Kajian Hadis
Hadis Golongan yang Terhalang dari Ampunan pada Nishfu Sya'ban, Begini Penjelasannya
Admin
Tim Redaksi
×
Admin
Penulis
Foto: ibnaljawzi.com
Jakarta, MUI Digital — Syekh Mulla al-Qari (wafat 1014 H) dalam kitabnya, Mirqah al-Mafatih Syarh Misykat al-Masabih menjelaskan, bahwa pada malam Nishfu Sya’ban Allah SWT mengampuni hamba-hamba-Nya dalam perkara yang berkenaan dengan hak-hak Allah (ḥuqūq al-illāh), kecuali kekufuran. Sedangkan dosa-dosa yang berkaitan dengan hak sesama manusia (ḥuqūq al-‘ibād), seperti permusuhan, kezaliman, dan pelanggaran sosial, maka pengampunannya ditangguhkan hingga pelakunya benar-benar bertaubat atau menyelesaikan hak-hak tersebut terlebih dahulu.
Sikap permusuhan dan kebencian inilah yang dinilai sangat berbahaya, sebab dapat berkembang menjadi konflik yang lebih besar, berujung pada pertumpahan darah, bahkan menyeret seseorang kepada jurang kekufuran:
وَالْحَاصِلُ أَنَّهُ تَعَالَى يُسَامِحُ عِبَادَهُ فِي تِلْكَ اللَّيْلَةِ عَنْ حُقُوقِهِ إِلَّا الْكُفْرَ بِهِ، وَمَا يَتَعَلَّقُ بِهِ حُقُوقُ عَبِيدِهِ، فَإِنَّهُ يُؤَخِّرُهُمْ إِلَى أَنْ يَتُوبَ عَلَيْهِمْ أَوْ يُعَذِّبَهُمْ، قَالَ الطِّيبِيُّ: الشَّحْنَاءُ الْعَدَاوَةُ وَالْبَغْضَاءُ، وَلَعَلَّ الْمُرَادَ الَّتِي تَقَعُ بَيْنَ الْمُسْلِمِينَ مِنْ قِبَلِ النَّفْسِ الْأَمَّارَةِ بِالسُّوءِ إِلَّا لِلدِّينِ، وَلَا يَأْمَنُ أَحَدُهُمْ أَذَى صَاحِبِهِ مِنْ يَدِهِ وَلِسَانِهِ ; لِأَنَّ ذَلِكَ يُؤَدِّي إِلَى الْقَتْلِ، وَرُبَّمَا يَنْتَهِي إِلَى الْكُفْرِ إِذْ كَثِيرًا مَا يُحْمَلُ عَلَى اسْتِبَاحَةِ دَمِ الْعَدُوِّ وَمَالِهِ، وَمِنْ ثَمَّ قُرِنَ الْمُشَاحِنُ فِي الرِّوَايَةِ الْأُخْرَى بِقَاتِلِ النَّفْسِ، وَكِلَاهُمَا تَهْدِيدٌ عَلَى سَبِيلِ التَّغْلِيظِ
Artinya: “Kesimpulannya, pada malam itu Allah Ta’ala memberikan ampunan kepada hamba-hamba-Nya atas hak-hak-Nya, kecuali kekufuran kepada-Nya dan perkara-perkara yang berkaitan dengan hak sesama hamba. Adapun hak-hak sesama hamba, maka Allah menangguhkan urusan mereka hingga mereka bertaubat atau mengazab mereka. Imam ath-Thībī berkata: Asy-syaḥnā’ di sini berarti permusuhan dan kebencian. Barangkali maksudnya ialah permusuhan yang terjadi di antara kaum Muslimin akibat dorongan hawa nafsu yang selalu memerintahkan kepada keburukan, bukan karena faktor agama. Dalam kondisi demikian, seseorang tidak merasa aman dari gangguan saudaranya, baik dengan tangan maupun lisannya, sebab hal itu dapat berujung pada pembunuhan, dan bahkan terkadang berakhir pada kekufuran, sebab sering kali seseorang terdorong untuk menghalalkan darah dan harta musuhnya. Sehingga, orang yang bermusuhan dalam riwayat lain disandingkan dengan pembunuh jiwa, dan keduanya merupakan bentuk ancaman yang disampaikan dengan penekanan keras (taghlīẓ).” (Mirqah al-Mafatih Syarh Misykat al-Masabih [Beirut: Dar al-Fikr], vol 3, h 975)
Pandangan ini dikuatkan oleh Imam as-Shan’ani (wafat 1182 H), beliau menegaskan bahwa dosa yang tidak diampuni pada malam Nishfu Sya’ban adalah syirik dan permusuhan yang berakar pada kedengkian serta kebencian.
Sebagian ulama bahkan memasukkan pelaku bid’ah yang gemar memecah belah umat ke dalam kategori ini, apabila diiringi dengan sikap permusuhan dan kedengkian:
قَوْلُهُ: إِنَّ اللَّهَ تَعَالَى لَيَطَّلِعُ فِي لَيْلَةِ النِّصْفِ مِنْ شَعْبَانَ، وَهِيَ اللَّيْلَةُ الَّتِي يُفْرَقُ فِيهَا كُلُّ أَمْرٍ حَكِيمٍ، فَيَغْفِرُ لِجَمِيعِ خَلْقِهِ إِلَّا الشِّرْكَ؛ فَإِنَّ اللَّهَ لَا يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ، أَوْ مُشَاحِنٍ. هُوَ مَنْ شَحَنَ عَلَيْهِ كَفَرِحٍ، أَيْ: حِقْدٌ، وَفَسَّرَهُ آخَرُونَ بِأَهْلِ الْبِدَعِ الْمُفَارِقِينَ لِلْجَمَاعَةِ، وَلَيْسَ بِمَعْنَاهُ اللُّغَوِيِّ، إِلَّا أَنْ يَكُونُوا مُشَاحِنِينَ حَاقِدِينَ
Artinya: “Sesungguhnya Allah Ta’ala menampakkan (perhatian-Nya) pada malam pertengahan bulan Sya’ban), yaitu malam di mana dipisahkan dan ditetapkan setiap urusan yang penuh hikmah, (lalu Dia mengampuni seluruh makhluk-Nya kecuali perbuatan syirik), karena sesungguhnya Allah tidak mengampuni dosa syirik kepada-Nya, (atau orang yang bermusuhan). Yang dimaksud orang yang bermusuhan ialah orang yang menyimpan kebencian dan kedengkian, sebagaimana makna syahnā’ yaitu dendam dan iri hati. Sebagian ulama menafsirkannya sebagai pelaku bid’ah yang memisahkan diri dari jamaah, bukan semata-mata berdasarkan makna bahasa, kecuali apabila mereka juga benar-benar menyimpan permusuhan dan kebencian.” (At-Tanwir Syarh al-Jami’ as-Shagir [Riyadh: Maktabah Dar as-Salam], vol 3, h 344)
Malam Nishfu Sya’ban merupakan malam yang sarat dengan rahmat dan ampunan Allah SWT. Meski begitu, keluasan rahmat Ilahi tersebut tidak semestinya menjadikan seorang mukmin lalai dan merasa aman tanpa upaya perbaikan diri.
Justru, malam yang mulia ini hendaknya dijadikan sebagai momentum muhasabah, membersihkan hati dari segala bentuk kesyirikan, dendam, permusuhan, serta dosa-dosa yang berkaitan dengan hak sesama manusia. Melalui taubat yang tulus dan hati yang bersih, seorang hamba berharap dapat termasuk ke dalam golongan yang diselimuti ampunan dan rahmat Allah SWT pada malam Nishfu Sya’ban yang penuh keberkahan. Wallāhu a‘lam bis ṣhawāb. (A Zaeini Misbaahuddin Asyuari, ed. Hakim)
Jakarta, MUI Digital — Syekh Mulla al-Qari (wafat 1014 H) dalam kitabnya, Mirqah al-Mafatih Syarh Misykat al-Masabih menjelaskan, bahwa pada malam Nishfu Sya’ban Allah SWT mengampuni hamba-hamba-Nya dalam perkara yang berkenaan dengan hak-hak Allah (ḥuqūq al-illāh), kecuali kekufuran. Sedangkan dosa-dosa yang berkaitan dengan hak sesama manusia (ḥuqūq al-‘ibād), seperti permusuhan, kezaliman, dan pelanggaran sosial, maka pengampunannya ditangguhkan hingga pelakunya benar-benar bertaubat atau menyelesaikan hak-hak tersebut terlebih dahulu.
Sikap permusuhan dan kebencian inilah yang dinilai sangat berbahaya, sebab dapat berkembang menjadi konflik yang lebih besar, berujung pada pertumpahan darah, bahkan menyeret seseorang kepada jurang kekufuran:
وَالْحَاصِلُ أَنَّهُ تَعَالَى يُسَامِحُ عِبَادَهُ فِي تِلْكَ اللَّيْلَةِ عَنْ حُقُوقِهِ إِلَّا الْكُفْرَ بِهِ، وَمَا يَتَعَلَّقُ بِهِ حُقُوقُ عَبِيدِهِ، فَإِنَّهُ يُؤَخِّرُهُمْ إِلَى أَنْ يَتُوبَ عَلَيْهِمْ أَوْ يُعَذِّبَهُمْ، قَالَ الطِّيبِيُّ: الشَّحْنَاءُ الْعَدَاوَةُ وَالْبَغْضَاءُ، وَلَعَلَّ الْمُرَادَ الَّتِي تَقَعُ بَيْنَ الْمُسْلِمِينَ مِنْ قِبَلِ النَّفْسِ الْأَمَّارَةِ بِالسُّوءِ إِلَّا لِلدِّينِ، وَلَا يَأْمَنُ أَحَدُهُمْ أَذَى صَاحِبِهِ مِنْ يَدِهِ وَلِسَانِهِ ; لِأَنَّ ذَلِكَ يُؤَدِّي إِلَى الْقَتْلِ، وَرُبَّمَا يَنْتَهِي إِلَى الْكُفْرِ إِذْ كَثِيرًا مَا يُحْمَلُ عَلَى اسْتِبَاحَةِ دَمِ الْعَدُوِّ وَمَالِهِ، وَمِنْ ثَمَّ قُرِنَ الْمُشَاحِنُ فِي الرِّوَايَةِ الْأُخْرَى بِقَاتِلِ النَّفْسِ، وَكِلَاهُمَا تَهْدِيدٌ عَلَى سَبِيلِ التَّغْلِيظِ
Artinya: “Kesimpulannya, pada malam itu Allah Ta’ala memberikan ampunan kepada hamba-hamba-Nya atas hak-hak-Nya, kecuali kekufuran kepada-Nya dan perkara-perkara yang berkaitan dengan hak sesama hamba. Adapun hak-hak sesama hamba, maka Allah menangguhkan urusan mereka hingga mereka bertaubat atau mengazab mereka. Imam ath-Thībī berkata: Asy-syaḥnā’ di sini berarti permusuhan dan kebencian. Barangkali maksudnya ialah permusuhan yang terjadi di antara kaum Muslimin akibat dorongan hawa nafsu yang selalu memerintahkan kepada keburukan, bukan karena faktor agama. Dalam kondisi demikian, seseorang tidak merasa aman dari gangguan saudaranya, baik dengan tangan maupun lisannya, sebab hal itu dapat berujung pada pembunuhan, dan bahkan terkadang berakhir pada kekufuran, sebab sering kali seseorang terdorong untuk menghalalkan darah dan harta musuhnya. Sehingga, orang yang bermusuhan dalam riwayat lain disandingkan dengan pembunuh jiwa, dan keduanya merupakan bentuk ancaman yang disampaikan dengan penekanan keras (taghlīẓ).” (Mirqah al-Mafatih Syarh Misykat al-Masabih [Beirut: Dar al-Fikr], vol 3, h 975)
Pandangan ini dikuatkan oleh Imam as-Shan’ani (wafat 1182 H), beliau menegaskan bahwa dosa yang tidak diampuni pada malam Nishfu Sya’ban adalah syirik dan permusuhan yang berakar pada kedengkian serta kebencian.
Sebagian ulama bahkan memasukkan pelaku bid’ah yang gemar memecah belah umat ke dalam kategori ini, apabila diiringi dengan sikap permusuhan dan kedengkian:
قَوْلُهُ: إِنَّ اللَّهَ تَعَالَى لَيَطَّلِعُ فِي لَيْلَةِ النِّصْفِ مِنْ شَعْبَانَ، وَهِيَ اللَّيْلَةُ الَّتِي يُفْرَقُ فِيهَا كُلُّ أَمْرٍ حَكِيمٍ، فَيَغْفِرُ لِجَمِيعِ خَلْقِهِ إِلَّا الشِّرْكَ؛ فَإِنَّ اللَّهَ لَا يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ، أَوْ مُشَاحِنٍ. هُوَ مَنْ شَحَنَ عَلَيْهِ كَفَرِحٍ، أَيْ: حِقْدٌ، وَفَسَّرَهُ آخَرُونَ بِأَهْلِ الْبِدَعِ الْمُفَارِقِينَ لِلْجَمَاعَةِ، وَلَيْسَ بِمَعْنَاهُ اللُّغَوِيِّ، إِلَّا أَنْ يَكُونُوا مُشَاحِنِينَ حَاقِدِينَ
Artinya: “Sesungguhnya Allah Ta’ala menampakkan (perhatian-Nya) pada malam pertengahan bulan Sya’ban), yaitu malam di mana dipisahkan dan ditetapkan setiap urusan yang penuh hikmah, (lalu Dia mengampuni seluruh makhluk-Nya kecuali perbuatan syirik), karena sesungguhnya Allah tidak mengampuni dosa syirik kepada-Nya, (atau orang yang bermusuhan). Yang dimaksud orang yang bermusuhan ialah orang yang menyimpan kebencian dan kedengkian, sebagaimana makna syahnā’ yaitu dendam dan iri hati. Sebagian ulama menafsirkannya sebagai pelaku bid’ah yang memisahkan diri dari jamaah, bukan semata-mata berdasarkan makna bahasa, kecuali apabila mereka juga benar-benar menyimpan permusuhan dan kebencian.” (At-Tanwir Syarh al-Jami’ as-Shagir [Riyadh: Maktabah Dar as-Salam], vol 3, h 344)
Malam Nishfu Sya’ban merupakan malam yang sarat dengan rahmat dan ampunan Allah SWT. Meski begitu, keluasan rahmat Ilahi tersebut tidak semestinya menjadikan seorang mukmin lalai dan merasa aman tanpa upaya perbaikan diri.
Justru, malam yang mulia ini hendaknya dijadikan sebagai momentum muhasabah, membersihkan hati dari segala bentuk kesyirikan, dendam, permusuhan, serta dosa-dosa yang berkaitan dengan hak sesama manusia. Melalui taubat yang tulus dan hati yang bersih, seorang hamba berharap dapat termasuk ke dalam golongan yang diselimuti ampunan dan rahmat Allah SWT pada malam Nishfu Sya’ban yang penuh keberkahan. Wallāhu a‘lam bis ṣhawāb. (A Zaeini Misbaahuddin Asyuari, ed. Hakim)