Kajian Hadis
Landasan Hadis tentang Keutamaan Malam Nishfu Sya’ban
Admin
Tim Redaksi
×
Admin
Penulis
Foto: Instagram/@maziribookstore
Jakarta, MUI Digital — Telaah hadis-hadis terkait Nishfu Sya’ban yang akan diurai dalam tulisan ini menunjukkan adanya keseimbangan antara kabar gembira (targhīb) dan peringatan (tarhīb), sehingga seorang mukmin tidak hanya terdorong untuk berharap akan rahmat Allah, tetapi juga terdorong untuk melakukan muhasabah dan memperbaiki diri.
Pada dasarnya, keutamaan malam Nishfu Sya’ban ditegaskan secara langsung oleh Nabi Muhammad SAW. Dalam sebuah hadis, Rasulullah SAW bersabda bahwa ketika tiba malam Nishfu Sya’ban, Allah SWT memperhatikan seluruh makhluk-Nya. Pada malam itu, Allah mengampuni hamba-hamba-Nya yang beriman, menangguhkan orang-orang kafir, serta membiarkan orang-orang yang masih menyimpan kebencian hingga mereka meninggalkan sifat kebencian tersebut:
Artinya: “Apabila tiba malam Nishfu Sya’ban, Allah memperhatikan makhluk-Nya, lalu mengampuni orang-orang yang beriman, memberi penangguhan kepada orang-orang kafir, dan membiarkan orang-orang yang penuh kebencian dengan kebenciannya sampai mereka meninggalkannya.” (HR Ahmad)
Hadis di atas menunjukkan bahwa pada dasarnya pintu ampunan Allah terbuka sangat luas pada malam Nishfu Sya’ban. Kendati demikian, terdapat sejumlah penghalang yang bersifat moral maupun spiritual yang dapat menyebabkan seseorang terhalang dari curahan rahmat dan ampunan tersebut.
Imam at-Thabrani meriwayatkan dari sahabat Mu’adz bin Jabal radhiyallahu ’anhu bahwa pada malam Nishfu Sya’ban Allah SWT mengampuni seluruh makhluk-Nya, kecuali dua golongan, yaitu orang yang berbuat syirik dan orang yang saling bermusuhan (musyāḥin):
Artinya: “Rasulullah SAW bersabda: Allah memperhatikan kepada semua makhluk-Nya pada malam Nisfu Sya’ban. Maka Dia memberi ampunan kepada semua makhluk-Nya, terkecuali bagi musyrik dan orang yang saling bermusuhan.” (HR at-Thabrani)
Penegasan yang senada juga diriwayatkan oleh Al-Hafidz al-Mundziri dalam karyanya At-Targhīb wa at-Tarhīb, melalui hadis yang bersumber dari Sayyidah ‘Aisyah radhiyallahu ’anha.
Dalam riwayat itu, Nabi Muhammad SAW menjelaskan bahwa Allah SWT mengampuni hamba-hamba yang memohon ampunan dan melimpahkan rahmat kepada mereka yang memohon rahmat-Nya. Adapun orang-orang yang menyimpan rasa dendam dan permusuhan, maka ampunan dan rahmat bagi mereka ditangguhkan, sebagaimana mereka sendiri menangguhkan pemberian maaf kepada sesamanya:
Artinya: “Sesungguhnya Allah Yang Mahamulia dan Mahaagung mengawasi hamba-hamba-Nya pada malam Nishfu Sya’ban, sehingga Dia mengampuni setiap orang yang meminta ampunan dan mengasihi siapa saja yang menyambung silaturahim, serta menangguhkan ampunan bagi para pendendam seperti halnya mereka yang menangguhkan maaf terhadap sesamanya.” (HR al-Baihaqi)
Jadi karena keagungan malam Nishfu Sya’ban itu, diturunkanlah rahmat dan ampunan Allah SWT. Tapi pada saat yang sama, anugerah itu tidak akan sampai pada orang-orang tertentu yang disebutkan dalam hadis di atas. (A Zaeini Misbaahuddin Asyuari, ed. Hakim)
Jakarta, MUI Digital — Telaah hadis-hadis terkait Nishfu Sya’ban yang akan diurai dalam tulisan ini menunjukkan adanya keseimbangan antara kabar gembira (targhīb) dan peringatan (tarhīb), sehingga seorang mukmin tidak hanya terdorong untuk berharap akan rahmat Allah, tetapi juga terdorong untuk melakukan muhasabah dan memperbaiki diri.
Pada dasarnya, keutamaan malam Nishfu Sya’ban ditegaskan secara langsung oleh Nabi Muhammad SAW. Dalam sebuah hadis, Rasulullah SAW bersabda bahwa ketika tiba malam Nishfu Sya’ban, Allah SWT memperhatikan seluruh makhluk-Nya. Pada malam itu, Allah mengampuni hamba-hamba-Nya yang beriman, menangguhkan orang-orang kafir, serta membiarkan orang-orang yang masih menyimpan kebencian hingga mereka meninggalkan sifat kebencian tersebut:
إِذَا كَانَتْ لَيْلَةُ النِّصْفِ مِنْ شَعْبَانَ، اطَّلَعَ اللَّهُ عَلَى خَلْقِهِ، فَيَغْفِرُ لِلْمُؤْمِنِينَ، وَيُمْهِلُ الْكَافِرِينَ، وَيَدَعُ أَهْلَ الْحِقْدِ بِحِقْدِهِمْ حَتَّى يَدَعُوهُ
Artinya: “Apabila tiba malam Nishfu Sya’ban, Allah memperhatikan makhluk-Nya, lalu mengampuni orang-orang yang beriman, memberi penangguhan kepada orang-orang kafir, dan membiarkan orang-orang yang penuh kebencian dengan kebenciannya sampai mereka meninggalkannya.” (HR Ahmad)
Hadis di atas menunjukkan bahwa pada dasarnya pintu ampunan Allah terbuka sangat luas pada malam Nishfu Sya’ban. Kendati demikian, terdapat sejumlah penghalang yang bersifat moral maupun spiritual yang dapat menyebabkan seseorang terhalang dari curahan rahmat dan ampunan tersebut.
Imam at-Thabrani meriwayatkan dari sahabat Mu’adz bin Jabal radhiyallahu ’anhu bahwa pada malam Nishfu Sya’ban Allah SWT mengampuni seluruh makhluk-Nya, kecuali dua golongan, yaitu orang yang berbuat syirik dan orang yang saling bermusuhan (musyāḥin):
يَطَّلِعُ اللَّهُ عَلَى خَلْقِهِ فِي لَيْلَةِ النِّصْفِ مِنْ شَعْبَانَ، فَيَغْفِرُ لِجَمِيعِ خَلْقِهِ، إِلَّا لِمُشْرِكٍ أَوْ مُشَاحِنٍ
Artinya: “Rasulullah SAW bersabda: Allah memperhatikan kepada semua makhluk-Nya pada malam Nisfu Sya’ban. Maka Dia memberi ampunan kepada semua makhluk-Nya, terkecuali bagi musyrik dan orang yang saling bermusuhan.” (HR at-Thabrani)
Penegasan yang senada juga diriwayatkan oleh Al-Hafidz al-Mundziri dalam karyanya At-Targhīb wa at-Tarhīb, melalui hadis yang bersumber dari Sayyidah ‘Aisyah radhiyallahu ’anha.
Dalam riwayat itu, Nabi Muhammad SAW menjelaskan bahwa Allah SWT mengampuni hamba-hamba yang memohon ampunan dan melimpahkan rahmat kepada mereka yang memohon rahmat-Nya. Adapun orang-orang yang menyimpan rasa dendam dan permusuhan, maka ampunan dan rahmat bagi mereka ditangguhkan, sebagaimana mereka sendiri menangguhkan pemberian maaf kepada sesamanya:
إِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ يَطَّلِعُ عَلَى عِبَادِهِ فِي لَيْلَةِ النِّصْفِ مِنْ شَعْبَانَ، فَيَغْفِرُ لِلْمُسْتَغْفِرِينَ، وَيَرْحَمُ الْمُسْتَرْحِمِينَ، وَيُؤَخِّرُ أَهْلَ الْحِقْدِ كَمَا هُمْ
Artinya: “Sesungguhnya Allah Yang Mahamulia dan Mahaagung mengawasi hamba-hamba-Nya pada malam Nishfu Sya’ban, sehingga Dia mengampuni setiap orang yang meminta ampunan dan mengasihi siapa saja yang menyambung silaturahim, serta menangguhkan ampunan bagi para pendendam seperti halnya mereka yang menangguhkan maaf terhadap sesamanya.” (HR al-Baihaqi)
Jadi karena keagungan malam Nishfu Sya’ban itu, diturunkanlah rahmat dan ampunan Allah SWT. Tapi pada saat yang sama, anugerah itu tidak akan sampai pada orang-orang tertentu yang disebutkan dalam hadis di atas. (A Zaeini Misbaahuddin Asyuari, ed. Hakim)