Makna Pergantian Tahun Menurut Islam, Justru Pengingat Ajal?
Admin
Penulis
Foto: Nashih/ MUI Digital
Jakarta, MUI Digital —Pergantian tahun Masehi kerap disambut dengan berbagai bentuk perayaan dan euforia di tengah masyarakat. Mulai dari pesta kembang api, konser musik, hingga keramaian di ruang publik menjadi pemandangan yang lazim setiap akhir tahun.
Namun dalam pandangan Islam, pergantian tahun Masehi tidak memiliki kedudukan sakral sebagaimana hari besar keagamaan.
Anggota Komisi Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI), KH Zia Ul Haramein, menegaskan bahwa pergantian tahun Masehi bukanlah peristiwa yang memiliki nilai ibadah khusus. Oleh karena itu, umat Islam tidak dituntut untuk merayakannya secara ritualistik.
“Pergantian tahun Masehi itu bukan sesuatu yang sakral dan bukan pula sesuatu yang berdiri sendiri untuk ditunggu-tunggu,” ujar Gus Zia, begitu akrab disapa, saat dihubungi tim MUI Digital Rabu, (30/12/2025).
Meski demikian, Gus Zia menjelaskan bahwa momentum pergantian tahun tetap dapat dimaknai secara positif apabila ditempatkan dalam perspektif keimanan.
Menurut Gus Zia, perubahan waktu merupakan isyarat bahwa manusia semakin dekat dengan akhir kehidupan dan pertanggungjawaban di hadapan Allah SWT.
“Pergantian tahun adalah pertanda bahwa kita semakin dekat dengan akhirat, semakin dekat dengan kematian. Jarak antara kita dengan akhir usia semakin menipis,” jelasnya.
Dalam Islam, waktu memiliki kedudukan yang sangat penting, sebagaimana disebutkan dalam Surah Al-‘Asr.
وَٱلْعَصْرِ إِنَّ ٱلْإِنسَٰنَ لَفِى خُسْرٍ إِلَّا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ وَعَمِلُوا۟ ٱلصَّٰلِحَٰتِ وَتَوَاصَوْا۟ بِٱلْحَقِّ وَتَوَاصَوْا۟ بِٱلصَّبْرِ
“Demi masa, sungguh, manusia dalam keadaan rugi, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan serta saling menasehati untuk kebenaran dan saling menasehati untuk kesabaran.” (QS al-Ashr 1-3).
Hal ini menunjukkan bahwa waktu bukan sekadar pergantian angka dalam kalender, melainkan amanah yang kelak akan dimintai pertanggungjawaban.
Oleh karena itu, Gus Zia menekankan bahwa pergantian tahun seharusnya dibaca sebagai isyarat evaluatif, bukan sekadar perayaan seremonial yang berulang setiap tahun.
“Semestinya pergantian tahun ini kita maknai sebagai momentum muhasabah, bukan hanya rutinitas tahunan tanpa makna,” ujarnya.
Muhasabah atau introspeksi diri menjadi adab utama yang dianjurkan dalam Islam ketika menghadapi pergantian waktu.
Seorang Muslim diajak untuk menilai kembali perjalanan hidupnya selama satu tahun terakhir, baik dari sisi ibadah, amal sosial, maupun kesalahan yang telah dilakukan.
“Kita melihat kekurangan diri kita, apa yang sudah dicapai, apa yang masih banyak kealpaan dan kekhilafan, bagaimana taubat kita, serta bagaimana kualitas amal saleh kita,” katanya.
Gus Zia mengingatkan sabda Rasulullah SAW yang menyebutkan bahwa orang cerdas adalah mereka yang memperhatikan kehidupan setelah kematian, bukan hanya kesenangan dunia sesaat.
عَنْ أبي يَعْلَى شَدَّادِ بْن أَوْسٍ عن النَّبيّ ﷺ قَالَ: الكَيِّس مَنْ دَانَ نَفْسَهُ, وَعَمِلَ لِما بَعْدَ الْموْتِ, وَالْعَاجِزُ مَنْ أَتْبَعَ نَفْسَه هَواهَا, وتمَنَّى عَلَى اللَّهِ
Dari Syaddad bin Aus dari Nabi SAW bersabda, ”Orang yang cerdas adalah orang yang menyiapkan dirinya dan beramal untuk hari setelah kematian. Sedangkan orang yang bodoh adalah orang yang jiwanya selalu mengikuti hawa nafsunya dan hanya berangan-angan kepada Allah.” (HR at-Tirmidzi).
Dengan demikian, pergantian tahun sejatinya menjadi momentum untuk memperbaiki orientasi hidup, memperkuat keimanan, dan menyusun kembali rencana amal saleh ke depan.
“Kalau pergantian tahun ini hanya diisi dengan hura-hura tanpa refleksi, maka nilai waktunya justru terbuang sia-sia,” kata dia. (Latifahtul Jannah, ed: Nashih)