Jakarta, MUI Digital - Ikan mengandung protein, vitamin, dan mineral yang dapat membantu menurunkan tekanan darah, menurunkan risiko penyakit jantung dan stroke.
Kandungan asam lemak omega 3 dalam ikan sangat baik untuk kesehatan jantung. Sebuah penelitian juga menunjukkan bahwa konsumsi ikan yang kaya akan omega 3 (seperti tuna, sarden, salmon, trout, dan makerel) dapat mengurangi kadar lemak dalam darah, sehingga menurunkan risiko penyakit jantung.
Oleh karena itu, The American Heart Association merekomendasikan konsumsi ikan setidaknya 2 kali per minggu sebagai bagian dari diet sehat. Sedangkan, Kementerian Kesehatan RI sendiri merekomendasikan untuk makan ikan sebanyak 2-3 kali per pekan.
Masih banyak manfaat lain yang terkandung di dalam ikan. Beberapa penelitian membuktikan bahwa makan ikan dapat membantu mengurangi risiko depresi. Hal ini mungkin karena kandungan asam lemak omega 3 dalam ikan.
Penelitian juga membuktikan bahwa konsumsi ikan dapat lebih meningkatkan efektivitas obat antidepresan, dibandingkan jika hanya mengonsumsi obat antidepresan saja.
Asam lemak omega 3 dalam ikan juga dapat membantu mengatasi gangguan mental lainnya, seperti gangguan bipolar. Omega 3 merupakan salah satu nutrisi yang dibutuhkan untuk fungsi otak yang sehat.
Selain beberapa manfaat yang telah disebutkan di atas, ikan juga mempunyai manfaat lain, seperti melindungi mata dari penurunan fungsi karena penuaan, mencegah penyakit asma pada anak. Anak yang mengonsumsi ikan lebih kecil berisiko terkena asma, dan dapat menurunkan risiko diabetes.
Bagaimana dengan Ikan Kalengan?
Daging ikan yang rentan dengan kesegarannya, menjadi bahan pangan yang kerap diawetkan. Selain praktis, olahan ikan kalengan juga lezat sebagai menu sajian untuk keluarga. Soal kandungan nutrisi da¬lam ikan kalengan tak perlu terlalu khawatir, karena nilai gizi dari ikan kaleng juga tetap tinggi.
Ikan kalengan merupakan ikan dan produk ikan yang telah melalui pemrosesan, dikemas dalam kaleng kedap udara. Untuk mematikan bakteri di dalamnya serta mematangkannya, ikan kalengan biasanya melalui proses pemanasan dalam suhu tertentu. Pengalengan merupakan salah satu jenis metode pengawetan makanan dan mampu memperpanjang usia simpan makanan hingga lima tahun.
Pengalengan ikan memang harus menjadi perhatian serius, karena ikan merupakan salah satu jenis makanan yang memiliki tingkat keasaman yang rendah (pH cenderung tinggi, lebih dari 4.6) sehingga bakteri dapat tumbuh dengan mudah. Dibutuhkan sterilisasi dengan temperatur yang tinggi, umumnya hingga 130 derajat celcius.
Sumber panas dan cara memanaskannya bervariasi, mulai dari penggunaan panci tekan hingga paparan ke uap panas sembari pemindahan dengan konveyor. Sterilisasi dapat dilakukan sebelum maupun setelah kaleng ditutup. Membusuknya daging ikan dikarenakan keberadaan bakteri yang mencerna ikan serta mengeluarkan aroma dan rasa yang tidak sedap bagi daging ikan.
Cermati Kehalalannya
Pada dasarnya mengkonsumsi ikan adalah halal, termasuk bangkainya. Ketentuan itu tercantum dalam Alquran surat Al Maidah ayat 96:
“Dihalalkan bagimu binatang buruan laut dan makanan (yang berasal) dari laut sebagai makanan yang lezat bagimu, dan bagi orang-orang yang sedang dalam perjalanan; dan diharamkan atasmu (menangkap) binatang buruan darat, selama kamu dalam ihram. Dan bertakwalah kepada Allah Yang kepada-Nya-lah kamu akan dikumpulkan.”
Juga sabda Rasulullah SAW tentang halalnya dua bangkai dan dua darah: "Telah dihalalkan bagi kami dua bangkai dan dua darah. Dua bangkai itu adalah ikan dan belalang. Dua darah itu adalah hati dan limpa (HR Ahmad dan Al-Baihaqi).
Namun, seiring dengan perkembangan teknologi, ikan juga sering disajikan dalam berbagai bentuk mulai dari goreng, bakar, hingga diawetkan dalam kaleng agar bisa bertahan lebih lama. Berbagai cara olahan inilah yang membuat status ikan bisa bergeser menjadi subhat, bahkan haram dikonsumsi.
Sebagai contoh, dalam menggoreng ikan, apabila digunakan minyak goreng yang mengandung babi, maka ikan menjadi haram dikonsumsi.
Begitu juga dengan dibakar menggunakan bumbu yang dicampur arak, maka bergeser pula statusnya. Begitu juga apabila ikan diawetkan menjadi ikan kaleng, perlu diperhatikan bahan-bahan lainnya yang berpotensi mengubah status ikan menjadi haram.
Pengalengan merupakan teknik pengolahan dengan cara memanaskan ikan dalam wadah kaleng yang ditutup rapat untuk menonaktifkan enzim, membunuh mikoorganisme, dan mengubah ikan dalam bentuk mentah menjadi produk yang siap disajikan tetapi memiliki kandungan nilai gizi yang sedikit menurut karena proses denaturasi protein akibat proses pemanasan bila dibandingkan dengan ikan segar, namun lebih tinggi bila dibandingkan sumber protein nabati seperti tahu dan tempe.
Metode pengawetan dengan cara pengalengan ditemukan oleh Nicholas Apert, seorang ilmuwan Prancis. Pengalengan makanan merupakan suatu cara pengawetan bahan-bahan makanna yang dikemas secara hermetis dan kemudian disterilkan.
Pengemasan secara hermatis dapat diartikan bahwa penutupannya sangat rapat, sehingga tidak dapat ditembus oleh udara, air, kerusakan akibat oksidasi, ataupun perubahan cita rasa. Di dalam pengalengan makanan, bahan pangan dikemas secara hermenits dalam suatu wadah, baik kaleng, gelas atau alumunium
Direktur Utama LPPOM, Muti Arintawati, menyatakan ikan kalengan berpotensi subhat karena dalam proses pengawetan dan pengolahannya melibatkan bahan tambahan.
Di dalam ikan kalengan, tambah Muti, biasanya terdapat bahan lain seperti saus tomat, saus cabai, garam, seasoning hingga bumbu penyedap MSG.
Dalam saus tomat, misalnya, bahan yang perlu dikritisi adalah penambahan bahan pewarna Canthaxanthin.
Bahan pewarna ini merupakan pewarna alami. Jenisnya termasuk kelompok pigmen karotenoid. Pertama kali, pigmen jenis ini diisolasi dari jamur, walaupun juga sebenarnya ditemukan pada alga hijau, crustacean (udang, kepiting, dll), dan ikan tertentu.
Bahan baku tersebut pada dasarnya tidak menjadi masalah dari segi kehalalan. Namun, mengingat pewarna alami tersebut cenderung tidak stabil, maka dibutuhkan salut atau coating dengan bahan tertentu. Penyalut yang paling riskan adalah gelatin.
Karena 40 persen gelatin dunia diproduksi dari kulit babi. Selain itu juga berasal dari kulit atau tulang sapi. Nah, apabila gelatin bersal dari sapi, maka harus dipastikan penyembelihannya dilakukan secara syar’i.
Begitu juga dengan saus cabai dan bumbu penyedap. Bahan-bahan yang perlu dikiritisi adalah pengunaan bumbu penyedap (flavor enhancer) MSG atau vetsin. MSG adalah produk fermentasi. Menurut standar MUI, untuk produk fermentasi, yang perlu diperhatikan adalah medianya.
Media fermentasi harus bersih dari segala sesuatu yang haram dan najis. Salah satu yang mungkin digunakan adalah pepton yang dapat berasal dari sumber nabati maupun hewani dan melibatkan enzim dalam proses pembuatannya. Sumber bahan maupun enzim yang digunakan yang harus dipastikan kehalalannya.
Tips Memilih Ikan Kalengan
Konsumen harus memperhatikan beberapa hal saat akan membelinya. Berikut adalah tips memilih ikan kalengan.
1. Jika bisa pilihlah sarden organik
Jika memang ada pilihan berupa sarden organik, pilihlah sarden ini. Sarden ini biasanya memiliki bahan-bahan seperti minyak zaitun atau mustard. Pakar kesehatan juga menyarankan kita untuk menghindari sarden yang diberi tambahan pewarna atau perasa buatan.
Biasanya, bahan-bahan ini diberi nama seperti maltodextrin, polysorbate 80, modified cornstarch, acetic acid, atau xanthan gum. Karena alasan inilah kita harus benar-benar mengecek label komposisi bahan di kemasan ikan kalengan tersebut.
2. Sarden yang baik biasanya dikemas dalam minyak, bukannya air
Pakar kesehatan menyebut sarden berkualitas biasanya dikemas di dalam minyak zaitun. Ikan sarden ini biasanya sudah memiliki cita rasa yang baik sehingga tidak memerlukan tambahan bumbu atau saus. Bahan lain yang bisa dipilih adalah minyak ikan. Selain itu, kita sebaiknya tidak memilih ikan yang dikemas di dalam air.
3. Cek tanggal pembuatan
Ikan sarden yang berkualitas dan gemuk biasanya yang ditangkap di akhir musim panas atau di sekitar musim gugur. Hal ini berarti, jika sarden ini diolah di bulan-bulan seperti September, Oktober, atau November, biasanya sarden ini adalah yang paling berkualitas.
4. Cek logo halal
Pertimbangan lain yang paling penting adalah, cek logo halalnya. Pemilihan kehalanan produk ikan kalengan menjadi sangat penting, karena di pasaran banyak beredar produk ikan kalengan impor yang belum jelas kehalalannya. (FM, Sumber: Jurnal Halal LPPOM/Foto: Ilustrasi Ikan Kalengan)