Khutbah Idul Fitri: Menambah Keberkahan dengan Silaturahim
Oleh: Admin
Editor: Admin
Oleh: KH Nur Rohmad, Ketua Komisi Dakwah dan Pengembangan Masyarakat MUI Kab Mojokerto
Khutbah I
اللهُ أَكْبَرُ 9x، وَلِلّٰهِ الْحَمْدُ، اللهُ أَكْبَرُ كَبِيْرًا، وَالْحَمْدُ لِلّٰهِ كَثِيرًا، وَسُبْحَانَ اللهِ وَبِحَمْدِهِ بُكْرَةً وَأَصِيْلًا، وَنَشْهَدُ أَنْ لَّا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ، وَلَا نَعْبُدُ إِلَّا إِيَّاهُ، وَنَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا وَنَبِيَّنَا مُحَمَّدًا رَّسُوْلُ اللهِ، وَرَحْمَتُهُ الْمُهْدَاةُ، صَلَّى اللهُ وَسَلَّمَ وَبَارَكَ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ وَّالَاهُ.
أَمَّا بَعْدُ، فَأُوصِيْكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيْمِ، القَائِلِ فِي كِتَابِهِ الكَرِيْمِ: (إِنَّ ٱلۡمُتَّقِينَ فِي جَنَّٰتٖ وَعُيُونٍ، ٱدۡخُلُوهَا بِسَلَٰمٍ ءَامِنِينَ)
Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah,
Mengawali khutbah pada pagi yang penuh keberkahan ini, khatib berwasiat kepada kita semua, terutama kepada diri khatib pribadi untuk senantiasa berusaha meningkatkan kualitas keimanan dan ketakwaan kita kepada Allah SWT. Tentunya dengan bersungguh-sungguh melaksanakan segala hal yang diperintahkan-Nya dan menjauhi segala hal yang dilarang-Nya.
Hadirin yang Berbahagia,
Kita bersyukur kepada Allah karena telah dianugerahi kekuatan untuk menuntaskan ibadah puasa dan berbagai ibadah lainnya selama bulan Ramadhan.
Setiap kali selesai menuntaskan suatu ibadah, seorang mukmin yang baik akan harap-harap cemas. Berharap ibadahnya diterima oleh Allah. Dan cemas, jangan-jangan ibadah yang telah dilakukan tidak diterima oleh-Nya.
Harapan itu akan memotivasinya untuk terus melakukan ibadah sehingga ia bisa menghimpun bekal sebanyak-banyaknya untuk kehidupan akhirat. Sedangkan kecemasan dan kekhawatiran itu akan mendorongnya untuk terus beribadah, karena ia tidak tahu ibadah mana yang diterima oleh Allah SWT, apakah ibadah yang telah dikerjakan ataukah ibadah yang akan dilakukan.
Saudara-Saudara yang Berbahagia,
Setelah hak-hak Allah kita tunaikan selama Ramadhan melalui ibadah-ibadah yang kita lakukan, tibalah kini waktu untuk memenuhi hak-hak sesama hamba. Hari Raya Idul Fitri adalah salah satu momen yang tepat untuk mempererat tali silaturahim dan memperkuat hubungan persaudaraan sesama muslim dan sesama anak bangsa.
Silaturahim bisa dilakukan dengan berbagai cara. Jika tidak memungkinkan untuk bertemu secara fisik, maka bisa diganti dengan pertemuan secara daring. Dalam makna yang sederhana, silaturahim juga dapat dilakukan dengan saling bertegur sapa dan menanyakan kabar melalui sambungan telepon.
Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah,
Dalam Shahih Ibn Hibbban terdapat riwayat hadis dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: Wahai Rasulullah, beritahulah aku tentang sesuatu yang jika aku kerjakan, maka aku akan masuk surga. Lalu Rasulullah SAW bersabda:
أَطْعِمِ الطَّعَامَ وَأَفْشِ السَّلَامَ وَصِلِ الأَرْحَامَ وقُمْ بِاللَّيْلِ وَالنَّاسُ نِيَامٌ تَدْخُلِ الْـجَنَّةَ بِسَلَامٍ
Artinya: “Berikanlah makanan, sebarkanlah salam, sambunglah tali silaturahim dan lakukan shalat malam ketika orang-orang tidur, maka engkau akan masuk surga dengan selamat.” (HR Ibnu Hibban)
Hadirin yang Berbahagia,
Janganlah kita memutus tali silaturahim. Dengan alasan apa pun, hal ini tidak bisa dibenarkan oleh agama. Jangan sampai keluarga dan kerabat kita, merasa kita tinggalkan dan kita abaikan.
Kita harus terus menjaga hubungan baik dengan mereka. Kita menjaga hubungan baik itu dengan cara membantu mereka di kala mereka butuh bantuan. Kita berkenan meminjami utang jika mereka membutuhkannya.
Kita mengunjungi dan mendatangi mereka di momen kebahagiaan, seperti pernikahan dan hari raya. Kita datangi mereka juga di momen kesedihan, seperti apabila ada anggota keluarga mereka yang sakit atau meninggal dunia.
Jangan tunggu mereka berbuat baik kepada kita lalu kita membalas kebaikan mereka. Jangan tunggu mereka mengunjungi kita lalu kita membalas kunjungan mereka. Jangan tunggu mereka menyapa duluan lewat sambungan telepon, baru kemudian kita membalas menyapa.
Kita dahului mereka dengan itu semua. Karena ini adalah kebaikan yang pahalanya besar. Jadilah orang yang pertama kali melakukannya. Kita berlomba-lomba dalam kebaikan.
Dan ketahuilah bahwa menyambung silaturahim adalah salah satu kewajiban agama. Sebaliknya, memutus silaturahim merupakan salah satu dosa besar.
Rasulullah SAW bersabda:
لَا يَدْخُلُ الْـجَنَّةَ قَاطِعٌ الرَّحم
Artinya: “Tidak akan masuk surga (bersama orang-orang yang lebih awal masuk surga) orang yang memutus silaturahim.” (HR Bukhari dan Muslim)
Hadirin yang Berbahagia,
Termasuk silaturahim adalah membantu kerabat kita ketika mereka dalam kondisi membutuhkan. Sebagaimana dalam sebuah riwayat hadis disebutkan, Rasulullah SAW bersabda:
مَا مِنْ مُؤْمِنٍ يُعَزِّي أَخَاهُ بِمُصِيبَةٍ إِلا كَسَاهُ اللهُ سُبْحَانَهُ مِنْ حُلَلِ الكَرَامَةِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ
Artinya: “Tidaklah seorang mukmin menghibur saudaranya karena musibah yang menimpanya, kecuali Allah akan mengenakan kepadanya pakaian-pakaian kemuliaan di Hari Kiamat.” (HR Ibnu Majah)
Janganlah kita menganggap silaturahim sebagai beban. Jangan pula berpikir bahwa silaturahim hanya akan menambah kesusahan yang sedang kita rasakan. Karena ketahuilah, hadirin sekalian, sungguh berkah dengan sebab silaturahim itu Allah akan mengangkat kesusahan dari kita dan melapangkan rezeki kita.
Nabi SAW bersabda:
مَنْ سَرَّهُ أنْ يَمُدَّ اللهُ في عُمُرِه ويُوَسِّعَ عَلَيْهِ رِزْقَهُ وَيَدْفَعَ عَنْهُ مِيْتَةَ السُّوْءِ فَلْيَصِلْ رَحِمَهُ
Artinya: “Barang siapa menginginkan dipanjangkan umurnya, diluaskan rezekinya dan diselamatkan dari kematian yang buruk oleh Allah, maka hendaklah ia sambung tali silaturahim dengan kerabatnya.” (HR Hakim)
Hadirin yang Berbahagia,
Kepada selain kerabat dan keluarga, kita juga melakukan hal yang sama. Kita jadikan hari raya sebagai momentum untuk mempererat hubungan kita dengan tetangga, teman, kolega, dan seluruh lapisan masyarakat.
Saling bermaaf-maafan harus menghiasi hari raya kita. Yang lalu biarlah berlalu. Kita maafkan kesalahan orang lain kepada kita. Kita adalah saudara-saudara sesama Islam. Kita adalah bersaudara sesama anak bangsa.
Di akhirat kelak, janganlah kita termasuk orang-orang yang membawa pahala shalat, puasa dan berbagai ibadah yang lain, sekaligus juga membawa dosa yang berkaitan dengan hubungan sesama manusia. Artinya, jangan sampai kita berbuat zalim kepada orang lain dan belum sempat meminta maaf atau belum meminta kerelaan darinya sampai ajal tiba.
Sungguh yang demikian itu menyebabkan kita menjadi bagian dari orang-orang yang bangkrut sebangkrut-bangkrutnya di akhirat kelak. Pahalanya diambil dan diberikan kepada orang-orang yang kita zalimi. Jika tidak cukup, maka dosa-dosa orang yang terzalimi akan diambil dan ditimpakan kepada kita, lalu dilemparkanlah kita ke dalam api neraka. Na’udzu billahi min dzalik.
Saudara-Saudaraku yang Dirahmati Allah,
Demikian khutbah yang singkat ini. Mudah-mudahan bermanfaat bagi kita semua. Semoga kita dipertemukan kembali dengan Ramadhan tahun depan dalam keadaan sehat walafiat. Amin.
أَقُوْلُ قَوْلِيْ هٰذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ
Khutbah II
اللهُ أَكْبَرُ 7x، وَلِلّٰهِ الْحَمْدُ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَّا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا وَنَبِيَّنَا مُحَمَّدًا عَبْدُ اللهِ وَرَسُوْلُهُ، فَاللهم صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا وَنَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ المَيَامِيْنَ، وَالتَّابِعِينَ لَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّينِ.
أَمَّا بَعْدُ، فَأُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللهِ عَزَّ وَجَلَّ وَاتَّقُوْا اللهَ تَعَالَى فِي هٰذَا الْيَوْمِ الْعَظِيْمِ، وَاشْكُرُوْهُ عَلَى تَمَامِ الصِّيَامِ وَالْقِيَامِ، وَأَتْبِعُوْا رَمَضَانَ بِصِيَامِ سِتٍّ مِنْ شَوَّالٍ، لِيَكُونَ لَكُمْ كَصِيَامِ الدَّهْرِ وَصَلِّ اللهم وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا وَنَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ، كَمَا أَمَرْتَنَا، فَقُلْتَ وَقَوْلُكَ الْحَقُّ: (إِنَّ ٱللَّهَ وَمَلَٰٓئِكَتَهُۥ يُصَلُّونَ عَلَى ٱلنَّبِيِّۚ يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ صَلُّواْ عَلَيۡهِ وَسَلِّمُواْ تَسۡلِيمًا)، اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا وَنَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ، وَارْضَ اللهم عَنِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِينَ، أَبِي بَكْرٍ وَعُمَرَ وَعُثْمَانَ وَعَلِيٍّ، وَعَنْ سَائِرِ الصَّحَابَةِ وَالصَّالحينَ.
اللهم اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعَوَاتِ، اللهم اجْعَلْ عِيْدَنَا هٰذَا سَعَادَةً وَتَلَاحُمًا، وَمَسَرَّةً وَتَرَاحُمًا، وَزِدْنَا فِيهِ طُمَأْنِيْنَةً وَأُلْفَةً، وَهَنَاءً وَمَحَبَّةً، وَأَعِدْهُ عَلَيْنَا بِالْخَيْرِ وَالرَّحَمَاتِ، وَالْيُمْنِ وَالْبَرَكَاتِ، اللَّهُمَّ اجْعَلِ الْمَوَدَّةَ شِيْمَتَنَا، وَبَذْلَ الْخَيْرِ لِلنَّاسِ دَأْبَنَا، اللهم أَدِمِ السَّعَادَةَ عَلَى وَطَنِنَا، وَانْشُرِ الْبَهْجَةَ فِي بُيُوْتِنَا، وَاحْفَظْنَا فِي أَهْلِيْنَا وَأَرْحَامِنَا، وَأَكْرِمْنَا بِكَرَمِكَ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ، رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً، وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً، وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ، وَأَدْخِلْنَا الْجَنَّةَ مَعَ الْأَبْرَارِ، يَا عَزِيزُ يَا غَفَّارُ.
عِبَادَ اللهِ، (إِنَّ ٱللَّهَ يَأۡمُرُ بِٱلۡعَدۡلِ وَٱلۡإِحۡسَٰنِ وَإِيتَآيِٕ ذِي ٱلۡقُرۡبَىٰ وَيَنۡهَىٰ عَنِ ٱلۡفَحۡشَآءِ وَٱلۡمُنكَرِ وَٱلۡبَغۡيِۚ يَعِظُكُمۡ لَعَلَّكُمۡ تَذَكَّرُونَ)، فَاذكُرُوْا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ، عِيْدٌ سَعِيْدٌ وَكُلُّ عَامٍ وَأَنْتُمْ بِخَيْرٍ.