Ingin Meraih Lailatul Qadar di Tahun 2026? Begini Petunjuk Para Ulama
A Zaeini Misbaahuddin Asyuari
Penulis
Hakim
Editor
Jakarta, MUI Digital — Di antara keistimewaan bulan Ramadhan terdapat satu malam yang sangat agung dan selalu dinantikan oleh umat Islam, yaitu Lailatul Qadar. Malam ini menjadi salah satu bentuk rahmat dan kasih sayang Allah SWT kepada umat Nabi Muhammad SAW.
Pada malam tersebut, pahala ibadah yang dilakukan seorang hamba memiliki nilai yang luar biasa, bahkan melampaui ibadah yang dilakukan dalam waktu yang sangat panjang yakni seribu bulan.
Keutamaan malam ini ditegaskan langsung
dalam Alquran:
لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِّنْ
اَلْفِ شَهْرٍ
Artinya: “Lailatul Qadar itu lebih baik
daripada seribu bulan.” (QS. Al-Qadr: 5)
Ayat di atas menunjukkan betapa besar
kemuliaan Lailatul Qadar. Kendati memiliki kedudukan yang sangat istimewa, kepastian
waktu terjadinya Lailatul Qadar tidak dapat diketahui secara langsung oleh
manusia. Sebab hal ini merupakan bagian dari rahasia Allah SWT.
Namun demikian, Rasulullah SAW memberikan
petunjuk agar umat Islam mencarinya pada sepuluh malam terakhir (‘asyrul
awakhir) bulan Ramadhan. Dalam sebuah riwayat hadis disebutkan, bahwa Rasulullah
SAW bersabda:
تَحَرَّوْا لَيْلَةَ الْقَدْرِ فِي
الْعَشْرِ الْأَوَاخِرِ مِنْ رَمَضَانَ
Artinya: “Carilah lailatul Qadar itu dalam malam sepuluh hari terakhir dari bulan Ramadhan.” (HR Bukhari dan Muslim)
Baca juga: Apa Saja Tanda-Tanda Malam Lailatul Qadar? Ini Penjelasan MUI tentang Petunjuknya
Imam az-Zarqani (wafat 1122 H) dalam
kitabnya menjelaskan bahwa kata taharrau dalam hadis tersebut tidak
sekadar bermakna mencari, tetapi menunjukkan upaya pencarian yang
sungguh-sungguh dan penuh keseriusan. Dengan kata lain, Lailatul Qadar bukan
hanya ditemukan secara kebetulan, tetapi perlu diraih melalui kesungguhan dalam
beribadah:
قَوْلُهُ: تَحَرَّوْا اطْلُبُوا،
وَمِثْلُهُ فِي رِوَايَةِ عَبْدَةَ وَوَكِيعٍ، وَفِي رِوَايَةِ ابْنِ نُمَيْرٍ
وَالْقَطَّانِ: الْتَمِسُوا، وَهُمَا بِمَعْنَى الطَّلَبِ لَكِنْ مَعْنَى
التَّحَرِّي أَبْلَغُ لِأَنَّهُ يَقْتَضِي الطَّلَبَ بِالْجِدِّ وَالِاجْتِهَادِ
“Perkataan: Taharrau berarti carilah.
Makna yang sama terdapat dalam riwayat ‘Abdah dan Waki’. Sedangkan dalam
riwayat Ibn Numair dan al-Qaththan disebutkan iltamisu, yang juga bermakna
carilah. Keduanya memiliki arti mencari, tetapi kata taharriy (taharrau) lebih
kuat maknanya karena menunjukkan pencarian dengan kesungguhan dan keseriusan.” (Syarh az-Zarqani ala Muwattha’ [Kairo: Maktabah
ats-Tsaqafah], vol. 2, h. 320)
Sebagian ulama ada yang mencoba memberikan
perkiraan waktu Lailatul Qadar dengan memperhatikan hari pertama bulan
Ramadhan. Pendapat demikian dinukil dari sejumlah ulama, termasuk dari Hujjatul
Islam, Imam al-Ghazali.
Disebutkan bahwa jika awal Ramadhan jatuh
pada hari tertentu, maka Lailatul Qadar diperkirakan berada pada malam ganjil
tertentu di sepuluh hari terakhir. Perinciannya sebagaimana dijelaskan oleh
Syekh Ahmad Salamah al-Qalyubi (wafat 1069 H) dalam catatannya:
قَوْلُهُ: (إِلَى لَيْلَةٍ) أَيْ مِنَ
الْعَشْرِ الْمَذْكُورِ مُطْلَقًا، أَوْ مِنْ مُفْرَدَاتِهِ كَمَا اخْتَارَهُ
الْغَزَالِيُّ وَغَيْرُهُ، وَقَالُوا: إِنَّهَا تُعْلَمُ فِيهِ بِالْيَوْمِ
الْأَوَّلِ مِنَ الشَّهْرِ؛ فَإِنْ كَانَ أَوَّلُهُ يَوْمَ الْأَحَدِ أَوِ
الْأَرْبِعَاءِ فَهِيَ لَيْلَةُ تِسْعٍ وَعِشْرِينَ، أَوْ يَوْمُ الِاثْنَيْنِ
فَهِيَ لَيْلَةُ إِحْدَى وَعِشْرِينَ، أَوْ يَوْمُ الثُّلَاثَاءِ أَوِ الْجُمُعَةِ
فَهِيَ لَيْلَةُ سَبْعٍ وَعِشْرِينَ، أَوْ يَوْمُ الْخَمِيسِ فَهِيَ لَيْلَةُ
خَمْسٍ وَعِشْرِينَ، أَوْ يَوْمُ السَّبْتِ فَهِيَ لَيْلَةُ ثَلَاثٍ وَعِشْرِينَ
“Perkataan: Hingga suatu malam, yakni
dari sepuluh malam yang telah disebutkan secara umum atau dari malam-malam
ganjilnya, sebagaimana dipilih oleh Imam al-Ghazali dan ulama lainnya. Mereka
mengatakan bahwa malam Lailatul Qadar dapat diketahui berdasarkan hari pertama
bulan Ramadhan. Jika awalnya jatuh pada hari Ahad atau Rabu, maka Lailatul
Qadar terjadi pada malam ke-29. Jika pada hari Senin, maka malam ke-21. Jika
pada hari Selasa atau Jumat, maka malam ke-27. Jika pada hari Kamis, maka malam
ke-25. Dan jika pada hari Sabtu, maka malam ke-23.”
(Hasyiyah al-Qalyubi wa ‘Umairah [Beirut: Dar Al-Fikr], vol. 2, h. 96)
Sebagaimana diketahui, berdasarkan penetapan resmi pemerintah melalui Kementerian Agama, awal Ramadhan 1447 H jatuh pada Kamis, 19 Februari 2026. Maka, jika mengikuti metode perkiraan para ulama di atas di mana Ramadhan dimulai pada hari Kamis maka Lailatul Qadar diperkirakan terjadi pada malam ke-25 Ramadhan. Dengan demikian, pada tahun 2026 Lailatul Qadar diperkirakan jatuh pada Sabtu malam Ahad, 14 Maret 2026.
Baca juga: Tiga Tingkatan Ibadah untuk Menghidupkan Lailatul Qadar
Walaupun terdapat prediksi akan terjadinya
Lailatul Qadar, para ulama menegaskan bahwa hal itu sebagai bentuk ijtihad,
bukan kepastian mutlak. Lantaran, waktu pasti Lailatul Qadar tetap menjadi
rahasia Allah SWT.
Karena itu, tidak semestinya seseorang hanya beribadah pada satu malam tertentu saja. Cara terbaik untuk meraih keutamaan malam tersebut adalah dengan memperbanyak ibadah sepanjang sepuluh malam terakhir Ramadhan, khususnya pada malam-malam ganjil seperti malam ke-21, 23, 25, 27, dan 29.
Dengan memperbanyak shalat sunnah, membaca Alquran, berdzikir, dan berdoa pada malam-malam tersebut, seorang muslim memiliki peluang yang lebih besar untuk meraih keberkahan Lailatul Qadar yang nilainya lebih baik daripada ibadah selama seribu bulan. Wallāhu a‘lam bis ṣhawāb.