehkan puasa Syawal. Ia bukan puasa “tambahan”, melainkan penjaga semangat Ramadan agar tidak padam. Mari kita jadikan Syawal sebagai awal istiqamah, bukan akhir ibadah. Karena Rabb Ramadan adalah Rabb sepanjang tahun.Pahala berlimpah tidak akan diraih tanpa istiqamah. Dan istiqamah sering kali lebih berat daripada amal itu sendiri.
Puasa Syawal hadir sebagai latihan istiqamah. Di saat orang lain kembali makan dan minum dengan bebas, seorang hamba menahan diri bukan karena terpaksa, tetapi karena mengharap pahala Allah. Inilah bukti keikhlasan.Inilah tanda bahwa Ramadan tidak berhenti di kalender, tetapi hidup dalam perilaku.
اَللّٰهُمَّ تَقَبَّلْ صِيَامَنَا وَقِيَامَنَا، وَافْتَحْ لَنَا أَبْوَابَ فَضْلِكَ وَرَحْمَتِكَ.
"Hadirin yang semoga dirahmati Allah, dengan berhasilnya kita melalui tempaan diri di bulan Ramadhan, kita dapat menjadi pribadi yang lebih baik dalam beribadah kepada Allah, dan membawa kebaikan sosial yang lebih baik dalam kehidupan kita."
بَارَكَ اللّٰهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْأَنِ الْكَرِيْمِ وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْم، وَتَقَبَّلَ اللّٰهُ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلَاوَتَهُ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ، أَقُوْلُ قَوْلِيْ هٰذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللّٰهَ الْعَظِيْمَ لِي وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ
Khutbah II
أَلْحَمْدُ للهِ ذِى الْعَظَمَةِ وَالْجَلَال, أَلَّذِى قَدَّرَ الْأَعْمَارَ وَحَدَّدَ الآجَال, وَأَمَرَنَا بِالْعِبَادَةِ وَصَالِحِ الْأَعْمَال. أَشْهَدُ اَن لَّا إِلهَ إِلَّا الله وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَه, جَعَلَ الدُّنْيَا مَزْرَعَةً لِلْآخِرَة, وَمَكْسَبَ زَادٍ لِلْحَيَاةِ الْفَاخِرَة, لِلْخَلَاصِ مِنَ الْأَهْوَالِ الْقَاهِرَة. وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُه, أَلَّذِى حَذَّرَنَا مِنَ الدُّنْيَا دَارِ الدّوَاهِى, وِمَكَانِ الْمَعَاصِى وَالْمَلَاهِى. صَلَّى اللهُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ الْكِرَام, وَأَصْحَابِهِ هُدَاةِ الْأَنَامَ, وَسَلَّمَ عَلَيْهِمْ تَسْلِيمًا كَثِيرًا.
أَيُّهاَ النَّاس, إِتَّقوُا اللهَ حَقَّ تَقْوَاه, وَرَاقِبُوهُ مُرَاقَبَةَ مَنْ يَعْلَمُ أَنَّهُ يَرَاه.
قَالَ اللهُ تَعَالَى فِي مُحْكَمِ تَنْزِيلِه:
يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَابْتَغُوا إِلَيْهِ الْوَسِيلَةَ وَجَاهِدُوا فِي سَبِيلِهِ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ.
صَدَقَ اللهُ الْعَظَيم.
أَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّد, كَمَا صَلَّيْتَ وَسَلَّمْتَ وَبَارَكْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيم وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيم, فِي الْعَالَمِينَ إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيد.
أَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَات, وَالْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَات, أَلْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَات, إِنَّكَ سَمِيعٌ قَرِيبٌ مُجِيبُ الدَّعَوَات, يِا قَاضِيَ الْحَاجَات.
رَبَّنَا آتِنَا مِنْ لَّدُنْكَ رَحْمَةً وَ هَيِّئْ لَنَا مِنْ أَمْرِنَا رَشَدًا
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَة, وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَّ قِنَا عَذَابَ النَار.
عِبَادَ الله, إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَان, وَإِيتَاءِ ذِى الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَخْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَ الْبَغي,يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُون.
فَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيمَ يَذْكُرْكُمْ, وَاشْكُرُوهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُم, وَاسْئَلُوهُ مِنْ فَضْلِهِ يُعْطِكُمْ, وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَر. وَاللهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُون. أَقِمِ الصَّلَاة.Oleh : Dr KH A Bahrul Hikam M Ed , anggota Komisi Fatwa MUI Kota Tangerang
اَلسَّلامُ عَليْكُمْ وَرَحْمَةُاللّٰهِ وَبَرَكَاتُهُ
اَلْحَمْدُ ِللّٰهِ الْكَرِيْمِ الْمُتَعَالِ، اَلَّذِيْ فَرَضَ عَلَيْنَا صِيَامَ رَمَضَانَ لِتَزْكِيَةِ النُّفُوْسِ وَإِصْلَاحِ الْأَعْمَالِ، وَأَكْرَمَنَا بَعْدَهُ بِعِيْدِ الْفِطْرِ وَشَهْرِ شَوَّالِ، لِنَتَزَوَّدَ فِيْهِ بِالطَّاعَاتِ وَصَالِحِ الْأَفْعَالِ أَحْمَدُهُ سُبْحَانَهُ عَلَى نِعَمِهِ الَّتِيْ لَا تُحْصَى بِالْعَدِّ وَلَا بِالْمِثَالِ، وَأَشْكُرُهُ عَلَى تَوْفِيْقِهِ لِلْعِبَادَةِ وَإِصْلَاحِ الْأَحْوَالِ
أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، الْمُنَزَّهُ عَنِ الشَّبِيْهِ وَالنَّظِيْرِ وَالْمِثَالِ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا وَنَبِيَّنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، الدَّاعِيْ إِلَى أَقْوَمِ الْأَقْوَالِ حَثَّ أُمَّتَهُ عَلَى إِتْبَاعِ رَمَضَانَ بِسِتٍّ مِنْ شَوَّالٍ، لِيَحُوْزُوْا بِذَلِكَ أَجْرَ صِيَامِ الدَّهْرِ قَبْلَ دُنُوِّ الْآجَالِ
اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى هَذَا النَّبِيِّ الْكَرِيْمِ، سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ خَيْرِ مَنْ صَامَ وَقَامَ وَابْتَهَلَ، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الْمَآلِ، صَلَاةً وَسَلَامًا دَائِمَيْنِ مُتَلَازِمَيْنِ بِدَوَامِ الْغُدُوِّ وَالْآصَالِ
أَمَّا بَعْدُ، فَيَا مَعْشَرَ الْمُسْلِمِيْنَ، اِتَّقُوْا اللّٰهَ حَقَّ تُقَاتِهِ فِي الْحِلِّ وَالْتِرْحَالِ، وَلَا تَغُرَّنَّكُمُ الْحَيَاةُ الدُّنْيَا بِزُخْرُفِهَا وَالْآمَالِ. وَاعْلَمُوْا أَنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوَى، وَأَنَّ الْمَوْتَ يَأْتِيْ بَغْتَةً بِلَا إِمْهَالٍ قَالَ اللّٰهُ تَعَالٰى فِيْ كِتَابِهِ الْعَزِيْزِ: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ وَلْتَنظُرْ نَفْسٌ مَّا قَدَّمَتْ لِغَدٍ ۖ وَاتَّقُوا اللّٰهَ ۚ إِنَّ اللّٰهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ
Hadirin jamaah Jumat rahimakumullah...
Alhamdulillah, segala puji bagi Allah, atas berkat Rahmat-Nya, Inayah-Nya, karunia-Nya, Allah kumpulkan kita bersama pada hari yang mulia ini, di tempat rumah-Nya yang mulia ini untuk melaksanakan Ibadah Shalat Jumat, mudah-mudahan shalat Jumat kita dan apapun ibadah yang kita lakukan selama ini terutama pada Ramadhan kemarin diterima oleh Allah SWT dan mudah-mudahan semua ibadah-ibadah itu dapat meningkatkan ketakwaan kita kepada Allah SWT. Amiin
Hadhirin jamaah Jumat rahimakumullah...
Jika kita membuka lembaran sejarah, kita akan menemukan bagaimana para salaf sholih memandang Ramadhan, Pra Ramadhan dan Pasca Ramadhan. Imam Mu’alla bin al-Fadhl berkata,
كَانُوْا يَدْعُوْنَ اللّٰهَ تَعَالٰى سِتَةَ أَشْهُرٍ أَنْ يُبَلِّغَهُمْ رَمَضَانَ ثُمَّ يَدْعُوْنَهُ سِتَةَ أَشْهُرٍ أَنْ يَتَقَبَلَ مِنْهُمْ
“Dulunya (para salaf) berdoa kepada Allah Subhanahu wa ta’ala (selama) enam bulan agar Allah mempertemukan mereka dengan bulan Ramadhan, kemudian mereka berdoa kepada-Nya (selama) enam bulan (berikutnya) agar Allah menerima (amal-amal sholeh) yang mereka (kerjakan).”
Bayangkan bagaimana para salaf sholih sedemikian khawatir amal-amal yang sudah mereka lakukan di bulan Ramadhan tidak diterima oleh Allah SWT sehingga mereka sampai berdoa sampai enam bulan lamanya sesudah Ramadhan agar amal-amal ramadhan diterima oleh Allah SWT.
Pertanyaannya Pernahkah kita khawatir apakah amal kita benar-benar diterima oleh Allah? Nabi Ibrahim dan Ismail saja memohon dengan penuh harap agar amal mereka diterima, padahal mereka sedang melaksanakan perintah langsung dari Rabb mereka.
Ketika membangun fondasi Ka’bah atas perintah Allah, Nabi Ibrahim dan Ismail tak hanya bekerja keras secara fisik. Mereka juga tak lepas dari berdoa dan menggantungkan harapan pada Allah. Allah Ta‘ala mengabadikan doa mereka dalam firman-Nya:
وَإِذْ يَرْفَعُ إِبْرَٰهِيمُ ٱلْقَوَاعِدَ مِنَ ٱلْبَيْتِ وَإِسْمَٰعِيلُ رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّآ ۖ إِنَّكَ أَنتَ ٱلسَّمِيعُ ٱلْعَلِيمُ
“Dan (ingatlah), ketika Ibrahim meninggikan (membina) dasar-dasar Baitullah bersama Ismail (seraya berdoa): ‘Ya Tuhan kami, terimalah daripada kami (amalan kami). Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.’” (QS Al-Baqarah: 127)
Doa ini bukan sekadar pengharapan, melainkan juga cerminan rasa rendah hati di hadapan Allah. Beliau-beliau sadar, meski beliau melakukan ibadah agung atas perintah langsung dari Rabb nya, itu belum menjamin diterimanya amal.
Kali ini kita berada pada Syawal. Bulan kesepuluh dari bulan Hijriyah. Mudah-mudahan di bulan ini, kita meneruskan lagi ibadah kita di bulan Ramadhan.
Mudah-mudahan shalat lima waktu terus jalan. Mudah-mudahan shalat berjamaah ke masjid semakin dijaga. Mudah-mudahan kesibukan dunia tidak melalaikan kita dari shalat sunnah dan puasa sunnah.
Hadhirin Jamaah Jumat rahimakumullah...
Ketika Ramadhan berakhir sebenarnya pertanyaan terpenting bukanlah: “Apakah Ramadan sudah selesai?”melainkan: “Apakah Ramadan benar-benar meninggalkan bekas dalam diri kita?”
Para ulama menyebutkan kaidah penting:
مِنْ عَلَامَاتِ قَبُوْلِ الْعَمَلِ دَوَامُ الطَّاعَةِ بَعْدَهُ
"Di antara tanda diterimanya amal adalah berlanjutnya ketaatan setelahnya."
Salah satu bentuk kelanjutan ketaatan itu adalah puasa enam hari di bulan Syawal, sebagaimana sabda Nabi Muhammad SAW
مَنْ صَامَ رَمَضَانَ ثُمَّ أَتْبَعَهُ سِتًّا مِنْ شَوَّالٍ كَانَ كَصِيَامِ الدَّهْرِ
“Barang siapa yang berpuasa Ramadhan kemudian berpuasa enam hari di bulan Syawal, maka dia seperti berpuasa sepanjang tahun.” (HR Muslim, no 1164).
Para ulama mengatakan bahwa berpuasa seperti setahun penuh asalnya karena setiap kebaikan semisal dengan sepuluh kebaikan. Bulan Ramadhan (puasa sebulan penuh) sama dengan (berpuasa) selama sepuluh bulan (30 x 10 = 300 hari = 10 bulan) dan puasa enam hari di bulan Syawal sama dengan (berpuasa) selama dua bulan (6 x 10 = 60 hari = 2 bulan).
Tentu saja penjelasan ini bukan sekadar angka pahala saja. Ini isyarat pendidikan ruhani. Ramadan melatih kita sebulan penuh, lalu Syawal menguji: Apakah kita sanggup istiqamah, meski tanpa suasana Ramadhan?
Puasa Syawal mengajarkan bahwa ibadah bukan musiman, bukan hanya saat masjid ramai dan mushaf dibuka bersama, melainkan saat manusia kembali sibuk dengan dunia. Jika Ramadan adalah madrasah, maka Syawal adalah ujian kelulusan.
Barang siapa masih sanggup menahan lapar karena Allah, setelah Allah menghalalkan makan, maka itu tanda iman belum padam.Sebulan Ramadan belum tentu sempurna. Maka enam hari Syawal menjadi penyempurna kekurangan, sebagaimana shalat sunnah menutup cacat shalat wajib.
Dalam hadits yang lain yang diriwayatkan oleh Sayidina Abdullah bin Umar RA ada sedikit redaksi yang berbeda
مَنْ صَامَ رَمَضَانَ وَأتْبَعَهُ سِتًّا مِنْ شَوَّالٍ خَرَجَ مِنْ ذُنُوْبِهِ كَيَوْمِ وَلَدَتْهُ أُمُّهُُ
"Barangsiapa yang berpuasa Ramadhan dan mengikutinya dengan enam hari Syawal, maka dia keluar dari dosa-dosanya seperti hari dia dilahirkan oleh ibunya."
Hadhirin jamaah Jumat rahimakumullah...
Ada satu filosofi mendalam tentang Puasa Syawal yang dijelaskan oleh Ibnu Rajab Al-Hanbali. Beliau berkata,"Sesungguhnya balasan dari kebaikan adalah kebaikan setelahnya." Maka salah satu tanda diterimanya puasa Ramadhan seseorang adalah ketika ia dimudahkan untuk melakukan kebaikan setelahnya. Jika setelah Ramadhan seseorang kembali rajin berpuasa (Syawal), menjaga shalat berjamaah, dan tetap membaca Alquran, itu adalah indikator kuat bahwa Ramadhannya maqbul (diterima). Sebaliknya, jika setelah takbir Idul Fitri berkumandang, Alquran kembali berdebu dan puasa ditinggalkan sama sekali, kita patut khawatir: Jangan-jangan kita hanya menyembah Ramadhan, bukan menyembah Pemilik Ramadhan.
Puasa Syawal adalah "penjahit" sobekan-sobekan ibadah kita. Jika puasa wajib kita di bulan Ramadhan mungkin ada yang kurang sempurna—mungkin ada lisan yang tak terjaga atau hati yang lalai—maka puasa sunnah Syawal ini hadir sebagai penyempurna (penambal) kekurangan tersebut.
Maka mari sama-sama kita renungkan. Waktu berjalan begitu cepat. Syawal pun akan segera berlalu. Kesempatan untuk meraih pahala setahun penuh ini terbatas waktunya.
Bagi yang belum memulainya, masih ada waktu. Bagi yang sudah memulai namun belum tuntas, mari kita sempurnakan sisa harinya. Jangan biarkan kemalasan menghalangi kita dari limpahan karunia Allah. Mungkin sebagian orang akan berkata bukankan tanggal 2 Syawal sudah lewat apakah kita kita mengerjakannya pada hari-hari esok kita akan mendapatkan fadhilah yang sama.
Hadirin jamaah Jumat rahimakumullah...
Pelaksanaan Puasa Sunnah Syawal sangat fleksibel.Boleh dikerjakan secara berturut-turut mulai tanggal 2 Syawal. Boleh juga dikerjakan secara terpisah (acak) selama masih berada di bulan Syawal. Bagi yang masih memiliki utang puasa Ramadhan (qadha), para ulama menyarankan untuk mendahulukan qadha baru kemudian puasa Syawal, agar pahala "puasa setahun penuh" didapatkan secara sempurna. Namun, jika udzur mendesak, sebagian ulama memperbolehkan niat puasa qadha sambil pula diniati sunnah Syawal.