Ketika Nama “Muhammad” Telah Dikenal dan Dipakai oleh Bangsa Arab Sebelum Fajar Kenabian
Abd. Hakim Abidin
Penulis
Admin
Editor
Jakarta, MUI Digital — Jauh sebelum Muhammad SAW lahir, nama itu telah bergema di telinga bangsa Arab. Dikabarkan oleh kitab suci terdahulu dan disampaikan oleh para peramal. Di balik nama ini ada kisah penantian panjang sebuah peradaban.
Para ahli sejarah
mencatat bahwa orang-orang Arab pada masa pra-Islam telah mendengar sebuah
kabar besar tentang akan datangnya seorang nabi dari kalangan mereka sendiri,
dan nama nabi itu adalah Muhammad.
Kabar ini bersumber dari dua jalur yang berbeda namun sama-sama dipercaya saat itu, yaitu para Ahli Kitab—para cendekiawan Yahudi dan Nasrani yang menyimpan pengetahuan dari kitab-kitab mereka, serta para kahin (peramal/dukun) yang dianggap memiliki pengetahuan tentang hal-hal gaib.
Baca juga: Salman Al-Farisi, Bangsa Persia, dan Karakter Keteguhan Imannya
Dalam kitab At-Thabaqat
al-Kubro, Ibnu Sa’ad memaparkan sejumlah riwayat yang menjelaskan hal tersebut
secara spesifik dalam bab “Dzikru man tasamma
fil-jahiliyyati bi-Muhammad raja’a an tudrikahun-nubuwwatu lilladzi kana min
khabariha”. (Lihat At-Thabaqat
al-Kubro [Beirut: Dar al-Kutub al-’Ilmiyah], juz 1, h. 134)
Nama yang Menjadi
Harapan
Respons bangsa Arab
terhadap kabar ini mengungkap psikologi manusia yang universal. Ketika itu, siapa
pun yang mendengar ramalan tentang seorang nabi bernama Muhammad, bergegas
menamai anaknya dengan nama yang sama, berharap anak merekalah yang akan
menjadi nabi itu.
Fenomena ini bisa
dinilai bukan sebagai takhayul, lebih tepatnya diartikan sebagai ekspresi
kerinduan mendalam sebuah kaum terhadap petunjuk Ilahi.
Kitab At-Thabaqat
al-Kubro karya Ibn Sa’d merekam beberapa nama yang lahir dari
penantian ini. Salah satu yang paling menarik kisahnya adalah Muhammad
bin Khuza’i Hizabah, dari kabilah Bani Dzakwan, cabang Bani Sulaim.
Ia dinamai Muhammad oleh orang tuanya semata-mata karena harapan akan kenabian. Hidupnya bahkan membawanya ke Yaman, di mana ia bergabung dengan Abrahah, seorang penguasa Yaman yang terkenal dalam sejarah Arab. Muhammad bin Khuza’i Hizabah hidup di bawah naungan agama sang raja itu hingga ajal menjemputnya.
Baca juga: Salman Al-Farisi, Bangsa Persia, dan Karakter Keteguhan Imannya
Menariknya, tatkala
Muhammad bin Khuza’i wafat, saudaranya, Qais bin Khuza’i,
mengabadikan kenangan itu dalam bait-bait syair yang penuh kebanggaan:
فَذَلِكُمْ ذُو التَّاجِ مِنَّا مُحَمَّدٌ
وَرَايَتُهُ فِي حَوْمَةِ الْوَغَى تَخْفِقُ
“Itulah dia, sang
pemilik mahkota di antara kami; Muhammad,
Panji-panjinya berkibar di tengah kecamuk peperangan."
Syair ini menunjukkan
ratapan seorang saudara, sekaligus menunjukkan adanya cerminan betapa nama
Muhammad telah menjadi simbol keagungan, bahkan sebelum kenabian itu
benar-benar dinyatakan.
Ternyata tidak hanya
di kalangan Bani Sulaim. Ibn Sa’d mencatat beberapa individu lain yang “menanggung”
nama Muhammad atas dasar harapan serupa. Berikut di antaranya: Muhammad bin
Sufyan bin Mujasyi’ dari Bani Tamim yang berprofesi sebagai Uskup (pendeta
Nasrani), Muhammad al-Jusya’i dari Bani Sawa’ah, Muhammad al-Asadi dari Bani
Asad, dan Muhammad al-Fuqaimi dari Bani Fuqaim.
Mungkin yang paling
mengejutkan di sini adalah Muhammad bin Sufyan bin Mujasyi’. Ayahnya adalah
seorang uskup, seorang pendeta Nasrani yang mendapat kabar dari tradisi
keagamaannya sendiri tentang nabi bangsa Arab bernama Muhammad.
Alih-alih merahasiakannya, ia malah menamai putranya dengan nama itu. Ini menunjukkan, saat itu telah diyakini, bahwa ramalan tentang kedatangan nabi akhir zaman telah menembus sekat agama dan suku.
Baca juga: Ketika Seorang Filsuf Muslim Tersentuh Pendidikan Akhlak Ayahnya
Fenomena penamaan ini sepertinya
bukan sekadar anekdot sejarah yang menarik. Hal ini menyingkap sesuatu yang
jauh lebih menarik, yakni tentang kesadaran kolektif bangsa Arab bahwa zaman
mereka adalah zaman penantian. Mereka tidak hidup dalam kevakuman spiritual.
Mereka tahu dan yakin bahwa sesuatu yang besar sedang menjelang.
Dan memang, sesuatu
yang besar itu pun tiba. Nabi yang sesungguhnya lahir dari rahim Sayyidah Aminah,
tumbuh di padang pasir Hijaz, dan pada usia empat puluh tahun menerima wahyu
pertama di Gua Hira’.
Sosoknya bukan hanya membawa nama yang telah dinanti-nantikan, lebih dari itu, ia membawa risalah yang mengubah wajah dunia. Tidak lain adalah Muhammad bin Abdillah, nabi akhir zaman, penutup para rasul, sang penunjuk jalan kebenaran dan keselamatan di dunia dan di akhirat.