Peringatan HUT RI ke-80, PB Al Washliyah Soroti Korupsi dan Ketidakadilan
Admin
Penulis
JAKARTA, MUI.OR.ID – Korupsi dan ketidakadilan sosial dinilai masih membelenggu bangsa Indonesia meski telah merdeka lebih dari delapan dekade.
Ketua Umum Pengurus Besar Al Jam’iyatul Washliyah, KH Mashuril Khamis, menegaskan bahwa cita-cita luhur para pendiri bangsa akan hampa bila rakyat terus terjerat praktik “maling berdasi”.
“Cita-cita para pejuang negeri ini adalah menjadikan negeri ini bebas dari keterbelakangan, kebodohan, dan penjajahan, baik fisik maupun nonfisik. Mereka rela mati demi kesejahteraan anak-anak dan generasi bangsanya, sehingga disebutlah mereka
sebagai pahlawan,” ujar Kiai Mashuril kepada MUIDigital, Ahad (18/8/2025).
Kiai Mashuril menilai, kesejahteraan rakyat masih jauh dari harapan. Ketimpangan ekonomi tetap nyata, di mana kelompok kaya semakin menguasai sumber daya, sementara masyarakat kecil kesulitan memenuhi kebutuhan hidup.
“Kita sepertinya kurang pandai bersyukur atau kurang pandai berterima kasih, sebab masih saja kita merasakan ketimpangan dan ketidakadilan. Yang kaya semakin kaya, sedangkan yang menderita sulit keluar dari zona penderitaan itu,” ungkapnya.
Menurut Ketua Pusat Dakwah dan Perjuangan Amar Ma’ruf Nahi Munkar (PDPAB) MUI tersebut, salah satu akar persoalan terbesar adalah praktik korupsi yang merajalela. Ia menyebut para koruptor sebagai “maling berdasi” yang merampas hak rakyat dan membuat hasil kemerdekaan tidak dirasakan secara merata.
“Masih banyak pencuri, maling berdasi yang mengorupsi uang negara, uang rakyat. Akibatnya, nikmat kemerdekaan belum dirasakan secara menyeluruh oleh rakyat kita,” tegasnya.
Kiai Mashuril menambahkan, korupsi bukan sekadar pelanggaran hukum, melainkan pengkhianatan terhadap semangat perjuangan bangsa. Karena itu, ia menyerukan agar korupsi dijadikan musuh bersama, setara dengan ancaman narkoba, perjudian, dan penyakit moral lainnya.
Kiai Mashuril menekankan, pemberantasan korupsi tidak bisa hanya dibebankan kepada aparat penegak hukum, tetapi harus melibatkan seluruh lapisan masyarakat.
“Kita harus bersama-sama menggalang kebersamaan agar penyakit korupsi menjadi musuh bersama, seperti kita juga memusuhi perjudian, narkoba, dan penyakit amoral lainnya,” jelasnya.
Kiai Mashuril juga menegaskan pentingnya keteladanan pemerintah. Menurutnya, kepercayaan rakyat hanya tumbuh apabila pemimpin menunjukkan konsistensi antara ucapan dan tindakan.
“Pemerintah harus benar-benar satu kata dengan perbuatan. Bila kita bersama menyejahterakan rakyat dan memberantas korupsi, insya Allah kemerdekaan itu akan terasa bagi rakyat,” tuturnya. (Latifahtul Jannah, ed: Nashih)