4 Amalan Sarat Keutamaan yang Dianjurkan Selama Sya'ban
Admin
Penulis
Foto: freepik
Jakarta, MUI Digital — Sya’ban termasuk bulan yang memiliki keutamaan khusus dalam penanggalan Islam. Letaknya yang berada di antara dua bulan mulia, Rajab dan Ramadhan, membuatnya kerap terlewatkan oleh sebagian umat Islam.
Padahal, di dalamnya terdapat berbagai keistimewaan dan peristiwa penting. Karena itu, para ulama memberikan perhatian besar terhadap amalan-amalan yang dianjurkan untuk diperbanyak pada bulan ini sebagai persiapan rohani dalam menyambut Ramadhan.
Terkait keutamaan bulan Sya’ban, Syekh Abdul Hamid bin Muhammad Ali Quds Al-Makki (wafat 1335 H) dalam salah satu karyanya menyebutkan bahwa Sya’ban termasuk bulan yang dimuliakan, sarat dengan keberkahan, dan dipenuhi berbagai kebaikan.
Tobat yang dilakukan pada bulan ini merupakan keuntungan besar bagi seorang hamba, sementara ketaatan yang dikerjakan di dalamnya ibarat perniagaan paling menguntungkan di sisi Allah SWT.
Barang siapa membiasakan dirinya untuk bersungguh-sungguh dalam beribadah selama bulan Sya’ban, maka ia akan meraih kesuksesan pada Ramadhan, karena kebiasaan baik tersebut telah terbentuk sebelumnya:
اِعْلَمْ: أَنَّ شَعْبَانَ الْمُكَرَّمَ مِنَ الْأَشْهُرِ الْمُعَظَّمَةِ، وَهُوَ شَهْرٌ بَرَكَاتُهُ مَشْهُورَةٌ، وَخَيْرَاتُهُ مَوْفُورَةٌ، وَالتَّوْبَةُ فِيهِ مِنْ أَعْظَمِ الْغَنَائِمِ الصَّالِحَةِ، وَالطَّاعَةُ فِيهِ مِنْ أَكْبَرِ الْمَتَاجِرِ الرَّابِحَةِ .جَعَلَهُ اللَّهُ تَعَالَى مِضْمَارَ الزَّمَانِ، وَضَمِنَ فِيهِ لِلتَّائِبِينَ الْأَمَانَ .مَنْ عَوَّدَ نَفْسَهُ فِيهِ بِالِاجْتِهَادِ، فَازَ فِي رَمَضَانَ بِحُسْنِ الِاعْتِيَادِ
Artinya: “Ketahuilah bahwa Sya’ban yang mulia termasuk bulan-bulan yang diagungkan. Ia merupakan bulan yang keberkahannya masyhur, kebaikannya melimpah, dan bertobat di dalamnya merupakan salah satu keuntungan saleh yang paling besar, sementara ketaatan di dalamnya termasuk perdagangan yang paling menguntungkan.
Allah Ta’ala menjadikannya arena perlombaan waktu, dan menjamin keamanan bagi orang-orang yang bertobat di dalamnya. Barang siapa membiasakan dirinya untuk bersungguh-sungguh (dalam ibadah) pada bulan ini, niscaya ia akan meraih keberhasilan di bulan Ramadan dengan kebiasaan baik yang telah terbentuk.” (Kanzun Najah Wa As-Surur [Beirut: Dar Al-Hawi], h 149)
Selain itu, Sya’ban juga dikenal sebagai bulan yang penuh dengan limpahan rahmat Allah SWT. Banyak kaum Muslimin yang berupaya meningkatkan kualitas ibadah dan amal saleh sebagai persiapan dalam menyambut datangnya bulan suci Ramadan.
Para ulama pun memberikan tuntunan mengenai amalan-amalan utama yang dianjurkan untuk diperbanyak selama bulan Sya’ban. Di antara amalan tersebut adalah sebagai berikut:
1. Melaksanakan puasa sunnah
Salah satu amalan yang sangat dianjurkan pada Sya’ban adalah memperbanyak puasa sunnah. Anjuran ini bersandar pada kebiasaan Rasulullah SAW yang secara khusus meningkatkan puasa pada bulan tersebut. Dalam sebuah hadis disebutkan bahwa bulan yang paling beliau cintai untuk berpuasa adalah bulan Sya’ban:
كَانَ أَحَبَّ الشُّهُورِ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ يَصُومَهُ شَعْبَانُ، ثُمَّ يَصِلَهُ بِرَمَضَانَ
Artinya: “Bulan yang paling dicintai Rasulullah SAW untuk beliau berpuasa di dalamnya adalah bulan Sya’ban, kemudian beliau menyambungkannya dengan puasa Ramadhan.” (HR Abu Dawud)
Syekh Abdurrauf Al-Munawi (wafat 1031 H) menerangkan bahwa berdasarkan hadis tersebut dapat dipahami puasa sunnah yang paling utama setelah puasa Ramadhan adalah puasa yang dilaksanakan pada bulan Sya’ban:
قَوْلُهُ: (كَانَ أَحَبَّ الشُّهُورِ إِلَيْهِ أَنْ يَصُومَ شَعْبَانَ)، أُخِذَ مِنْهُ أَنَّ أَفْضَلَ الصَّوْمِ بَعْدَ رَمَضَانَ شَعْبَانُ
Artinya: “Perkataan: Bulan yang paling dicintai oleh beliau untuk berpuasa adalah bulan Sya’ban dapat dipahami darinya bahwa puasa yang paling utama setelah Ramadhan adalah puasa pada Sya’ban.” (Faid Al-Qadir [Mesir: Al-Maktabah At-Tijariyah Al-Kubra], vol 5, h 84)
Penjelasan demikian semakin diperkuat oleh riwayat Imam Bukhari dan Muslim dari Sayyidah Aisyah RA, yang menyebutkan bahwa Rasulullah SAW tidak pernah memperbanyak puasa sunah dalam satu bulan sebagaimana di bulan Sya’ban, bahkan hampir seluruh bulan tersebut beliau jalani dengan berpuasa.
Kebiasaan ini menegaskan kemuliaan bulan Sya’ban sekaligus menunjukkan fungsinya sebagai masa persiapan spiritual sebelum memasuki Ramadhan.
لَمْ يَكُنْ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَصُومُ شَهْرًا أَكْثَرَ مِنْ شَعْبَانَ، فَإِنَّهُ كَانَ يَصُومُ شَعْبَانَ كُلَّهُ
Artinya: “Nabi SAW tidak pernah berpuasa dalam satu bulan pun lebih banyak daripada puasa beliau di bulan Sya‘ban; bahkan beliau biasa berpuasa hampir seluruh bulan Sya’ban.” (HR Bukhari-Muslim)
2. Memperbanyak membaca Alquran
Selain dikenal sebagai bulan yang dianjurkan untuk melaksanakan puasa sunnah, Sya’ban juga oleh sebagian ulama disebut sebagai bulan Alquran. Membaca Alquran pada dasarnya dianjurkan di setiap waktu, namun pada waktu-waktu yang dimuliakan, seperti Sya’ban, anjuran tersebut semakin ditekankan.
Imam Ibn Rajab Al-Hanbali (wafat 795 H) menjelaskan bahwa banyak ulama salaf memanfaatkan Sya’ban untuk memperbanyak tilawah Alquran.

foto: freepik
Menurut beliau, keteladanan kalangan salaf tersebut menunjukkan bahwa Sya’ban merupakan waktu yang tepat untuk mendekatkan diri kepada Alquran sebagai bentuk persiapan menyambut Ramadhan, bulan diturunkannya Alquran:
وَقَالَ سَلَمَةُ بْنُ كُهَيْلٍ: كَانَ يُقَالُ: شَهْرُ شَعْبَانَ شَهْرُ الْقُرَّاءِ .وَكَانَ حَبِيبُ بْنُ أَبِي ثَابِتٍ إِذَا دَخَلَ شَعْبَانُ قَالَ: هَذَا شَهْرُ الْقُرَّاءِ .وَكَانَ عَمْرُو بْنُ قَيْسٍ الْمَلَّائِيُّ إِذَا دَخَلَ شَعْبَانُ، أَغْلَقَ حَانُوتَهُ، وَتَفَرَّغَ لِقِرَاءَةِ الْقُرْآنِ .قَالَ الْحَسَنُ بْنُ سَهْلٍ: قَالَ شَعْبَانُ: يَا رَبِّ، جَعَلْتَنِي بَيْنَ شَهْرَيْنِ عَظِيمَيْنِ، فَمَا لِي؟ قَالَ: جَعَلْتُ فِيكَ قِرَاءَةَ الْقُرْآنِ
Artinya: “Salamah bin Kuhail berkata: Dahulu dikatakan: bulan Sya’ban adalah bulannya para pembaca Al-Qur’an. Habib bin Abi Tsabit apabila telah masuk bulan Sya’ban, ia berkata: Ini adalah bulan para pembaca Al-Qur’an. ‘Amr bin Qais Al-Mallā’ī apabila telah masuk bulan Sya’ban, ia menutup tokonya dan mengkhususkan dirinya untuk membaca Alquran. Al-Hasan bin Sahl berkata: Sya’ban berkata: Wahai Rabbku, Engkau menempatkanku di antara dua bulan yang agung, lalu apa keistimewaanku? Allah berfirman: Aku menjadikan di dalammu pembacaan Alquran.” (Lathaif Al-Ma’arif [Beirut: Dar Al-Kutub Al-Ilmiyah], h 154)
3. Memperbanyak shalawat kepada Nabi SAW
Amalan penting lainnya yang dianjurkan untuk diperbanyak pada Sya’ban adalah bersholawat kepada Nabi Muhammad SAW. Bulan ini juga dikenal sebagai bulan sholawat, karena menurut para ulama, ayat perintah untuk bershalawat dalam Alquran diturunkan pada Sya’ban, yaitu:
إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا
Artinya: “Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bersholawat untuk Nabi. Wahai orang-orang yang beriman, bersholawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam dengan penuh penghormatan kepadanya.” (QS Al-Ahzab: 56)
Syekh Abdul Hamid Quds Al-Makki menegaskan, Sya’ban merupakan waktu untuk memperbanyak shalawat kepada Nabi SAW. Beliau menganjurkan kaum Muslimin agar senantiasa memperbanyak sholawat di setiap kesempatan, terlebih pada Sya’ban yang dinisbatkan sebagai bulan Nabi SAW.
Dengan memperbanyak shalawat, seorang Muslim dapat meneguhkan kecintaannya kepada Rasulullah SAW sekaligus mengharapkan limpahan rahmat dan syafaat dari beliau:
وَهُوَ شَهْرُ الصَّلَاةِ عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، كَمَا فِي تُحْفَةِ الْإِخْوَانِ؛ فَأَكْثِرُوا مِنَ الصَّلَاةِ عَلَيْهِ أَيُّهَا الْإِخْوَانُ فِي كُلِّ الْأَزْمَانِ، خُصُوصًا فِي شَهْرِ نَبِيِّكُمْ شَعْبَانَ، فِي لَيْلَةِ نِصْفِهِ تُقْسَمُ آجَالُ الْعِبَادِ، وَيُحْكَمُ فِيهَا بِالْقُرْبِ وَالْبُعَادِ
Artinya: “Sya’ban adalah bulan untuk memperbanyak sholawat kepada Nabi SAW, sebagaimana disebutkan dalam kitab Tuhfah Al-Ikhwān. Maka perbanyaklah sholawat kepada beliau, wahai saudara-saudara, di setiap waktu, terlebih lagi pada bulan Nabimu, yaitu bulan Sya’ban. Pada malam pertengahannya (Nisfu Sya’ban) ditetapkan ajal-ajal para hamba, dan diputuskan siapa yang didekatkan (kepada Allah) dan siapa yang dijauhkan.” (Kanzun Najah Wa As-Surur [Beirut: Dar Al-Hawi], h 150)
4. Memperbanyak istighfar
Amalan terakhir yang sangat dianjurkan pada Sya’ban adalah memperbanyak istighfar. Sayyid Muhammad bin Alawi Al-Hasani Al-Maliki (wafat 1425 H) menjelaskan bahwa istighfar merupakan zikir yang paling utama untuk diperbanyak, terutama pada waktu-waktu yang dimuliakan, seperti halnya Sya’ban dan malam Nisfu Sya’ban:
الِاسْتِغْفَارُ مِنْ أَعْظَمِ وَأَوْلَى مَا يَنْبَغِي عَلَى الْمُسْلِمِ الْحَرِيصِ أَنْ يَشْتَغِلَ بِهِ فِي الْأَزْمِنَةِ الْفَاضِلَةِ، الَّتِي مِنْهَا: شَعْبَانُ وَلَيْلَةُ النِّصْفِ
Artinya: “Istighfar termasuk amalan yang paling agung dan paling utama yang semestinya disibukkan oleh seorang Muslim yang bersungguh-sungguh, terutama pada waktu-waktu yang utama, di antaranya Sya’ban dan malam Nishfu Sya’ban.” (Madza fi Sya’ban [Surabaya: Haiah As-Shafwah Al-Malikiyyah], h 57)
Melalui istighfar, seorang hamba memohon ampunan atas segala dosa yang telah diperbuat, sekaligus memohon kepada Allah SWT agar berbagai kesempitan dan kesedihan diangkat darinya.
Istighfar juga menjadi sarana penyucian hati, sehingga seorang Muslim dapat memasuki bulan suci Ramadhan dengan jiwa yang lebih bersih dan kesiapan untuk menerima limpahan rahmat serta ampunan dari Allah SWT.
Dengan demikian, Sya’ban pada hakikatnya merupakan masa persiapan yang sangat bernilai sebelum datangnya Ramadhan. Dengan memperbanyak puasa sunah, membaca Alquran, bershalawat kepada Nabi SAW, serta memperbanyak istighfar, seorang Muslim secara tidak langsung tengah membangun kebiasaan ibadah yang akan sangat bermanfaat saat memasuki bulan suci Ramadhan.
Itulah empat amalan yang dianjurkan untuk dilakukan pada Sya’ban berdasarkan penjelasan para ulama. Semoga kita mampu memanfaatkan Sya’ban ini dengan sebaik-baiknya dan dipertemukan dengan Ramadhan dalam keadaan iman dan amal yang lebih baik dibandingkan sebelumnya. Wallāhu a‘lam bis ṣhawāb.(A Zaeini Misbaahuddin Asyuari, ed: Nashih)