Golongan yang Terhalang dari Ampunan dan Rahmat Allah di Malam Nishfu Sya’ban
Admin
Penulis
Jakarta, MUI Digital — Dalam sebuah riwayat yang bersumber dari Sayyidah ‘Aisyah radhiyallahu ’anha, Nabi Muhammad SAW mengabarkan bahwa Malaikat Jibril AS datang membawa berita, yaitu bahwa di malam Nishfu Sya’ban Allah SWT membebaskan banyak hamba-Nya dari api neraka.
Namun demikian, terdapat beberapa golongan yang tidak memperoleh pandangan rahmat dan ampunan Allah pada malam yang mulia tersebut. Siapakah merekah? Tidak lain mereka adalah pelaku syirik, orang yang saling bermusuhan, pemutus tali silaturahim, pendurhaka kepada kedua orang tua, pecandu khamr, serta pelaku dosa-dosa besar lainnya sebagaimana disebutkan dalam redaksi hadis Nabi SAW berikut ini:
فَقَالَ: هَذِهِ لَيْلَةُ النِّصْفِ مِنْ شَعْبَانَ، وَلِلَّهِ فِيهَا عُتَقَاءُ مِنَ النَّارِ بِعَدَدِ شُعُورِ غَنَمِ كَلْبٍ، لَا يَنْظُرُ اللَّهُ فِيهَا إِلَى مُشْرِكٍ، وَلَا إِلَى مُشَاحِنٍ، وَلَا إِلَى قَاطِعِ رَحِمٍ، وَلَا إِلَى مُسْبِلٍ، وَلَا إِلَى عَاقٍّ لِوَالِدَيْهِ، وَلَا إِلَى مُدْمِنِ خَمْرٍ
Artinya: “Malaikat Jibril AS mengabarkan kepadaku bahwa: malam ini merupakan malam Nishfu Sya’ban. Pada malam ini Allah menganugerahkan hamba-hamba yang dibebaskan dari neraka sebanyak bulu kambing Bani Kalb. Namun Allah tidak memandang pada malam itu kepada orang musyrik, orang yang bermusuhan, orang yang memutus tali silaturahmi, orang yang menjulurkan pakaiannya, orang yang durhaka kepada kedua orang tuanya, dan orang yang terus-menerus meminum arak.” (HR al-Baihaqi)
Sementara itu, dalam hadis yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad bin Hanbal dari sahabat Abdullah bin ‘Amr bin Al-‘Ash radhiyallahu ’anhu, ditegaskan bahwa terdapat dua golongan yang secara jelas terhalang dari ampunan Allah pada malam Nishfu Sya’ban, yakni orang-orang yang saling bermusuhan dan pelaku pembunuhan jiwa:
يَطَّلِعُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ إِلَى خَلْقِهِ لَيْلَةَ النِّصْفِ مِنْ شَعْبَانَ، فَيَغْفِرُ لِعِبَادِهِ إِلَّا اثْنَيْنِ: مُشَاحِنٍ، وَقَاتِلِ نَفْسٍ
Artinya: “Allah ‘Azza wa Jalla menampakkan (perhatian-Nya) kepada seluruh makhluk-Nya pada malam Nishfu Sya’ban, lalu Dia mengampuni hamba-hamba-Nya, kecuali dua golongan: orang yang saling bermusuhan dan pembunuh jiwa.” (HR Ahmad)
Gambaran yang lebih komprehensif dihimpun oleh Syekh Abdul Hamid Quds al-Makki (wafat 1335 H) berdasarkan metode al-jam’u (komparatif) berbagai riwayat hadis. Beliau menyimpulkan bahwa golongan yang terhalang dari ampunan dan rahmat Allah SWT pada malam Nishfu Sya’ban meliputi: orang yang berbuat syirik, orang yang bermusuhan dan menyimpan kebencian, pemungut cukai secara zalim, pembunuh jiwa, pemutus tali silaturahim, orang yang memanjangkan pakaian (isbal) lantaran sombong, pezina, peminum khamr, pengadu domba, pembuat ‘gambar’ makhluk bernyawa, pendurhaka kepada kedua orang tua, pelaku bid’ah, serta mereka yang di dalam hatinya terdapat kebencian terhadap para sahabat Nabi SAW.
Kendati demikian, menurutnya pintu harapan masih terbuka lebar. Setiap hamba yang bersungguh-sungguh dalam bertaubat, menyesali dosa-dosanya dengan sepenuh hati, dan bertekad untuk memperbaiki diri, niscaya akan kembali mendapatkan jalan lurus serta meraih limpahan rahmat Allah SWT.
وَقَدِ اجْتَمَعَ مِنَ الرِّوَايَاتِ أَنَّ الْمَحْجُوبِينَ عَنِ الْمَغْفِرَةِ وَالرَّحْمَةِ: مُشْرِكٌ، وَمُشَاحِنٌ، وَعَشَّارٌ، وَقَاتِلُ نَفْسٍ، وَقَاطِعُ رَحِمٍ، وَمُسْبِلُ الْإِزَارِ، وَزَانٍ، وَشَارِبٌ، وَقَتَّاتٌ، وَمُصَوِّرٌ، وَعَاقٌّ، وَمُضْرِبٌ فِي التِّجَارَاتِ، وَمُبْتَدِعٌ، وَرَافِضِيٌّ فِي قَلْبِهِ شَحْنَاءُ لِلصَّحَابَةِ رَضِيَ اللَّهُ تَعَالَى عَنْهُمْ؛ فَمَنْ تَخَلَّقَ بِشَيْءٍ مِنْ هٰذِهِ الذُّنُوبِ… فَاتَهُ الْفَوْزُ بِالْغُفْرَانِ فِي لَيْلَةِ النِّصْفِ مِنْ شَعْبَانَ، إِلَّا أَنْ يَتَنَصَّلَ مِنْ ذَنْبِهِ، وَيَتُوبَ إِلَى رَبِّهِ، وَيُخْلِصَ تَوْبَتَهُ، وَيَغْسِلَ بِمَاءِ النَّدَمِ حُوبَتَهُ؛ فَحِينَئِذٍ يَسْلُكُ اللَّهُ بِهِ أَقْوَمَ طَرِيقٍ، وَيُدْخِلُهُ فِي زُمْرَةِ أُولَئِكَ الرَّفِيقِ: وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَالرَّسُولَ الْآيَةَ
Semoga kita terhindar dari sifat-sifat yang terhalang dari rahmat dan ampunan Allah di malam Nishfu Sya’ban tersebut. Amin. (A Zaeini Misbaahuddin Asyuari, ed. Hakim)